alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Sasar Konsumen Perdesaan

Pemasaran Kopi di Masa Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi tak pelak membuat sejumlah kedai kopi di Jember mengalami penurunan signifikan. Rasa pahit kopi seakan dikalahkan oleh pahitnya fakta bahwa pemasaran produk kopi anjlok. Namun, kini para pebisnis kopi mulai menemukan alternatif lain untuk memasarkan produk mereka.

Rijal Akhwan, salah satu pemilik kedai kopi di Jalan Jayanegara, Kecamatan Kaliwates, mengaku kedai kopinya sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung saat awal pandemi korona merebak. “Kalau sekarang sudah mulai naik lagi pengunjungnya, ketimbang awal pandemi,” kata Rijal, Jumat (19/2).

Kendati kedai kopi milik Rijal sudah berangsur dipadati pelanggan. Namun, dia masih belum berani untuk memesan kopi dengan jumlah banyak karena khawatir tidak laku. Normalnya, sebelum pandemi, dalam satu bulan Rijal bisa membeli kopi hingga sekitar 24 kilogram. Namun, kini dirinya membeli kopi sekitar 10 kilogram untuk satu bulan. “Dulu 10 kilogram itu nggak mesti habis. Tapi kemarin Januari habis,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keterpurukan pebisnis kopi saat pandemi juga dirasakan Irham Bashori Hasbah yang berjualan kopi bubuk. Selama ini Irham mampu menjual 1,5 hingga 2 kuintal dalam satu bulan, dengan harga separuh dari harga normal di masa sebelum pandemi. Padahal sebelum pandemi, Irham hanya mampu menjual kopi mencapai satu kuintal per bulan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi tak pelak membuat sejumlah kedai kopi di Jember mengalami penurunan signifikan. Rasa pahit kopi seakan dikalahkan oleh pahitnya fakta bahwa pemasaran produk kopi anjlok. Namun, kini para pebisnis kopi mulai menemukan alternatif lain untuk memasarkan produk mereka.

Rijal Akhwan, salah satu pemilik kedai kopi di Jalan Jayanegara, Kecamatan Kaliwates, mengaku kedai kopinya sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung saat awal pandemi korona merebak. “Kalau sekarang sudah mulai naik lagi pengunjungnya, ketimbang awal pandemi,” kata Rijal, Jumat (19/2).

Kendati kedai kopi milik Rijal sudah berangsur dipadati pelanggan. Namun, dia masih belum berani untuk memesan kopi dengan jumlah banyak karena khawatir tidak laku. Normalnya, sebelum pandemi, dalam satu bulan Rijal bisa membeli kopi hingga sekitar 24 kilogram. Namun, kini dirinya membeli kopi sekitar 10 kilogram untuk satu bulan. “Dulu 10 kilogram itu nggak mesti habis. Tapi kemarin Januari habis,” lanjutnya.

Keterpurukan pebisnis kopi saat pandemi juga dirasakan Irham Bashori Hasbah yang berjualan kopi bubuk. Selama ini Irham mampu menjual 1,5 hingga 2 kuintal dalam satu bulan, dengan harga separuh dari harga normal di masa sebelum pandemi. Padahal sebelum pandemi, Irham hanya mampu menjual kopi mencapai satu kuintal per bulan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa pandemi tak pelak membuat sejumlah kedai kopi di Jember mengalami penurunan signifikan. Rasa pahit kopi seakan dikalahkan oleh pahitnya fakta bahwa pemasaran produk kopi anjlok. Namun, kini para pebisnis kopi mulai menemukan alternatif lain untuk memasarkan produk mereka.

Rijal Akhwan, salah satu pemilik kedai kopi di Jalan Jayanegara, Kecamatan Kaliwates, mengaku kedai kopinya sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung saat awal pandemi korona merebak. “Kalau sekarang sudah mulai naik lagi pengunjungnya, ketimbang awal pandemi,” kata Rijal, Jumat (19/2).

Kendati kedai kopi milik Rijal sudah berangsur dipadati pelanggan. Namun, dia masih belum berani untuk memesan kopi dengan jumlah banyak karena khawatir tidak laku. Normalnya, sebelum pandemi, dalam satu bulan Rijal bisa membeli kopi hingga sekitar 24 kilogram. Namun, kini dirinya membeli kopi sekitar 10 kilogram untuk satu bulan. “Dulu 10 kilogram itu nggak mesti habis. Tapi kemarin Januari habis,” lanjutnya.

Keterpurukan pebisnis kopi saat pandemi juga dirasakan Irham Bashori Hasbah yang berjualan kopi bubuk. Selama ini Irham mampu menjual 1,5 hingga 2 kuintal dalam satu bulan, dengan harga separuh dari harga normal di masa sebelum pandemi. Padahal sebelum pandemi, Irham hanya mampu menjual kopi mencapai satu kuintal per bulan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/