alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Musim Hujan Bikin Produksi Lambat

Pengusaha Kerupuk Kewalahan Penuhi Permintaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Musim hujan jadi berkah tersendiri bagi para pengusaha kerupuk. Permintaan akan kerupuk matang atau siap saji semakin meningkat. Pasar dan warung makan cenderung menaikkan jumlah pesanannya. Sayangnya, tingginya permintaan akan kerupuk tidak dibarengi dengan tingginya jumlah produksi kerupuk.

Proses produksi kerupuk melambat, sebab industri rumahan kerupuk masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan adonan kerupuk. Imbasnya, produksi kerupuk setiap harinya terpaksa dikurangi. Jika tidak, penjemurannya akan menumpuk.

Salah satu pembuat kerupuk, Sutrisno, mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir ini dia mengurangi jumlah produksinya. Jika biasanya dia memproduksi enam kuintal tiap harinya, kini hanya bisa memproduksi tiga kuintal. Kondisi ini dialami Sutrisno sejak bulan Desember lalu.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Seperti balik lagi ketika awal pandemi,” terang pengusaha kerupuk asal Mangli itu. Sebelumnya, hal yang tidak jauh berbeda juga menimpanya saat awal pandemi. Sejak April hingga September, Sutrisno hanya memproduksi dua kuintal. Namun, menjelang akhir September, produksi kerupuk Sutrisno mulai merangkak naik hingga empat kuintal setiap harinya.

Sayangnya, kondisi ini tak berlangsung lama. Di akhir Desember, jumlah produksi miliknya berangsur menurun sekitar satu kuintal. Sedangkan permintaan pasar tetap stabil. Imbasnya, Sutrisno pun terpaksa mengurangi stok kerupuk untuk para pelanggannya. Pengurangan stok dilakukan kepada distributor lokal. Sementara, untuk koleganya yang berada di luar Jember, Sutrisno berupaya untuk memenuhi jumlah permintaan.

Selain Sutrisno, hal serupa juga dialami oleh Agus, yang merupakan produsen kerupuk siap saji. Sejak musim hujan, dirinya mengurangi jumlah kerupuk yang digoreng sebanyak 80 kilogram hingga satu kuintal. Padahal normalnya dalam satu hari dia dapat menggoreng hingga 2,5 kuintal.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Musim hujan jadi berkah tersendiri bagi para pengusaha kerupuk. Permintaan akan kerupuk matang atau siap saji semakin meningkat. Pasar dan warung makan cenderung menaikkan jumlah pesanannya. Sayangnya, tingginya permintaan akan kerupuk tidak dibarengi dengan tingginya jumlah produksi kerupuk.

Proses produksi kerupuk melambat, sebab industri rumahan kerupuk masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan adonan kerupuk. Imbasnya, produksi kerupuk setiap harinya terpaksa dikurangi. Jika tidak, penjemurannya akan menumpuk.

Salah satu pembuat kerupuk, Sutrisno, mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir ini dia mengurangi jumlah produksinya. Jika biasanya dia memproduksi enam kuintal tiap harinya, kini hanya bisa memproduksi tiga kuintal. Kondisi ini dialami Sutrisno sejak bulan Desember lalu.

“Seperti balik lagi ketika awal pandemi,” terang pengusaha kerupuk asal Mangli itu. Sebelumnya, hal yang tidak jauh berbeda juga menimpanya saat awal pandemi. Sejak April hingga September, Sutrisno hanya memproduksi dua kuintal. Namun, menjelang akhir September, produksi kerupuk Sutrisno mulai merangkak naik hingga empat kuintal setiap harinya.

Sayangnya, kondisi ini tak berlangsung lama. Di akhir Desember, jumlah produksi miliknya berangsur menurun sekitar satu kuintal. Sedangkan permintaan pasar tetap stabil. Imbasnya, Sutrisno pun terpaksa mengurangi stok kerupuk untuk para pelanggannya. Pengurangan stok dilakukan kepada distributor lokal. Sementara, untuk koleganya yang berada di luar Jember, Sutrisno berupaya untuk memenuhi jumlah permintaan.

Selain Sutrisno, hal serupa juga dialami oleh Agus, yang merupakan produsen kerupuk siap saji. Sejak musim hujan, dirinya mengurangi jumlah kerupuk yang digoreng sebanyak 80 kilogram hingga satu kuintal. Padahal normalnya dalam satu hari dia dapat menggoreng hingga 2,5 kuintal.

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Musim hujan jadi berkah tersendiri bagi para pengusaha kerupuk. Permintaan akan kerupuk matang atau siap saji semakin meningkat. Pasar dan warung makan cenderung menaikkan jumlah pesanannya. Sayangnya, tingginya permintaan akan kerupuk tidak dibarengi dengan tingginya jumlah produksi kerupuk.

Proses produksi kerupuk melambat, sebab industri rumahan kerupuk masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan adonan kerupuk. Imbasnya, produksi kerupuk setiap harinya terpaksa dikurangi. Jika tidak, penjemurannya akan menumpuk.

Salah satu pembuat kerupuk, Sutrisno, mengungkapkan bahwa dalam dua bulan terakhir ini dia mengurangi jumlah produksinya. Jika biasanya dia memproduksi enam kuintal tiap harinya, kini hanya bisa memproduksi tiga kuintal. Kondisi ini dialami Sutrisno sejak bulan Desember lalu.

“Seperti balik lagi ketika awal pandemi,” terang pengusaha kerupuk asal Mangli itu. Sebelumnya, hal yang tidak jauh berbeda juga menimpanya saat awal pandemi. Sejak April hingga September, Sutrisno hanya memproduksi dua kuintal. Namun, menjelang akhir September, produksi kerupuk Sutrisno mulai merangkak naik hingga empat kuintal setiap harinya.

Sayangnya, kondisi ini tak berlangsung lama. Di akhir Desember, jumlah produksi miliknya berangsur menurun sekitar satu kuintal. Sedangkan permintaan pasar tetap stabil. Imbasnya, Sutrisno pun terpaksa mengurangi stok kerupuk untuk para pelanggannya. Pengurangan stok dilakukan kepada distributor lokal. Sementara, untuk koleganya yang berada di luar Jember, Sutrisno berupaya untuk memenuhi jumlah permintaan.

Selain Sutrisno, hal serupa juga dialami oleh Agus, yang merupakan produsen kerupuk siap saji. Sejak musim hujan, dirinya mengurangi jumlah kerupuk yang digoreng sebanyak 80 kilogram hingga satu kuintal. Padahal normalnya dalam satu hari dia dapat menggoreng hingga 2,5 kuintal.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/