alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Banyaknya Tambak Rugikan Nelayan

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPANJEN, Radar Jember – Kemunculan tambak-tambak baru di sekitar kawasan sempadan pantai, dari Desa Mayangan dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, hingga ke Desa Paseban Kencong. Hal itu melengkapi pilu nelayan dan warga sekitar.

BACA JUGA : Lansia di Jember Bacok Tetangga Gara-Gara Salah Paham Batas Lahan

Pasalnya, kemunculannya yang nyata-nyata menabrak Perpres Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Kawasan Sempadan Pantai. Hal itu  memengaruhi terhadap mata pencaharian warga, khususnya nelayan. “Tambak-tambak yang lama belum disikapi, sekarang bermunculan tambak-tambak baru. Semakin habis sempadan pantai Jember,” ucap Setyo Ramires, dari Kelompok Perjuangan Masyarakat Kepanjen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejak awal kali tambak berdiri di area yang menjadi tameng alami dari bencana alam tsunami itu, masyarakat di sekitar sudah kontra dengan tambak karena sangat merugikan nelayan. Menurut Setyo, masyarakat kesulitan mengakses sempadan pantai ketika hendak melaut karena sudah muncul tambak-tambak, sehingga mengurangi daerah sempadan pantai.

Akibatnya, kata dia, nelayan harus memutar jauh perahunya untuk melaut. Sehingga ongkos operasional nelayan mencari ikan bertambah. “Jangankan yang ilegal, yang berizin saja kami tolak. Karena sangat merugikan nelayan dan warga di sini. Kalau ada warga yang bekerja di tambak, itu hanya hitungan jari,” sesalnya.

- Advertisement -

KEPANJEN, Radar Jember – Kemunculan tambak-tambak baru di sekitar kawasan sempadan pantai, dari Desa Mayangan dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, hingga ke Desa Paseban Kencong. Hal itu melengkapi pilu nelayan dan warga sekitar.

BACA JUGA : Lansia di Jember Bacok Tetangga Gara-Gara Salah Paham Batas Lahan

Pasalnya, kemunculannya yang nyata-nyata menabrak Perpres Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Kawasan Sempadan Pantai. Hal itu  memengaruhi terhadap mata pencaharian warga, khususnya nelayan. “Tambak-tambak yang lama belum disikapi, sekarang bermunculan tambak-tambak baru. Semakin habis sempadan pantai Jember,” ucap Setyo Ramires, dari Kelompok Perjuangan Masyarakat Kepanjen.

Sejak awal kali tambak berdiri di area yang menjadi tameng alami dari bencana alam tsunami itu, masyarakat di sekitar sudah kontra dengan tambak karena sangat merugikan nelayan. Menurut Setyo, masyarakat kesulitan mengakses sempadan pantai ketika hendak melaut karena sudah muncul tambak-tambak, sehingga mengurangi daerah sempadan pantai.

Akibatnya, kata dia, nelayan harus memutar jauh perahunya untuk melaut. Sehingga ongkos operasional nelayan mencari ikan bertambah. “Jangankan yang ilegal, yang berizin saja kami tolak. Karena sangat merugikan nelayan dan warga di sini. Kalau ada warga yang bekerja di tambak, itu hanya hitungan jari,” sesalnya.

KEPANJEN, Radar Jember – Kemunculan tambak-tambak baru di sekitar kawasan sempadan pantai, dari Desa Mayangan dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, hingga ke Desa Paseban Kencong. Hal itu melengkapi pilu nelayan dan warga sekitar.

BACA JUGA : Lansia di Jember Bacok Tetangga Gara-Gara Salah Paham Batas Lahan

Pasalnya, kemunculannya yang nyata-nyata menabrak Perpres Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Kawasan Sempadan Pantai. Hal itu  memengaruhi terhadap mata pencaharian warga, khususnya nelayan. “Tambak-tambak yang lama belum disikapi, sekarang bermunculan tambak-tambak baru. Semakin habis sempadan pantai Jember,” ucap Setyo Ramires, dari Kelompok Perjuangan Masyarakat Kepanjen.

Sejak awal kali tambak berdiri di area yang menjadi tameng alami dari bencana alam tsunami itu, masyarakat di sekitar sudah kontra dengan tambak karena sangat merugikan nelayan. Menurut Setyo, masyarakat kesulitan mengakses sempadan pantai ketika hendak melaut karena sudah muncul tambak-tambak, sehingga mengurangi daerah sempadan pantai.

Akibatnya, kata dia, nelayan harus memutar jauh perahunya untuk melaut. Sehingga ongkos operasional nelayan mencari ikan bertambah. “Jangankan yang ilegal, yang berizin saja kami tolak. Karena sangat merugikan nelayan dan warga di sini. Kalau ada warga yang bekerja di tambak, itu hanya hitungan jari,” sesalnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/