alexametrics
23.6 C
Jember
Wednesday, 1 December 2021

Pendataan UMKM Perlu Ditingkatkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Adanya pandemi cukup berpengaruh pada perkembangan UMKM di Jember. Namun, tidak sedikit UMKM baru yang muncul di masa yang kurang menguntungkan ini. Salah satunya adalah di sektor bisnis kuliner.

Ketua International Council for Small Business (ICSB) Jember Wildah Cahyadi menjelaskan, terdapat fenomena pebisnis UMKM yang usahanya mengalami gulung tikar akan banting setir untuk memproduksi produk baru yang dipasarkan di masa pandemi. UMKM banting setir inilah yang mengalami peningkatan jumlah.

Ia mencontohkan, banyaknya usahawan saat ini yang mendadak berbisnis makanan, di mana sebelumnya telah berbisnis kerajinan. “Sebetulnya, yang terdampak pandemi ini sebagian besar yang mengandalkan keramaian,” kata Wildah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selama ini, lanjut dia, jumlah UMKM di Jember cukup banyak. Namun, kondisi pasarnya tidak terlalu bagus. Pun halnya dengan mental pelaku UMKM di Jember yang sifatnya mudah berubah- ubah. Para pelaku UMKM terus mencoba hal baru dan memproduksinya. Sehingga konsistensi untuk mempertahankan produknya cukup minim. “Sistemnya mencoba hal baru terus. Kalau sudah selesai, tidak produksi lagi. Tetapi, ganti yang baru,” tambahnya.

Menurut dia, selama ini para pelaku UMKM mudah tergiur dengan program dinas terkait untuk pelatihan pembuatan produk baru. Menurut dia, program yang paling penting untuk menunjang keberlangsungan UMKM adalah program yang sifatnya berkelanjutan. “Apa pun programnya, yang penting berkesinambungan pelaksanaannya. Setelah pelatihan atau program produksi, setelahnya apa,” lanjutnya.

Dengan demikian, Dinas Koperasi dan UMKM selayaknya mengetahui secara detail mengenai jumlah UMKM yang ada. Sehingga dapat memetakan pelatihan jenis apa saja yang harus dilakukan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Adanya pandemi cukup berpengaruh pada perkembangan UMKM di Jember. Namun, tidak sedikit UMKM baru yang muncul di masa yang kurang menguntungkan ini. Salah satunya adalah di sektor bisnis kuliner.

Ketua International Council for Small Business (ICSB) Jember Wildah Cahyadi menjelaskan, terdapat fenomena pebisnis UMKM yang usahanya mengalami gulung tikar akan banting setir untuk memproduksi produk baru yang dipasarkan di masa pandemi. UMKM banting setir inilah yang mengalami peningkatan jumlah.

Ia mencontohkan, banyaknya usahawan saat ini yang mendadak berbisnis makanan, di mana sebelumnya telah berbisnis kerajinan. “Sebetulnya, yang terdampak pandemi ini sebagian besar yang mengandalkan keramaian,” kata Wildah.

Selama ini, lanjut dia, jumlah UMKM di Jember cukup banyak. Namun, kondisi pasarnya tidak terlalu bagus. Pun halnya dengan mental pelaku UMKM di Jember yang sifatnya mudah berubah- ubah. Para pelaku UMKM terus mencoba hal baru dan memproduksinya. Sehingga konsistensi untuk mempertahankan produknya cukup minim. “Sistemnya mencoba hal baru terus. Kalau sudah selesai, tidak produksi lagi. Tetapi, ganti yang baru,” tambahnya.

Menurut dia, selama ini para pelaku UMKM mudah tergiur dengan program dinas terkait untuk pelatihan pembuatan produk baru. Menurut dia, program yang paling penting untuk menunjang keberlangsungan UMKM adalah program yang sifatnya berkelanjutan. “Apa pun programnya, yang penting berkesinambungan pelaksanaannya. Setelah pelatihan atau program produksi, setelahnya apa,” lanjutnya.

Dengan demikian, Dinas Koperasi dan UMKM selayaknya mengetahui secara detail mengenai jumlah UMKM yang ada. Sehingga dapat memetakan pelatihan jenis apa saja yang harus dilakukan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Adanya pandemi cukup berpengaruh pada perkembangan UMKM di Jember. Namun, tidak sedikit UMKM baru yang muncul di masa yang kurang menguntungkan ini. Salah satunya adalah di sektor bisnis kuliner.

Ketua International Council for Small Business (ICSB) Jember Wildah Cahyadi menjelaskan, terdapat fenomena pebisnis UMKM yang usahanya mengalami gulung tikar akan banting setir untuk memproduksi produk baru yang dipasarkan di masa pandemi. UMKM banting setir inilah yang mengalami peningkatan jumlah.

Ia mencontohkan, banyaknya usahawan saat ini yang mendadak berbisnis makanan, di mana sebelumnya telah berbisnis kerajinan. “Sebetulnya, yang terdampak pandemi ini sebagian besar yang mengandalkan keramaian,” kata Wildah.

Selama ini, lanjut dia, jumlah UMKM di Jember cukup banyak. Namun, kondisi pasarnya tidak terlalu bagus. Pun halnya dengan mental pelaku UMKM di Jember yang sifatnya mudah berubah- ubah. Para pelaku UMKM terus mencoba hal baru dan memproduksinya. Sehingga konsistensi untuk mempertahankan produknya cukup minim. “Sistemnya mencoba hal baru terus. Kalau sudah selesai, tidak produksi lagi. Tetapi, ganti yang baru,” tambahnya.

Menurut dia, selama ini para pelaku UMKM mudah tergiur dengan program dinas terkait untuk pelatihan pembuatan produk baru. Menurut dia, program yang paling penting untuk menunjang keberlangsungan UMKM adalah program yang sifatnya berkelanjutan. “Apa pun programnya, yang penting berkesinambungan pelaksanaannya. Setelah pelatihan atau program produksi, setelahnya apa,” lanjutnya.

Dengan demikian, Dinas Koperasi dan UMKM selayaknya mengetahui secara detail mengenai jumlah UMKM yang ada. Sehingga dapat memetakan pelatihan jenis apa saja yang harus dilakukan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca