alexametrics
24.1 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Toko Kelontong Terpojok, Ritel Kian Tumbuh

Persaingan pasar semakin masif dan ketat. Ada banyak toko kelontong dan terdapat puluhan pasar tradisional. Di sisi lain, toko ritel berjejaring hingga pusat perbelanjaan semakin mendekat bahkan berhadap-hadapan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena toko kelontong berhadapan dengan toko ritel sudah bukan rahasia lagi. Bahkan, ada yang lokasinya hanya berjarak sepelemparan batu. Hal ini membuat tanda tanya besar, apakah sebenarnya jarak itu diatur ataukah memang bebas. Jika ada yang melanggar, apakah akan ada yang dibongkar?

BACA JUGA : Warga Temukan Jasad Perempuan di Pantai Paseban Jember

Sejauh ini, Jember telah memiliki aturan berupa Perda Nomor 9 Tahun 2016. Aturan yang sampai saat ini belum mengalami perubahan itu, ternyata telah mengatur sedemikian detail mengani jarak-jarak dalam bisnis toko. Seperti aturan jarak toko modern dengan pasar tradisional yang juga telah diatur. Dalam perda, jarak toko ritel telah diatur sedemikian detail (baca grafis).

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun demikian, di lapangan, keberadaan toko ritel berjejaring yang berdekatan dengan pasar tidak bisa dimungkiri. Bahkan, ada toko modern yang berdiri di dekat toko kelontong. Jaraknya juga cukup dekat dan tidak sedikit yang berdampingan bahkan berhadap-hadapan. Di sinilah letak perlindungan pemerintah terhadap toko kelontong dibutuhkan.

Salah satu toko kelontong yang berdekatan dengan toko modern ada di kawasan Kecamatan Kaliwates. Di tempat ini, ada toko tradisional yang berdekatan dengan jarak yang relatif dekat. Bahkan, di kawasan Kaliwates serta beberapa kawasan lain di Jember banyak toko ritel yang dekat dengan pasar tradisional.

Salah seorang pemilik toko kelontong, Ermadoli, merasakan dampak kemerosotan sejak keberadaan toko besar itu. Warga asli Kecamatan Mangli tersebut mengaku telah memulai usahanya sejak tahun 2012, sebelum toko modern berdiri. “Saya berjualan sebelum ada toko modern ini, dan terasa sekali kemerosotannya setelah toko itu berdiri,” katanya.

Erma menceritakan kemerosotan itu dimulai dari pembeli yang mulai beralih ke toko besar yang berada di sebelahnya. Selain jaraknya cukup berdekatan, bahan yang disediakan di toko modern tersebut juga lebih lengkap dengan yang dijual toko kelontong di sampingnya. “Para pembeli sudah beralih ke sana. Wong jajanannya di sana lebih lengkap dan harganya tidak jauh beda,” paparnya.

Keluhan persaingan itu seolah tak ada yang menghiraukan dan tak ada solusi. Meski begitu, Erma tetap menjalani usaha satu-satunya miliknya itu setiap hari, dengan keuntungan yang pas-pasan. “Tidak bisa diharapkan terlalu tinggi, sekalipun berada di pinggir jalan begini,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sementara itu, Naimah yang juga memiliki toko kelontong di sekitar jalan raya Kecamatan Jelbuk turut merasakan kondisi yang sama. Sejak ada toko modern di dekat toko miliknya, terjadi kemerosotan penjualan. Pembeli banyak beralih ke toko besar yang menyediakan berbagai kebutuhan lebih lengkap. “Pasti mengalami kemerosotan. Banyak yang lebih tertarik belanja ke sana. Soalnya lebih lengkap,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena toko kelontong berhadapan dengan toko ritel sudah bukan rahasia lagi. Bahkan, ada yang lokasinya hanya berjarak sepelemparan batu. Hal ini membuat tanda tanya besar, apakah sebenarnya jarak itu diatur ataukah memang bebas. Jika ada yang melanggar, apakah akan ada yang dibongkar?

BACA JUGA : Warga Temukan Jasad Perempuan di Pantai Paseban Jember

Sejauh ini, Jember telah memiliki aturan berupa Perda Nomor 9 Tahun 2016. Aturan yang sampai saat ini belum mengalami perubahan itu, ternyata telah mengatur sedemikian detail mengani jarak-jarak dalam bisnis toko. Seperti aturan jarak toko modern dengan pasar tradisional yang juga telah diatur. Dalam perda, jarak toko ritel telah diatur sedemikian detail (baca grafis).

Namun demikian, di lapangan, keberadaan toko ritel berjejaring yang berdekatan dengan pasar tidak bisa dimungkiri. Bahkan, ada toko modern yang berdiri di dekat toko kelontong. Jaraknya juga cukup dekat dan tidak sedikit yang berdampingan bahkan berhadap-hadapan. Di sinilah letak perlindungan pemerintah terhadap toko kelontong dibutuhkan.

Salah satu toko kelontong yang berdekatan dengan toko modern ada di kawasan Kecamatan Kaliwates. Di tempat ini, ada toko tradisional yang berdekatan dengan jarak yang relatif dekat. Bahkan, di kawasan Kaliwates serta beberapa kawasan lain di Jember banyak toko ritel yang dekat dengan pasar tradisional.

Salah seorang pemilik toko kelontong, Ermadoli, merasakan dampak kemerosotan sejak keberadaan toko besar itu. Warga asli Kecamatan Mangli tersebut mengaku telah memulai usahanya sejak tahun 2012, sebelum toko modern berdiri. “Saya berjualan sebelum ada toko modern ini, dan terasa sekali kemerosotannya setelah toko itu berdiri,” katanya.

Erma menceritakan kemerosotan itu dimulai dari pembeli yang mulai beralih ke toko besar yang berada di sebelahnya. Selain jaraknya cukup berdekatan, bahan yang disediakan di toko modern tersebut juga lebih lengkap dengan yang dijual toko kelontong di sampingnya. “Para pembeli sudah beralih ke sana. Wong jajanannya di sana lebih lengkap dan harganya tidak jauh beda,” paparnya.

Keluhan persaingan itu seolah tak ada yang menghiraukan dan tak ada solusi. Meski begitu, Erma tetap menjalani usaha satu-satunya miliknya itu setiap hari, dengan keuntungan yang pas-pasan. “Tidak bisa diharapkan terlalu tinggi, sekalipun berada di pinggir jalan begini,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sementara itu, Naimah yang juga memiliki toko kelontong di sekitar jalan raya Kecamatan Jelbuk turut merasakan kondisi yang sama. Sejak ada toko modern di dekat toko miliknya, terjadi kemerosotan penjualan. Pembeli banyak beralih ke toko besar yang menyediakan berbagai kebutuhan lebih lengkap. “Pasti mengalami kemerosotan. Banyak yang lebih tertarik belanja ke sana. Soalnya lebih lengkap,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena toko kelontong berhadapan dengan toko ritel sudah bukan rahasia lagi. Bahkan, ada yang lokasinya hanya berjarak sepelemparan batu. Hal ini membuat tanda tanya besar, apakah sebenarnya jarak itu diatur ataukah memang bebas. Jika ada yang melanggar, apakah akan ada yang dibongkar?

BACA JUGA : Warga Temukan Jasad Perempuan di Pantai Paseban Jember

Sejauh ini, Jember telah memiliki aturan berupa Perda Nomor 9 Tahun 2016. Aturan yang sampai saat ini belum mengalami perubahan itu, ternyata telah mengatur sedemikian detail mengani jarak-jarak dalam bisnis toko. Seperti aturan jarak toko modern dengan pasar tradisional yang juga telah diatur. Dalam perda, jarak toko ritel telah diatur sedemikian detail (baca grafis).

Namun demikian, di lapangan, keberadaan toko ritel berjejaring yang berdekatan dengan pasar tidak bisa dimungkiri. Bahkan, ada toko modern yang berdiri di dekat toko kelontong. Jaraknya juga cukup dekat dan tidak sedikit yang berdampingan bahkan berhadap-hadapan. Di sinilah letak perlindungan pemerintah terhadap toko kelontong dibutuhkan.

Salah satu toko kelontong yang berdekatan dengan toko modern ada di kawasan Kecamatan Kaliwates. Di tempat ini, ada toko tradisional yang berdekatan dengan jarak yang relatif dekat. Bahkan, di kawasan Kaliwates serta beberapa kawasan lain di Jember banyak toko ritel yang dekat dengan pasar tradisional.

Salah seorang pemilik toko kelontong, Ermadoli, merasakan dampak kemerosotan sejak keberadaan toko besar itu. Warga asli Kecamatan Mangli tersebut mengaku telah memulai usahanya sejak tahun 2012, sebelum toko modern berdiri. “Saya berjualan sebelum ada toko modern ini, dan terasa sekali kemerosotannya setelah toko itu berdiri,” katanya.

Erma menceritakan kemerosotan itu dimulai dari pembeli yang mulai beralih ke toko besar yang berada di sebelahnya. Selain jaraknya cukup berdekatan, bahan yang disediakan di toko modern tersebut juga lebih lengkap dengan yang dijual toko kelontong di sampingnya. “Para pembeli sudah beralih ke sana. Wong jajanannya di sana lebih lengkap dan harganya tidak jauh beda,” paparnya.

Keluhan persaingan itu seolah tak ada yang menghiraukan dan tak ada solusi. Meski begitu, Erma tetap menjalani usaha satu-satunya miliknya itu setiap hari, dengan keuntungan yang pas-pasan. “Tidak bisa diharapkan terlalu tinggi, sekalipun berada di pinggir jalan begini,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sementara itu, Naimah yang juga memiliki toko kelontong di sekitar jalan raya Kecamatan Jelbuk turut merasakan kondisi yang sama. Sejak ada toko modern di dekat toko miliknya, terjadi kemerosotan penjualan. Pembeli banyak beralih ke toko besar yang menyediakan berbagai kebutuhan lebih lengkap. “Pasti mengalami kemerosotan. Banyak yang lebih tertarik belanja ke sana. Soalnya lebih lengkap,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/