alexametrics
31 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Stabil tapi Sulit Naik Kelas

Industri Rumahan Masih Jalan di Tempat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sektor yang cukup megap-megap dihantam pandemi sejak Maret tahun lalu. Selain memang berskala mikro, bisnis rumahan itu juga dinilai kesulitan bersaing di pasaran. Faktornya pun beragam, mulai dari keterbatasan akses, daya produksi, hingga permodalan.

Seperti kerajinan tangan atau handicraft misalnya. Sejumlah perajin banyak mengakui, selama ini mereka hanya mampu menjangkau pasar online. “Kalau tanpa online, mati bisnis kita,” terang Irfan Ardani, pengusaha kerajinan tangan asal Desa Tutul, Kecamatan Balung.

Dirinya membeberkan, selama ini model usaha kerajinan tangan seperti tasbih, kalung, gelang, dan pernak-pernik lainnya memiliki daya jangkau pasar yang luas menggunakan daring. Namun, mereka dibatasi dengan produksi yang masih berskala kecil. “Kalau permintaannya tinggi, sementara produksi skala kecil. Sulit juga memenuhi permintaan. Belum lagi, kita dihadapkan dengan brand ternama atau produk imitasi dalam skala besar, kalah produk kita,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejumlah pengusaha kerajinan UMKM lainnya juga menilai, era digitalisasi pasar memang jadi potensi untuk pelaku UMKM. Namun, untuk ke arah pengembangan, sekali lagi mereka terganjal dengan masalah klasik. Seperti keterbatasan modal, terbatas produksi, dan sejenisnya. Padahal jika dilihat kualitas, mereka sebenarnya bersaing. Buktinya, beberapa produk kerajinan asal desa tersebut sudah banyak yang tembus pasar luar negeri.

Namun, hal itu pula yang membuat mereka jalan di tempat. Sebab, mereka terbatas dalam hal produksi dan daya jangkau yang hanya memanfaatkan daring. “Sulit naik kelas, kami memang kesulitan. Selama ini memang lumayan lancar. Kalau merambah sampai ke skala besar, masih sulit,” timpal Ubadillah, pengusaha kerajinan tangan lainnya asal Kecamatan Balung.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sektor yang cukup megap-megap dihantam pandemi sejak Maret tahun lalu. Selain memang berskala mikro, bisnis rumahan itu juga dinilai kesulitan bersaing di pasaran. Faktornya pun beragam, mulai dari keterbatasan akses, daya produksi, hingga permodalan.

Seperti kerajinan tangan atau handicraft misalnya. Sejumlah perajin banyak mengakui, selama ini mereka hanya mampu menjangkau pasar online. “Kalau tanpa online, mati bisnis kita,” terang Irfan Ardani, pengusaha kerajinan tangan asal Desa Tutul, Kecamatan Balung.

Dirinya membeberkan, selama ini model usaha kerajinan tangan seperti tasbih, kalung, gelang, dan pernak-pernik lainnya memiliki daya jangkau pasar yang luas menggunakan daring. Namun, mereka dibatasi dengan produksi yang masih berskala kecil. “Kalau permintaannya tinggi, sementara produksi skala kecil. Sulit juga memenuhi permintaan. Belum lagi, kita dihadapkan dengan brand ternama atau produk imitasi dalam skala besar, kalah produk kita,” tambahnya.

Sejumlah pengusaha kerajinan UMKM lainnya juga menilai, era digitalisasi pasar memang jadi potensi untuk pelaku UMKM. Namun, untuk ke arah pengembangan, sekali lagi mereka terganjal dengan masalah klasik. Seperti keterbatasan modal, terbatas produksi, dan sejenisnya. Padahal jika dilihat kualitas, mereka sebenarnya bersaing. Buktinya, beberapa produk kerajinan asal desa tersebut sudah banyak yang tembus pasar luar negeri.

Namun, hal itu pula yang membuat mereka jalan di tempat. Sebab, mereka terbatas dalam hal produksi dan daya jangkau yang hanya memanfaatkan daring. “Sulit naik kelas, kami memang kesulitan. Selama ini memang lumayan lancar. Kalau merambah sampai ke skala besar, masih sulit,” timpal Ubadillah, pengusaha kerajinan tangan lainnya asal Kecamatan Balung.

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sektor yang cukup megap-megap dihantam pandemi sejak Maret tahun lalu. Selain memang berskala mikro, bisnis rumahan itu juga dinilai kesulitan bersaing di pasaran. Faktornya pun beragam, mulai dari keterbatasan akses, daya produksi, hingga permodalan.

Seperti kerajinan tangan atau handicraft misalnya. Sejumlah perajin banyak mengakui, selama ini mereka hanya mampu menjangkau pasar online. “Kalau tanpa online, mati bisnis kita,” terang Irfan Ardani, pengusaha kerajinan tangan asal Desa Tutul, Kecamatan Balung.

Dirinya membeberkan, selama ini model usaha kerajinan tangan seperti tasbih, kalung, gelang, dan pernak-pernik lainnya memiliki daya jangkau pasar yang luas menggunakan daring. Namun, mereka dibatasi dengan produksi yang masih berskala kecil. “Kalau permintaannya tinggi, sementara produksi skala kecil. Sulit juga memenuhi permintaan. Belum lagi, kita dihadapkan dengan brand ternama atau produk imitasi dalam skala besar, kalah produk kita,” tambahnya.

Sejumlah pengusaha kerajinan UMKM lainnya juga menilai, era digitalisasi pasar memang jadi potensi untuk pelaku UMKM. Namun, untuk ke arah pengembangan, sekali lagi mereka terganjal dengan masalah klasik. Seperti keterbatasan modal, terbatas produksi, dan sejenisnya. Padahal jika dilihat kualitas, mereka sebenarnya bersaing. Buktinya, beberapa produk kerajinan asal desa tersebut sudah banyak yang tembus pasar luar negeri.

Namun, hal itu pula yang membuat mereka jalan di tempat. Sebab, mereka terbatas dalam hal produksi dan daya jangkau yang hanya memanfaatkan daring. “Sulit naik kelas, kami memang kesulitan. Selama ini memang lumayan lancar. Kalau merambah sampai ke skala besar, masih sulit,” timpal Ubadillah, pengusaha kerajinan tangan lainnya asal Kecamatan Balung.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/