alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Satu Jam Cuma Satu Penumpang Imbas Kalah Saing 

Mobile_AP_Rectangle 1

NGANJUK,RADARJEMBER.ID- Sopir mobil penumpang umum (MPU) di Kota Angin, Nganjuk resah. Dikarenakan penumpang MPU dari hari ke hari semakin berkurang. MPU tidak pernah membawa penumpang penuh setiap kali jalan.

BACA JUGA; Waspada! Mata-mata di kantong Kita 

Bahkan, saat wartawan mencoba naik MPU dari Terminal MPU Nganjuk, terlihat jelas wajah sedih sopir MPU akibat menunggu calon penumpang. Sekitar satu jam ngetem, MPU jurusan Nganjuk-Sawahan cuma mendapatkan satu penumpang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena hanya satu penumpang, Jaelani, 60, sopir MPU mencoba bertahan. Namun, saat MPU dengan jurusan sama datang, Jaelani terpaksa meninggalkan terminal dan berangkat ke Sawahan dengan satu penumpang.

Di sepanjang perjalanan, Jaelani berusaha menarik calon penumpang. Setiap ada orang di tepi jalan, Jaelani akan memperlambat laju MPU warna kuning miliknya. “Sawahan… Sawahan.. Mbak Sawahan,” teriak Jaelani sambil menunjuk arah Kecamatan Sawahan memakai jari.

Usaha Jaelani juga tidak membuahkan hasil memuaskan. Dia hanya mendapat empat penumpang hingga ke Pasar Berbek. Padahal, dia sudah melaju sekitar 12 kilometer. Di sana, Jaelani kembali ngetem.

Ia berharap, ada warga Kecamatan Sawahan berbelanja di Pasar Berbek pulang naik MPU. Ini berbeda 180 derajat di tahun 1990-an. Saat itu, penumpang MPU banyak. Mulai dari pelajar, pekerja hingga emak-emak berbelanja di pasar.

Sehingga, MPU selalu penuh. Mulai dari Terminal MPU Nganjuk hingga Kecamatan Sawahan, penumpang selalu penuh. Mereka rela berdesak-desakan. Bahkan, tak jarang, penumpang harus rela nggandol di pintu agar tetap bisa naik.

- Advertisement -

NGANJUK,RADARJEMBER.ID- Sopir mobil penumpang umum (MPU) di Kota Angin, Nganjuk resah. Dikarenakan penumpang MPU dari hari ke hari semakin berkurang. MPU tidak pernah membawa penumpang penuh setiap kali jalan.

BACA JUGA; Waspada! Mata-mata di kantong Kita 

Bahkan, saat wartawan mencoba naik MPU dari Terminal MPU Nganjuk, terlihat jelas wajah sedih sopir MPU akibat menunggu calon penumpang. Sekitar satu jam ngetem, MPU jurusan Nganjuk-Sawahan cuma mendapatkan satu penumpang.

Karena hanya satu penumpang, Jaelani, 60, sopir MPU mencoba bertahan. Namun, saat MPU dengan jurusan sama datang, Jaelani terpaksa meninggalkan terminal dan berangkat ke Sawahan dengan satu penumpang.

Di sepanjang perjalanan, Jaelani berusaha menarik calon penumpang. Setiap ada orang di tepi jalan, Jaelani akan memperlambat laju MPU warna kuning miliknya. “Sawahan… Sawahan.. Mbak Sawahan,” teriak Jaelani sambil menunjuk arah Kecamatan Sawahan memakai jari.

Usaha Jaelani juga tidak membuahkan hasil memuaskan. Dia hanya mendapat empat penumpang hingga ke Pasar Berbek. Padahal, dia sudah melaju sekitar 12 kilometer. Di sana, Jaelani kembali ngetem.

Ia berharap, ada warga Kecamatan Sawahan berbelanja di Pasar Berbek pulang naik MPU. Ini berbeda 180 derajat di tahun 1990-an. Saat itu, penumpang MPU banyak. Mulai dari pelajar, pekerja hingga emak-emak berbelanja di pasar.

Sehingga, MPU selalu penuh. Mulai dari Terminal MPU Nganjuk hingga Kecamatan Sawahan, penumpang selalu penuh. Mereka rela berdesak-desakan. Bahkan, tak jarang, penumpang harus rela nggandol di pintu agar tetap bisa naik.

NGANJUK,RADARJEMBER.ID- Sopir mobil penumpang umum (MPU) di Kota Angin, Nganjuk resah. Dikarenakan penumpang MPU dari hari ke hari semakin berkurang. MPU tidak pernah membawa penumpang penuh setiap kali jalan.

BACA JUGA; Waspada! Mata-mata di kantong Kita 

Bahkan, saat wartawan mencoba naik MPU dari Terminal MPU Nganjuk, terlihat jelas wajah sedih sopir MPU akibat menunggu calon penumpang. Sekitar satu jam ngetem, MPU jurusan Nganjuk-Sawahan cuma mendapatkan satu penumpang.

Karena hanya satu penumpang, Jaelani, 60, sopir MPU mencoba bertahan. Namun, saat MPU dengan jurusan sama datang, Jaelani terpaksa meninggalkan terminal dan berangkat ke Sawahan dengan satu penumpang.

Di sepanjang perjalanan, Jaelani berusaha menarik calon penumpang. Setiap ada orang di tepi jalan, Jaelani akan memperlambat laju MPU warna kuning miliknya. “Sawahan… Sawahan.. Mbak Sawahan,” teriak Jaelani sambil menunjuk arah Kecamatan Sawahan memakai jari.

Usaha Jaelani juga tidak membuahkan hasil memuaskan. Dia hanya mendapat empat penumpang hingga ke Pasar Berbek. Padahal, dia sudah melaju sekitar 12 kilometer. Di sana, Jaelani kembali ngetem.

Ia berharap, ada warga Kecamatan Sawahan berbelanja di Pasar Berbek pulang naik MPU. Ini berbeda 180 derajat di tahun 1990-an. Saat itu, penumpang MPU banyak. Mulai dari pelajar, pekerja hingga emak-emak berbelanja di pasar.

Sehingga, MPU selalu penuh. Mulai dari Terminal MPU Nganjuk hingga Kecamatan Sawahan, penumpang selalu penuh. Mereka rela berdesak-desakan. Bahkan, tak jarang, penumpang harus rela nggandol di pintu agar tetap bisa naik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/