alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Sebelum Kemarau, Kedelai Dipanen

Mobile_AP_Rectangle 1

AJUNG, Radar Jember – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Jember memprediksi akhir Mei ini akan menjadi akhir musim penghujan. Para petani kedelai di Dusun Kerajan, Kelurahan/Kecamatan Ajung, mulai melakukan panen raya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari gagal panen pada musim kemarau.

Seperti diketahui, kedelai merupakan salah satu bahan pokok dalam membuat tahu dan tempe. Namun, siapa sangka bahwa dalam bertani kedelai harus dilakukan pada 1 musim saja. Artinya, jika ditanam pada musim hujan dan dipanen pada musim kemarau, justru akan membahayakan kesuburannya, sehingga dapat merusak biji kedelai itu sendiri.

Petani kedelai, Sumiati, mengatakan, bertani kedelai sudah dia lakukan selama berpuluh-puluh tahun. Selain karena biaya dan perawatannya yang cukup mudah, harga jualnya cukup stabil. “Kalau hanya urusan menanam kedelai, saya cukup tahu lah,” jelas Sumiati saat ditemui di ladangnya, kemarin (18/5).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menceritakan, dalam menanam kedelai ini tidak membutuhkan lama. Mulai dari tanam hingga panen hanya membutuhkan waktu 65 hari. “Atau sekitar 2 bulan 5 hari, tapi juga harus dengan perawatannya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Bertani kedelai ini juga tidak mengenal musim, yang penting kondisi air bisa dikontrol. Misalnya, pada musim kemarau biasanya pengairannya menggunakan air dam atau menggunakan pompa air dari sungai, jika pada musim hujan cukup menggunakan air hujan saja. “Panen sekarang ini kita tanam pada pertengahan maret kemarin, kebetulan pada musim hujan,” ujarnya.

Yang terpenting, dalam 1 kali tanam tidak sampai bertemu dengan 2 musim. Misalnya, ditanam pada musim hujan, dan baru dipanen pada musim kemarau. “Nah, ini cukup memengaruhi tingkat kesuburan dan biji kedelainya sendiri,” ungkapnya.

- Advertisement -

AJUNG, Radar Jember – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Jember memprediksi akhir Mei ini akan menjadi akhir musim penghujan. Para petani kedelai di Dusun Kerajan, Kelurahan/Kecamatan Ajung, mulai melakukan panen raya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari gagal panen pada musim kemarau.

Seperti diketahui, kedelai merupakan salah satu bahan pokok dalam membuat tahu dan tempe. Namun, siapa sangka bahwa dalam bertani kedelai harus dilakukan pada 1 musim saja. Artinya, jika ditanam pada musim hujan dan dipanen pada musim kemarau, justru akan membahayakan kesuburannya, sehingga dapat merusak biji kedelai itu sendiri.

Petani kedelai, Sumiati, mengatakan, bertani kedelai sudah dia lakukan selama berpuluh-puluh tahun. Selain karena biaya dan perawatannya yang cukup mudah, harga jualnya cukup stabil. “Kalau hanya urusan menanam kedelai, saya cukup tahu lah,” jelas Sumiati saat ditemui di ladangnya, kemarin (18/5).

Dia menceritakan, dalam menanam kedelai ini tidak membutuhkan lama. Mulai dari tanam hingga panen hanya membutuhkan waktu 65 hari. “Atau sekitar 2 bulan 5 hari, tapi juga harus dengan perawatannya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Bertani kedelai ini juga tidak mengenal musim, yang penting kondisi air bisa dikontrol. Misalnya, pada musim kemarau biasanya pengairannya menggunakan air dam atau menggunakan pompa air dari sungai, jika pada musim hujan cukup menggunakan air hujan saja. “Panen sekarang ini kita tanam pada pertengahan maret kemarin, kebetulan pada musim hujan,” ujarnya.

Yang terpenting, dalam 1 kali tanam tidak sampai bertemu dengan 2 musim. Misalnya, ditanam pada musim hujan, dan baru dipanen pada musim kemarau. “Nah, ini cukup memengaruhi tingkat kesuburan dan biji kedelainya sendiri,” ungkapnya.

AJUNG, Radar Jember – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Jember memprediksi akhir Mei ini akan menjadi akhir musim penghujan. Para petani kedelai di Dusun Kerajan, Kelurahan/Kecamatan Ajung, mulai melakukan panen raya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari gagal panen pada musim kemarau.

Seperti diketahui, kedelai merupakan salah satu bahan pokok dalam membuat tahu dan tempe. Namun, siapa sangka bahwa dalam bertani kedelai harus dilakukan pada 1 musim saja. Artinya, jika ditanam pada musim hujan dan dipanen pada musim kemarau, justru akan membahayakan kesuburannya, sehingga dapat merusak biji kedelai itu sendiri.

Petani kedelai, Sumiati, mengatakan, bertani kedelai sudah dia lakukan selama berpuluh-puluh tahun. Selain karena biaya dan perawatannya yang cukup mudah, harga jualnya cukup stabil. “Kalau hanya urusan menanam kedelai, saya cukup tahu lah,” jelas Sumiati saat ditemui di ladangnya, kemarin (18/5).

Dia menceritakan, dalam menanam kedelai ini tidak membutuhkan lama. Mulai dari tanam hingga panen hanya membutuhkan waktu 65 hari. “Atau sekitar 2 bulan 5 hari, tapi juga harus dengan perawatannya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Bertani kedelai ini juga tidak mengenal musim, yang penting kondisi air bisa dikontrol. Misalnya, pada musim kemarau biasanya pengairannya menggunakan air dam atau menggunakan pompa air dari sungai, jika pada musim hujan cukup menggunakan air hujan saja. “Panen sekarang ini kita tanam pada pertengahan maret kemarin, kebetulan pada musim hujan,” ujarnya.

Yang terpenting, dalam 1 kali tanam tidak sampai bertemu dengan 2 musim. Misalnya, ditanam pada musim hujan, dan baru dipanen pada musim kemarau. “Nah, ini cukup memengaruhi tingkat kesuburan dan biji kedelainya sendiri,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/