alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Produk Purna-Migran Rambah Pasar Digital

Bekerja Sama dengan Platform Ecommerce

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi tidak hanya berdampak terhadap siklus migrasi tenaga kerja, tapi juga tantangan pengembangan ekonomi komunitas perempuan mantan pekerja migran Indonesia (PMI). Inilah yang dialami oleh mereka yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi). Mau tidak mau, mereka harus beradaptasi dengan teknologi dampak terbatasnya aktivitas tatap muka selama pandemi.

Project Officer Migrant CARE Jember Bambang Teguh Karyanto mengungkapkan, hingga saat ini terdapat 500 anggota Desbumi di Jember. “Tidak ada penambahan selama pandemi. Sampai sekarang ada sekitar 500 anggota,” katanya, kemarin (19/4).

Di Jember, setidaknya ada empat Desbumi di bawah binaan Migrant CARE. Yakni Desa Wonoasri Kecamatan Tempurejo, Desa Sabrang dan Desa Ambulu di Kecamatan Ambulu, sera Desa Dukuhdempok di Kecamatan Wuluhan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Bambang, selama pandemi, komunitas Desbumi telah menunjukan eksistensinya dengan beradaptasi pada pasar. Mereka yang awalnya memproduksi masker, alat pelindung diri (APD), serta ragam jamu tradisional yang dipasarkan secara konvensional, kini telah merambah ke pasar digital.

Jumiatun, mantan pekerja migran yang kini aktif sebagai Ketua Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Desbumi Dukuhdempok di Kecamatan Wuluhan, mengakui, selama masa pandemi kegiatan mereka tidak pernah berhenti. Namun, setiap kegiatan harus ada penyesuaian dengan protokol kesehatan. Di sisi lain, mereka juga harus belajar tentang strategi penjualan di pasar digital. “Bagi kami ini tantangan. Alhamdulillah, teman-teman kompak dan mau belajar,” ujar mantan PMI di Hongkong tersebut.

Bambang menambahkan, selain adaptasi dari segi usaha, eksistensi Desbumi juga disumbang oleh beragam komunitas. Mereka turut andil berkontribusi pada masyarakat dengan membagikan masker kepada warga dan menyumbangkan APD kepada petugas kesehatan di daerahnya.

Ke depan, Bambang menuturkan, program yang diolah Desbumi ini harus ada peningkatan skill tentang penguasaan pasar digital. Beberapa upaya yang sudah dilakukan adalah berkolaborasi dengan berbagai platform ecommerce. Langkah ini disebutnya penting, karena dalam catatan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop), hanya UMKM yang terkoneksi ke platform digital yang dapat bertahan di masa pandemi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi tidak hanya berdampak terhadap siklus migrasi tenaga kerja, tapi juga tantangan pengembangan ekonomi komunitas perempuan mantan pekerja migran Indonesia (PMI). Inilah yang dialami oleh mereka yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi). Mau tidak mau, mereka harus beradaptasi dengan teknologi dampak terbatasnya aktivitas tatap muka selama pandemi.

Project Officer Migrant CARE Jember Bambang Teguh Karyanto mengungkapkan, hingga saat ini terdapat 500 anggota Desbumi di Jember. “Tidak ada penambahan selama pandemi. Sampai sekarang ada sekitar 500 anggota,” katanya, kemarin (19/4).

Di Jember, setidaknya ada empat Desbumi di bawah binaan Migrant CARE. Yakni Desa Wonoasri Kecamatan Tempurejo, Desa Sabrang dan Desa Ambulu di Kecamatan Ambulu, sera Desa Dukuhdempok di Kecamatan Wuluhan.

Menurut Bambang, selama pandemi, komunitas Desbumi telah menunjukan eksistensinya dengan beradaptasi pada pasar. Mereka yang awalnya memproduksi masker, alat pelindung diri (APD), serta ragam jamu tradisional yang dipasarkan secara konvensional, kini telah merambah ke pasar digital.

Jumiatun, mantan pekerja migran yang kini aktif sebagai Ketua Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Desbumi Dukuhdempok di Kecamatan Wuluhan, mengakui, selama masa pandemi kegiatan mereka tidak pernah berhenti. Namun, setiap kegiatan harus ada penyesuaian dengan protokol kesehatan. Di sisi lain, mereka juga harus belajar tentang strategi penjualan di pasar digital. “Bagi kami ini tantangan. Alhamdulillah, teman-teman kompak dan mau belajar,” ujar mantan PMI di Hongkong tersebut.

Bambang menambahkan, selain adaptasi dari segi usaha, eksistensi Desbumi juga disumbang oleh beragam komunitas. Mereka turut andil berkontribusi pada masyarakat dengan membagikan masker kepada warga dan menyumbangkan APD kepada petugas kesehatan di daerahnya.

Ke depan, Bambang menuturkan, program yang diolah Desbumi ini harus ada peningkatan skill tentang penguasaan pasar digital. Beberapa upaya yang sudah dilakukan adalah berkolaborasi dengan berbagai platform ecommerce. Langkah ini disebutnya penting, karena dalam catatan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop), hanya UMKM yang terkoneksi ke platform digital yang dapat bertahan di masa pandemi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi tidak hanya berdampak terhadap siklus migrasi tenaga kerja, tapi juga tantangan pengembangan ekonomi komunitas perempuan mantan pekerja migran Indonesia (PMI). Inilah yang dialami oleh mereka yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi). Mau tidak mau, mereka harus beradaptasi dengan teknologi dampak terbatasnya aktivitas tatap muka selama pandemi.

Project Officer Migrant CARE Jember Bambang Teguh Karyanto mengungkapkan, hingga saat ini terdapat 500 anggota Desbumi di Jember. “Tidak ada penambahan selama pandemi. Sampai sekarang ada sekitar 500 anggota,” katanya, kemarin (19/4).

Di Jember, setidaknya ada empat Desbumi di bawah binaan Migrant CARE. Yakni Desa Wonoasri Kecamatan Tempurejo, Desa Sabrang dan Desa Ambulu di Kecamatan Ambulu, sera Desa Dukuhdempok di Kecamatan Wuluhan.

Menurut Bambang, selama pandemi, komunitas Desbumi telah menunjukan eksistensinya dengan beradaptasi pada pasar. Mereka yang awalnya memproduksi masker, alat pelindung diri (APD), serta ragam jamu tradisional yang dipasarkan secara konvensional, kini telah merambah ke pasar digital.

Jumiatun, mantan pekerja migran yang kini aktif sebagai Ketua Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Desbumi Dukuhdempok di Kecamatan Wuluhan, mengakui, selama masa pandemi kegiatan mereka tidak pernah berhenti. Namun, setiap kegiatan harus ada penyesuaian dengan protokol kesehatan. Di sisi lain, mereka juga harus belajar tentang strategi penjualan di pasar digital. “Bagi kami ini tantangan. Alhamdulillah, teman-teman kompak dan mau belajar,” ujar mantan PMI di Hongkong tersebut.

Bambang menambahkan, selain adaptasi dari segi usaha, eksistensi Desbumi juga disumbang oleh beragam komunitas. Mereka turut andil berkontribusi pada masyarakat dengan membagikan masker kepada warga dan menyumbangkan APD kepada petugas kesehatan di daerahnya.

Ke depan, Bambang menuturkan, program yang diolah Desbumi ini harus ada peningkatan skill tentang penguasaan pasar digital. Beberapa upaya yang sudah dilakukan adalah berkolaborasi dengan berbagai platform ecommerce. Langkah ini disebutnya penting, karena dalam catatan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop), hanya UMKM yang terkoneksi ke platform digital yang dapat bertahan di masa pandemi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/