alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Hanya di Sukorambi, Sayuran Bisa Jadi Permen

Olah Sawi Jadi Permen

Mobile_AP_Rectangle 1

SUKORAMBI, RADARJEMBER.ID –SELAMA ini, orang hanya memanfaatkan sawi sebagai sayuran. Namun, di tangan Dewi Isnaeni, sayuran tersebut diolah menjadi permen. Inovasi ini dia lakukan untuk mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kampungnya, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sukorambi.

Ibu dua anak ini mengaku, kali pertama dikenalkan memang terkesan aneh. Sebab, masyarakat baru tahu kali ini kalau ada sawi dibuat manisan. “Sawi ini merupakan hasil pertanian lokal dan dibeli dari petani. Sedangkan permen ini merupakan kreasi sendiri karena sawi selama ini cuma disajikan sebagai menu hidangan,” tutur istri Suhardi tersebut.

Menurut dia, proses pembuatan permen sawi cukup gampang. Setelah dicuci, sawi kemudian direbus dan dikeringkan. Lalu, diberi tambahan gula pasir. Agar produk itu tampil menarik, maka Dewi mengemas permen itu dalam toples plastik. Permen berlabel Sayur Sukorambi Jember (Sasuje) itu kini mulai dikenal orang karena memiliki rasa khas dan bergizi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Permen sawi ini telah merambah ke berbagai daerah. Selama pandemi Covid-19, pemasaran dilakukan melalui daring. Produk UMKM ini juga pernah mengikuti berbagai pameran tingkat nasional. Seperti Jakarta dan Bali,” ungkapnya.

Wanita kelahiran Probolinggo tersebut menambahkan, permen itu diproduksi tanpa menggunakan zat pewarna dan bahan pengawet. Karena itu, cukup digemari oleh konsumen. Imbasnya, kini produksi permen itu mulai meningkat.

- Advertisement -

SUKORAMBI, RADARJEMBER.ID –SELAMA ini, orang hanya memanfaatkan sawi sebagai sayuran. Namun, di tangan Dewi Isnaeni, sayuran tersebut diolah menjadi permen. Inovasi ini dia lakukan untuk mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kampungnya, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sukorambi.

Ibu dua anak ini mengaku, kali pertama dikenalkan memang terkesan aneh. Sebab, masyarakat baru tahu kali ini kalau ada sawi dibuat manisan. “Sawi ini merupakan hasil pertanian lokal dan dibeli dari petani. Sedangkan permen ini merupakan kreasi sendiri karena sawi selama ini cuma disajikan sebagai menu hidangan,” tutur istri Suhardi tersebut.

Menurut dia, proses pembuatan permen sawi cukup gampang. Setelah dicuci, sawi kemudian direbus dan dikeringkan. Lalu, diberi tambahan gula pasir. Agar produk itu tampil menarik, maka Dewi mengemas permen itu dalam toples plastik. Permen berlabel Sayur Sukorambi Jember (Sasuje) itu kini mulai dikenal orang karena memiliki rasa khas dan bergizi.

“Permen sawi ini telah merambah ke berbagai daerah. Selama pandemi Covid-19, pemasaran dilakukan melalui daring. Produk UMKM ini juga pernah mengikuti berbagai pameran tingkat nasional. Seperti Jakarta dan Bali,” ungkapnya.

Wanita kelahiran Probolinggo tersebut menambahkan, permen itu diproduksi tanpa menggunakan zat pewarna dan bahan pengawet. Karena itu, cukup digemari oleh konsumen. Imbasnya, kini produksi permen itu mulai meningkat.

SUKORAMBI, RADARJEMBER.ID –SELAMA ini, orang hanya memanfaatkan sawi sebagai sayuran. Namun, di tangan Dewi Isnaeni, sayuran tersebut diolah menjadi permen. Inovasi ini dia lakukan untuk mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kampungnya, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sukorambi.

Ibu dua anak ini mengaku, kali pertama dikenalkan memang terkesan aneh. Sebab, masyarakat baru tahu kali ini kalau ada sawi dibuat manisan. “Sawi ini merupakan hasil pertanian lokal dan dibeli dari petani. Sedangkan permen ini merupakan kreasi sendiri karena sawi selama ini cuma disajikan sebagai menu hidangan,” tutur istri Suhardi tersebut.

Menurut dia, proses pembuatan permen sawi cukup gampang. Setelah dicuci, sawi kemudian direbus dan dikeringkan. Lalu, diberi tambahan gula pasir. Agar produk itu tampil menarik, maka Dewi mengemas permen itu dalam toples plastik. Permen berlabel Sayur Sukorambi Jember (Sasuje) itu kini mulai dikenal orang karena memiliki rasa khas dan bergizi.

“Permen sawi ini telah merambah ke berbagai daerah. Selama pandemi Covid-19, pemasaran dilakukan melalui daring. Produk UMKM ini juga pernah mengikuti berbagai pameran tingkat nasional. Seperti Jakarta dan Bali,” ungkapnya.

Wanita kelahiran Probolinggo tersebut menambahkan, permen itu diproduksi tanpa menggunakan zat pewarna dan bahan pengawet. Karena itu, cukup digemari oleh konsumen. Imbasnya, kini produksi permen itu mulai meningkat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/