alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Pernah di Kembalikan Dagangnya Namun Perempuan ini Bersikap Berbeda

Gineka Puswati

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – HAMPIR banyak ditemui para pelaku usaha kecil di berbagai tempat semakin ciut akibat pandemi. Tak sedikit dari mereka milih gulung tikar akibat pembeli yang kian hari makin sepi. Namun, berbeda dengan nasib salah satu perajin parfum kopi dan talenan lukis yang ada di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, ini.

Gineka Puswati, 50, atau yang akrab disapa Keke ini, memproduksi parfum kopi dan talenan lukis beberapa pekan sebelum pandemi, yakni sekitar awal Maret 2020 lalu. Meski mengawalinya dengan jumlah tak banyak, namun ibu lima anak ini yakin produk buatannya bisa dibeli hingga ke luar kota.

Dia pun mencoba menjual hasil pewangi alami dan kerajinan tersebut ke pusat oleh-oleh kota Malang. Bukan melalui jasa ekspedisi, melainkan mendatangi langsung kota yang asri tersebut sambil berharap produk kebanggaannya dapat langsung diterima oleh pemilik toko yang masih merupakan temannya itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Belum lama dipajang, sang pemilik toko pun meminta Keke untuk mengambil kembali produk miliknya. Padahal produk itu menjadi satu-satunya harapan bahwa hasil kerajinannya dapat dikonsumsi dan dipakai oleh masyarakat luar kota.

Dia pun tak mau menyerah begitu saja. Akhirnya, Keke mendesak, memohon agar produk itu tetap dijual meski toko hanya dibuka beberapa jam akibat peraturan di masa pandemi. “Saya nangis-nangis waktu itu. Soalnya itu produk baru, dan pertama kali dikirim dengan jumlah lumayan banyak sampai ke luar kota,” katanya. Alhasil, berkat keinginannya tersebut, barang dagangan milik Keke diterima dan diizinkan untuk tetap dijual di pusat oleh-oleh itu.

Semakin hari, Keke pun terus berkreasi. Dia tak lagi mengingat kejadian yang hampir memutus sumber pendapatannya itu. Dia tetap optimistis dengan cara membuat kerajinan talenan lukis yang bervariasi. Bahkan, bukan hanya talenan. Ia pun mencoba membuat jam weker dan jam dinding yang juga terbuat dari kayu. Hasil kerajinan itu ternyata laris juga dibeli oleh anak-anak muda yang memesan sebagai hadiah wisuda atau ulang tahun.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – HAMPIR banyak ditemui para pelaku usaha kecil di berbagai tempat semakin ciut akibat pandemi. Tak sedikit dari mereka milih gulung tikar akibat pembeli yang kian hari makin sepi. Namun, berbeda dengan nasib salah satu perajin parfum kopi dan talenan lukis yang ada di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, ini.

Gineka Puswati, 50, atau yang akrab disapa Keke ini, memproduksi parfum kopi dan talenan lukis beberapa pekan sebelum pandemi, yakni sekitar awal Maret 2020 lalu. Meski mengawalinya dengan jumlah tak banyak, namun ibu lima anak ini yakin produk buatannya bisa dibeli hingga ke luar kota.

Dia pun mencoba menjual hasil pewangi alami dan kerajinan tersebut ke pusat oleh-oleh kota Malang. Bukan melalui jasa ekspedisi, melainkan mendatangi langsung kota yang asri tersebut sambil berharap produk kebanggaannya dapat langsung diterima oleh pemilik toko yang masih merupakan temannya itu.

Belum lama dipajang, sang pemilik toko pun meminta Keke untuk mengambil kembali produk miliknya. Padahal produk itu menjadi satu-satunya harapan bahwa hasil kerajinannya dapat dikonsumsi dan dipakai oleh masyarakat luar kota.

Dia pun tak mau menyerah begitu saja. Akhirnya, Keke mendesak, memohon agar produk itu tetap dijual meski toko hanya dibuka beberapa jam akibat peraturan di masa pandemi. “Saya nangis-nangis waktu itu. Soalnya itu produk baru, dan pertama kali dikirim dengan jumlah lumayan banyak sampai ke luar kota,” katanya. Alhasil, berkat keinginannya tersebut, barang dagangan milik Keke diterima dan diizinkan untuk tetap dijual di pusat oleh-oleh itu.

Semakin hari, Keke pun terus berkreasi. Dia tak lagi mengingat kejadian yang hampir memutus sumber pendapatannya itu. Dia tetap optimistis dengan cara membuat kerajinan talenan lukis yang bervariasi. Bahkan, bukan hanya talenan. Ia pun mencoba membuat jam weker dan jam dinding yang juga terbuat dari kayu. Hasil kerajinan itu ternyata laris juga dibeli oleh anak-anak muda yang memesan sebagai hadiah wisuda atau ulang tahun.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – HAMPIR banyak ditemui para pelaku usaha kecil di berbagai tempat semakin ciut akibat pandemi. Tak sedikit dari mereka milih gulung tikar akibat pembeli yang kian hari makin sepi. Namun, berbeda dengan nasib salah satu perajin parfum kopi dan talenan lukis yang ada di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, ini.

Gineka Puswati, 50, atau yang akrab disapa Keke ini, memproduksi parfum kopi dan talenan lukis beberapa pekan sebelum pandemi, yakni sekitar awal Maret 2020 lalu. Meski mengawalinya dengan jumlah tak banyak, namun ibu lima anak ini yakin produk buatannya bisa dibeli hingga ke luar kota.

Dia pun mencoba menjual hasil pewangi alami dan kerajinan tersebut ke pusat oleh-oleh kota Malang. Bukan melalui jasa ekspedisi, melainkan mendatangi langsung kota yang asri tersebut sambil berharap produk kebanggaannya dapat langsung diterima oleh pemilik toko yang masih merupakan temannya itu.

Belum lama dipajang, sang pemilik toko pun meminta Keke untuk mengambil kembali produk miliknya. Padahal produk itu menjadi satu-satunya harapan bahwa hasil kerajinannya dapat dikonsumsi dan dipakai oleh masyarakat luar kota.

Dia pun tak mau menyerah begitu saja. Akhirnya, Keke mendesak, memohon agar produk itu tetap dijual meski toko hanya dibuka beberapa jam akibat peraturan di masa pandemi. “Saya nangis-nangis waktu itu. Soalnya itu produk baru, dan pertama kali dikirim dengan jumlah lumayan banyak sampai ke luar kota,” katanya. Alhasil, berkat keinginannya tersebut, barang dagangan milik Keke diterima dan diizinkan untuk tetap dijual di pusat oleh-oleh itu.

Semakin hari, Keke pun terus berkreasi. Dia tak lagi mengingat kejadian yang hampir memutus sumber pendapatannya itu. Dia tetap optimistis dengan cara membuat kerajinan talenan lukis yang bervariasi. Bahkan, bukan hanya talenan. Ia pun mencoba membuat jam weker dan jam dinding yang juga terbuat dari kayu. Hasil kerajinan itu ternyata laris juga dibeli oleh anak-anak muda yang memesan sebagai hadiah wisuda atau ulang tahun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/