alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Perda RTRW Cuma Hiasan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID Teriakan Yusi membacakan puisi membakar semangat para aktivis yang telah lama berkeringat. Di depan gedung Pemkab Jember itu, aspirasi terus disuarakan secara bergantian. Menolak industri tambak modern dan menolak rencana pertambangan pasir besi, akibat lemahnya penegakan peraturan.

Ratusan aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jember tersebut menyerukan Jember darurat lingkungan hidup. Hal itu disuarakan sedari mereka berkumpul di Jalan Kalimantan, long march menuju alun-alun, dan aksi di depan pemkab. “Kami menolak segala bentuk pembangunan industri ekstraktif di Jember,” ucap Muhammad Faqih Al Haramain, Ketua PC PMII Jember.

Menurut dia, tambak-tambak modern di kawasan pesisir selatan Jember, seperti di pesisir Kecamatan Gumukmas, dan wacana tambang pasir besi di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, mengancam kerusakan lingkungan. Ekologis di sekitar lokasi juga terancam serta merugikan banyak warga.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak hanya itu, keberadaan tambang galian C, menurut Faqih, juga berpotensi merusak lingkungan. Hal itu pun bertolak belakang dengan kehidupan mayoritas warga Jember, karena basis ekonominya pertanian. “Kami ingatkan kepada Bupati Jember, harusnya membuat kebijakan yang memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada rakyat,” tuntutnya.

Kawasan pesisir, menurut dia, menjadi benteng pertahanan alami bagi warga dari ancaman ombak besar maupun tsunami. Namun demikian, tambak modern seakan menguasai pesisir pantai hingga ke bibir pantai. Akibatnya, ekologis di kawasan tersebut ikut rusak. Mencemari laut dan mengancam kawasan pesisir yang menjadi benteng pertahanan dari tsunami.

Untuk itulah, PMII Jember menuntut agar Pemkab Jember melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sebab, dia menilai, keberadaan RTRW itu seperti hiasan semata. “Revisi RTRW agar berpihak kepada masyarakat,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID Teriakan Yusi membacakan puisi membakar semangat para aktivis yang telah lama berkeringat. Di depan gedung Pemkab Jember itu, aspirasi terus disuarakan secara bergantian. Menolak industri tambak modern dan menolak rencana pertambangan pasir besi, akibat lemahnya penegakan peraturan.

Ratusan aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jember tersebut menyerukan Jember darurat lingkungan hidup. Hal itu disuarakan sedari mereka berkumpul di Jalan Kalimantan, long march menuju alun-alun, dan aksi di depan pemkab. “Kami menolak segala bentuk pembangunan industri ekstraktif di Jember,” ucap Muhammad Faqih Al Haramain, Ketua PC PMII Jember.

Menurut dia, tambak-tambak modern di kawasan pesisir selatan Jember, seperti di pesisir Kecamatan Gumukmas, dan wacana tambang pasir besi di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, mengancam kerusakan lingkungan. Ekologis di sekitar lokasi juga terancam serta merugikan banyak warga.

Tak hanya itu, keberadaan tambang galian C, menurut Faqih, juga berpotensi merusak lingkungan. Hal itu pun bertolak belakang dengan kehidupan mayoritas warga Jember, karena basis ekonominya pertanian. “Kami ingatkan kepada Bupati Jember, harusnya membuat kebijakan yang memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada rakyat,” tuntutnya.

Kawasan pesisir, menurut dia, menjadi benteng pertahanan alami bagi warga dari ancaman ombak besar maupun tsunami. Namun demikian, tambak modern seakan menguasai pesisir pantai hingga ke bibir pantai. Akibatnya, ekologis di kawasan tersebut ikut rusak. Mencemari laut dan mengancam kawasan pesisir yang menjadi benteng pertahanan dari tsunami.

Untuk itulah, PMII Jember menuntut agar Pemkab Jember melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sebab, dia menilai, keberadaan RTRW itu seperti hiasan semata. “Revisi RTRW agar berpihak kepada masyarakat,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Teriakan Yusi membacakan puisi membakar semangat para aktivis yang telah lama berkeringat. Di depan gedung Pemkab Jember itu, aspirasi terus disuarakan secara bergantian. Menolak industri tambak modern dan menolak rencana pertambangan pasir besi, akibat lemahnya penegakan peraturan.

Ratusan aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jember tersebut menyerukan Jember darurat lingkungan hidup. Hal itu disuarakan sedari mereka berkumpul di Jalan Kalimantan, long march menuju alun-alun, dan aksi di depan pemkab. “Kami menolak segala bentuk pembangunan industri ekstraktif di Jember,” ucap Muhammad Faqih Al Haramain, Ketua PC PMII Jember.

Menurut dia, tambak-tambak modern di kawasan pesisir selatan Jember, seperti di pesisir Kecamatan Gumukmas, dan wacana tambang pasir besi di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, mengancam kerusakan lingkungan. Ekologis di sekitar lokasi juga terancam serta merugikan banyak warga.

Tak hanya itu, keberadaan tambang galian C, menurut Faqih, juga berpotensi merusak lingkungan. Hal itu pun bertolak belakang dengan kehidupan mayoritas warga Jember, karena basis ekonominya pertanian. “Kami ingatkan kepada Bupati Jember, harusnya membuat kebijakan yang memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada rakyat,” tuntutnya.

Kawasan pesisir, menurut dia, menjadi benteng pertahanan alami bagi warga dari ancaman ombak besar maupun tsunami. Namun demikian, tambak modern seakan menguasai pesisir pantai hingga ke bibir pantai. Akibatnya, ekologis di kawasan tersebut ikut rusak. Mencemari laut dan mengancam kawasan pesisir yang menjadi benteng pertahanan dari tsunami.

Untuk itulah, PMII Jember menuntut agar Pemkab Jember melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sebab, dia menilai, keberadaan RTRW itu seperti hiasan semata. “Revisi RTRW agar berpihak kepada masyarakat,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/