alexametrics
30.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Berikut Pengusaha yang Cemas Merugi di Musim Hujan

Keluhan Perajin Batu Gamping di Grenden

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Musim hujan menjadi kendala tersendiri bagi perajin usaha batu gamping di Desa Grenden, Kecamatan Puger Jember. Sebab, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk proses pembakaran. Otomatis, biaya produksi dan pembelian kayu juga membengkak. Kondisi ini membuat mereka khawatir merugi.

Pagi itu, seorang laki-laki tengah memindahkan tumpukan kayu. Ia masukkan kayu-kayu itu ke tungku pembakaran batu gamping. Sebagai buruh bakar tungku batu kapur, rutinitas ini telah ia kerjakan selama bertahun-tahun. Dan selama musim hujan akhir-akhir ini, ia sempat berhenti sementara. Namun, kini dia kembali melakukan aktivitasnya, empat hari belakangan. “Tidak menentu. Kalau pakai kayu dan karet biasanya tetap matang (batu gampingnya, Red),” kata Totok, lelaki 31 tahun tersebut.

Tampaknya, musim hujan benar-benar memberikan dampak bagi pelaku usaha batu kapur skala kecil. Mereka yang memiliki tungku bakar batu gamping ketar-ketir untuk memproduksi. Sebab, proses pengolahan bisa lebih lama. Akibatnya, ongkos produksi dan dana kayu juga lebih banyak. Di sisi lain, harga jualnya tetap sama dengan musim kemarau. Inilah yang menjadi dilema para pemilik tungku batu kapur di Desa Grenden. “Harganya tetap sama. Padahal masaknya (proses pembakaran, Red) bisa 10 hari,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Totok menjelaskan, dalam sekali masak, satu tungku bisa memproses hingga 30 ton batu gamping. Jumlah itu setara dengan delapan truk. Bahan bakarnya tak melulu kayu. Ia juga menggunakan karet untuk mengawetkan proses pembakaran yang dilakukan. Sebab, jika mengandalkan kayu, apalagi kayunya sudah terkena air, apinya sulit membara. “Kalau kayu saja sulit. Pakai karet juga,” tuturnya.

Sejatinya, kendala bisnis batu gamping selama musim hujan bukan hal baru. Itu menjadi siklus tahunan. Namun, di tahun ini musim hujan tidak bisa diprediksi. Intensitasnya lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Karenanya, Totok mengeluhkan hal tersebut. Kondisi ini pula yang menyebabkan beberapa pengusaha batu gamping gulung tikar. Utamanya di kawasan Dusun Sadengan. “Kalau harganya ngepok terus, ya tutup pawone,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Musim hujan menjadi kendala tersendiri bagi perajin usaha batu gamping di Desa Grenden, Kecamatan Puger Jember. Sebab, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk proses pembakaran. Otomatis, biaya produksi dan pembelian kayu juga membengkak. Kondisi ini membuat mereka khawatir merugi.

Pagi itu, seorang laki-laki tengah memindahkan tumpukan kayu. Ia masukkan kayu-kayu itu ke tungku pembakaran batu gamping. Sebagai buruh bakar tungku batu kapur, rutinitas ini telah ia kerjakan selama bertahun-tahun. Dan selama musim hujan akhir-akhir ini, ia sempat berhenti sementara. Namun, kini dia kembali melakukan aktivitasnya, empat hari belakangan. “Tidak menentu. Kalau pakai kayu dan karet biasanya tetap matang (batu gampingnya, Red),” kata Totok, lelaki 31 tahun tersebut.

Tampaknya, musim hujan benar-benar memberikan dampak bagi pelaku usaha batu kapur skala kecil. Mereka yang memiliki tungku bakar batu gamping ketar-ketir untuk memproduksi. Sebab, proses pengolahan bisa lebih lama. Akibatnya, ongkos produksi dan dana kayu juga lebih banyak. Di sisi lain, harga jualnya tetap sama dengan musim kemarau. Inilah yang menjadi dilema para pemilik tungku batu kapur di Desa Grenden. “Harganya tetap sama. Padahal masaknya (proses pembakaran, Red) bisa 10 hari,” imbuhnya.

Totok menjelaskan, dalam sekali masak, satu tungku bisa memproses hingga 30 ton batu gamping. Jumlah itu setara dengan delapan truk. Bahan bakarnya tak melulu kayu. Ia juga menggunakan karet untuk mengawetkan proses pembakaran yang dilakukan. Sebab, jika mengandalkan kayu, apalagi kayunya sudah terkena air, apinya sulit membara. “Kalau kayu saja sulit. Pakai karet juga,” tuturnya.

Sejatinya, kendala bisnis batu gamping selama musim hujan bukan hal baru. Itu menjadi siklus tahunan. Namun, di tahun ini musim hujan tidak bisa diprediksi. Intensitasnya lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Karenanya, Totok mengeluhkan hal tersebut. Kondisi ini pula yang menyebabkan beberapa pengusaha batu gamping gulung tikar. Utamanya di kawasan Dusun Sadengan. “Kalau harganya ngepok terus, ya tutup pawone,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Musim hujan menjadi kendala tersendiri bagi perajin usaha batu gamping di Desa Grenden, Kecamatan Puger Jember. Sebab, mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk proses pembakaran. Otomatis, biaya produksi dan pembelian kayu juga membengkak. Kondisi ini membuat mereka khawatir merugi.

Pagi itu, seorang laki-laki tengah memindahkan tumpukan kayu. Ia masukkan kayu-kayu itu ke tungku pembakaran batu gamping. Sebagai buruh bakar tungku batu kapur, rutinitas ini telah ia kerjakan selama bertahun-tahun. Dan selama musim hujan akhir-akhir ini, ia sempat berhenti sementara. Namun, kini dia kembali melakukan aktivitasnya, empat hari belakangan. “Tidak menentu. Kalau pakai kayu dan karet biasanya tetap matang (batu gampingnya, Red),” kata Totok, lelaki 31 tahun tersebut.

Tampaknya, musim hujan benar-benar memberikan dampak bagi pelaku usaha batu kapur skala kecil. Mereka yang memiliki tungku bakar batu gamping ketar-ketir untuk memproduksi. Sebab, proses pengolahan bisa lebih lama. Akibatnya, ongkos produksi dan dana kayu juga lebih banyak. Di sisi lain, harga jualnya tetap sama dengan musim kemarau. Inilah yang menjadi dilema para pemilik tungku batu kapur di Desa Grenden. “Harganya tetap sama. Padahal masaknya (proses pembakaran, Red) bisa 10 hari,” imbuhnya.

Totok menjelaskan, dalam sekali masak, satu tungku bisa memproses hingga 30 ton batu gamping. Jumlah itu setara dengan delapan truk. Bahan bakarnya tak melulu kayu. Ia juga menggunakan karet untuk mengawetkan proses pembakaran yang dilakukan. Sebab, jika mengandalkan kayu, apalagi kayunya sudah terkena air, apinya sulit membara. “Kalau kayu saja sulit. Pakai karet juga,” tuturnya.

Sejatinya, kendala bisnis batu gamping selama musim hujan bukan hal baru. Itu menjadi siklus tahunan. Namun, di tahun ini musim hujan tidak bisa diprediksi. Intensitasnya lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Karenanya, Totok mengeluhkan hal tersebut. Kondisi ini pula yang menyebabkan beberapa pengusaha batu gamping gulung tikar. Utamanya di kawasan Dusun Sadengan. “Kalau harganya ngepok terus, ya tutup pawone,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/