alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Pandemi Merona, Pengusaha Kos Merana

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Lorong-lorong kamar kos itu tampak tak berpenghuni. Padahal, celoteh para pemuda biasanya terdengar dari balik pintu setiap kamar. Apalagi seruan-seruan khas daerah masing-masing saat beberapa penghuni kos itu berkumpul.

Sayangnya, pandemi ini membuat mereka harus pulang ke kampung halaman masing-masing. Sebab, tak ada aktivitas perkuliahan. Dampaknya, sejumlah pengusaha kos pun kalang kabut. Segala cara dilakukan untuk menekan pengeluaran, termasuk operasional tempat kos. “Karena kosan sepi, penjaga kos juga harus diistirahatkan,” tutur Muhammad Solehudin, salah satu penghuni tempat kos di Jalan Riau, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Karena itu, Udin harus membersihkan halaman kamar kosnya sendiri. Menurut dia, hal tersebut terjadi lantaran dampak yang diakibatkan adanya Covid-19. “Ada 17 kamar di sini, tapi hanya lima kamar yang terisi,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Padahal, sebelum ini, kos-kosan tersebut tak pernah sepi pelanggan. Ketika satu kamar diketahui kosong, keesokan harinya sudah langsung ada yang menempati. Warga RT 2 RW 7 Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, itu menyatakan bahwa kini yang tinggal di kos-kosan hanya lima penghuni. “Tiga pekerja, dua mahasiswa semester akhir,” ungkap pria yang berusia 25 tahun tersebut.

Jawa Pos Radar Jember coba mendatangi salah satu kosan di Jalan Belitung II Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Tak tampak sepeda motor di halaman kosan milik Dedi itu. “Karena pandemi, semua pengusaha kos pasti memiliki permasalahan yang sama,” ucap Dedi.

Dari 37 kamar, menurut pengakuannya, hanya tiga kamar yang diisi mahasiswa semester akhir. “Ketiganya sedang menyelesaikan tugas akhir. Kalau lulus semua, ya sepi,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Lorong-lorong kamar kos itu tampak tak berpenghuni. Padahal, celoteh para pemuda biasanya terdengar dari balik pintu setiap kamar. Apalagi seruan-seruan khas daerah masing-masing saat beberapa penghuni kos itu berkumpul.

Sayangnya, pandemi ini membuat mereka harus pulang ke kampung halaman masing-masing. Sebab, tak ada aktivitas perkuliahan. Dampaknya, sejumlah pengusaha kos pun kalang kabut. Segala cara dilakukan untuk menekan pengeluaran, termasuk operasional tempat kos. “Karena kosan sepi, penjaga kos juga harus diistirahatkan,” tutur Muhammad Solehudin, salah satu penghuni tempat kos di Jalan Riau, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Karena itu, Udin harus membersihkan halaman kamar kosnya sendiri. Menurut dia, hal tersebut terjadi lantaran dampak yang diakibatkan adanya Covid-19. “Ada 17 kamar di sini, tapi hanya lima kamar yang terisi,” ujarnya.

Padahal, sebelum ini, kos-kosan tersebut tak pernah sepi pelanggan. Ketika satu kamar diketahui kosong, keesokan harinya sudah langsung ada yang menempati. Warga RT 2 RW 7 Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, itu menyatakan bahwa kini yang tinggal di kos-kosan hanya lima penghuni. “Tiga pekerja, dua mahasiswa semester akhir,” ungkap pria yang berusia 25 tahun tersebut.

Jawa Pos Radar Jember coba mendatangi salah satu kosan di Jalan Belitung II Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Tak tampak sepeda motor di halaman kosan milik Dedi itu. “Karena pandemi, semua pengusaha kos pasti memiliki permasalahan yang sama,” ucap Dedi.

Dari 37 kamar, menurut pengakuannya, hanya tiga kamar yang diisi mahasiswa semester akhir. “Ketiganya sedang menyelesaikan tugas akhir. Kalau lulus semua, ya sepi,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Lorong-lorong kamar kos itu tampak tak berpenghuni. Padahal, celoteh para pemuda biasanya terdengar dari balik pintu setiap kamar. Apalagi seruan-seruan khas daerah masing-masing saat beberapa penghuni kos itu berkumpul.

Sayangnya, pandemi ini membuat mereka harus pulang ke kampung halaman masing-masing. Sebab, tak ada aktivitas perkuliahan. Dampaknya, sejumlah pengusaha kos pun kalang kabut. Segala cara dilakukan untuk menekan pengeluaran, termasuk operasional tempat kos. “Karena kosan sepi, penjaga kos juga harus diistirahatkan,” tutur Muhammad Solehudin, salah satu penghuni tempat kos di Jalan Riau, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari.

Karena itu, Udin harus membersihkan halaman kamar kosnya sendiri. Menurut dia, hal tersebut terjadi lantaran dampak yang diakibatkan adanya Covid-19. “Ada 17 kamar di sini, tapi hanya lima kamar yang terisi,” ujarnya.

Padahal, sebelum ini, kos-kosan tersebut tak pernah sepi pelanggan. Ketika satu kamar diketahui kosong, keesokan harinya sudah langsung ada yang menempati. Warga RT 2 RW 7 Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, itu menyatakan bahwa kini yang tinggal di kos-kosan hanya lima penghuni. “Tiga pekerja, dua mahasiswa semester akhir,” ungkap pria yang berusia 25 tahun tersebut.

Jawa Pos Radar Jember coba mendatangi salah satu kosan di Jalan Belitung II Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Tak tampak sepeda motor di halaman kosan milik Dedi itu. “Karena pandemi, semua pengusaha kos pasti memiliki permasalahan yang sama,” ucap Dedi.

Dari 37 kamar, menurut pengakuannya, hanya tiga kamar yang diisi mahasiswa semester akhir. “Ketiganya sedang menyelesaikan tugas akhir. Kalau lulus semua, ya sepi,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/