alexametrics
22.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Tetap Setia tekuni Profesi Perajin Gong

Mobile_AP_Rectangle 1

RADARJEMBER.ID – Sektor ekonomi luluh lantak akibat pandemi Covid-19, tidak terkecuali perajin gong karena pesanan turun drastis.Bahkan sempat nihil, bikin perajin gong resah. Namun berkat inovasi, kini perajin kembali bernafas lega seperti Made Suanda, asal Desa Sawan, Kabupaten Buleleng

BACA JUGA : Kompak, Darius Sinathrya dan Donna Agnesia Bersama Keluarga

Bengkel kerajinan itu terlihat sunyi tanpa aktivitas ,tidak a ak ada denting suara logam akibat ditempa. Selama pandemi sepi, Suanda tidak bisa berbuat apa karena kondisi sedang berkecamuk virus mematikan asal China.

Mobile_AP_Rectangle 2

Suanda adalah salah seorang perajin dan tetap eksis di Desa Sawan. Dia membuka pusat kerajinan gamelan tidak saja gong bernama Surya Nada. Dia adalah salah seorang dari total lima orang perajin, kini tetap setia menekuni pande gong di desa tersebut.

Pada 1998 silam Made Suanda, kali pertama menekuni profesi tersebut. Dia meneruskan trah perajin gong dari orang tuanya, mendiang Nyoman Karsa. Mendiang adalah salah seorang perajin gong tersohor pada era 1980-an hingga 1990-an.

Made Suanda meneruskan warisan usaha tersebut, ketika sang bapak meninggal dunia. Dia tak pernah mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, sehingga semua keterampilan dipelajari secara mandiri.

- Advertisement -

RADARJEMBER.ID – Sektor ekonomi luluh lantak akibat pandemi Covid-19, tidak terkecuali perajin gong karena pesanan turun drastis.Bahkan sempat nihil, bikin perajin gong resah. Namun berkat inovasi, kini perajin kembali bernafas lega seperti Made Suanda, asal Desa Sawan, Kabupaten Buleleng

BACA JUGA : Kompak, Darius Sinathrya dan Donna Agnesia Bersama Keluarga

Bengkel kerajinan itu terlihat sunyi tanpa aktivitas ,tidak a ak ada denting suara logam akibat ditempa. Selama pandemi sepi, Suanda tidak bisa berbuat apa karena kondisi sedang berkecamuk virus mematikan asal China.

Suanda adalah salah seorang perajin dan tetap eksis di Desa Sawan. Dia membuka pusat kerajinan gamelan tidak saja gong bernama Surya Nada. Dia adalah salah seorang dari total lima orang perajin, kini tetap setia menekuni pande gong di desa tersebut.

Pada 1998 silam Made Suanda, kali pertama menekuni profesi tersebut. Dia meneruskan trah perajin gong dari orang tuanya, mendiang Nyoman Karsa. Mendiang adalah salah seorang perajin gong tersohor pada era 1980-an hingga 1990-an.

Made Suanda meneruskan warisan usaha tersebut, ketika sang bapak meninggal dunia. Dia tak pernah mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, sehingga semua keterampilan dipelajari secara mandiri.

RADARJEMBER.ID – Sektor ekonomi luluh lantak akibat pandemi Covid-19, tidak terkecuali perajin gong karena pesanan turun drastis.Bahkan sempat nihil, bikin perajin gong resah. Namun berkat inovasi, kini perajin kembali bernafas lega seperti Made Suanda, asal Desa Sawan, Kabupaten Buleleng

BACA JUGA : Kompak, Darius Sinathrya dan Donna Agnesia Bersama Keluarga

Bengkel kerajinan itu terlihat sunyi tanpa aktivitas ,tidak a ak ada denting suara logam akibat ditempa. Selama pandemi sepi, Suanda tidak bisa berbuat apa karena kondisi sedang berkecamuk virus mematikan asal China.

Suanda adalah salah seorang perajin dan tetap eksis di Desa Sawan. Dia membuka pusat kerajinan gamelan tidak saja gong bernama Surya Nada. Dia adalah salah seorang dari total lima orang perajin, kini tetap setia menekuni pande gong di desa tersebut.

Pada 1998 silam Made Suanda, kali pertama menekuni profesi tersebut. Dia meneruskan trah perajin gong dari orang tuanya, mendiang Nyoman Karsa. Mendiang adalah salah seorang perajin gong tersohor pada era 1980-an hingga 1990-an.

Made Suanda meneruskan warisan usaha tersebut, ketika sang bapak meninggal dunia. Dia tak pernah mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, sehingga semua keterampilan dipelajari secara mandiri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/