alexametrics
23.6 C
Jember
Wednesday, 1 December 2021

Ingin Berdayakan Wanita Difabel

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KETERBATASAN fisik tak menjadi halangan bagi Sri Lestari, warga Dusun Tutul, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, untuk berwirausaha. Wanita kelahiran 31 Agustus 1970 itu serius menggeluti tanaman kopi. Mulai cara budi daya hingga pengolahan pascapanen dan pengemasan. Kini, dia fokus untuk mengembangkan bisnis serbuk hitam tersebut.

Perempuan disabilitas daksa itu mengaku tertarik mendalami kopi dari hulu ke hilir. Dia ingin mengetahui ilmu tentang kopi lebih luas lagi agar bisa menjadi bekal mengembangkan usahanya. Selain itu, Lestari ingin mendongkrak stigma bahwa bisnis kopi hanya dilakukan oleh laki-laki.

“Selama ini, wiraswasta kopi lebih didominasi oleh laki-laki. Dan di Jember, perempuan yang menggeluti usaha ini bisa dihitung jari, apalagi dari kalangan difabel,” ungkap Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Jember tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setahun belakangan ini, Lestari mengemas kopi jenis robusta, liberika, dan arabika. Dia membuka gerai kopi di Kedai 45 Jalan Bengawan Solo, Jember. Menurut nenek bercucu satu itu, membuka usaha kopi bukan tanpa persaingan. Justru lebih ketat karena produk kopi di pasaran sangat beragam.

Dia mengaku, pandemi cukup berdampak terhadap pemasaran kopi. Namun, dia tidak kurang akal. Produk kopi lokal tersebut difoto menggunakan telepon genggam, kemudian diunggah di media sosial. Upaya itu membuahkan hasil. Banyak yang membeli kopi tersebut secara daring.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KETERBATASAN fisik tak menjadi halangan bagi Sri Lestari, warga Dusun Tutul, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, untuk berwirausaha. Wanita kelahiran 31 Agustus 1970 itu serius menggeluti tanaman kopi. Mulai cara budi daya hingga pengolahan pascapanen dan pengemasan. Kini, dia fokus untuk mengembangkan bisnis serbuk hitam tersebut.

Perempuan disabilitas daksa itu mengaku tertarik mendalami kopi dari hulu ke hilir. Dia ingin mengetahui ilmu tentang kopi lebih luas lagi agar bisa menjadi bekal mengembangkan usahanya. Selain itu, Lestari ingin mendongkrak stigma bahwa bisnis kopi hanya dilakukan oleh laki-laki.

“Selama ini, wiraswasta kopi lebih didominasi oleh laki-laki. Dan di Jember, perempuan yang menggeluti usaha ini bisa dihitung jari, apalagi dari kalangan difabel,” ungkap Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Jember tersebut.

Setahun belakangan ini, Lestari mengemas kopi jenis robusta, liberika, dan arabika. Dia membuka gerai kopi di Kedai 45 Jalan Bengawan Solo, Jember. Menurut nenek bercucu satu itu, membuka usaha kopi bukan tanpa persaingan. Justru lebih ketat karena produk kopi di pasaran sangat beragam.

Dia mengaku, pandemi cukup berdampak terhadap pemasaran kopi. Namun, dia tidak kurang akal. Produk kopi lokal tersebut difoto menggunakan telepon genggam, kemudian diunggah di media sosial. Upaya itu membuahkan hasil. Banyak yang membeli kopi tersebut secara daring.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KETERBATASAN fisik tak menjadi halangan bagi Sri Lestari, warga Dusun Tutul, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, untuk berwirausaha. Wanita kelahiran 31 Agustus 1970 itu serius menggeluti tanaman kopi. Mulai cara budi daya hingga pengolahan pascapanen dan pengemasan. Kini, dia fokus untuk mengembangkan bisnis serbuk hitam tersebut.

Perempuan disabilitas daksa itu mengaku tertarik mendalami kopi dari hulu ke hilir. Dia ingin mengetahui ilmu tentang kopi lebih luas lagi agar bisa menjadi bekal mengembangkan usahanya. Selain itu, Lestari ingin mendongkrak stigma bahwa bisnis kopi hanya dilakukan oleh laki-laki.

“Selama ini, wiraswasta kopi lebih didominasi oleh laki-laki. Dan di Jember, perempuan yang menggeluti usaha ini bisa dihitung jari, apalagi dari kalangan difabel,” ungkap Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Jember tersebut.

Setahun belakangan ini, Lestari mengemas kopi jenis robusta, liberika, dan arabika. Dia membuka gerai kopi di Kedai 45 Jalan Bengawan Solo, Jember. Menurut nenek bercucu satu itu, membuka usaha kopi bukan tanpa persaingan. Justru lebih ketat karena produk kopi di pasaran sangat beragam.

Dia mengaku, pandemi cukup berdampak terhadap pemasaran kopi. Namun, dia tidak kurang akal. Produk kopi lokal tersebut difoto menggunakan telepon genggam, kemudian diunggah di media sosial. Upaya itu membuahkan hasil. Banyak yang membeli kopi tersebut secara daring.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca