alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Hindari Jebakan Utang, Miliki Mental Accounting

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendapatan yang cekak kerap menjadi alasan seseorang meminjam uang. Sampai-sampai ada yang terjebak rentenir hingga masuk pada lingkaran utang yang tak berkesudahan. Padahal, jika keuangan diatur sebaik mungkin, pendapatan berapa pun bisa mencukupi kebutuhan. Selama, manajemen keuangan yang diterapkan konsisten dengan perencanaan yang dilakukan.

Terjadinya jebakan utang tersebut, problem utamanya bukan hanya pada pendapatan yang dirasa tak mencukupi. Tapi, juga faktor manajemen keuangan yang amburadul. Makanya, para ahli menyarankan agar mereka menerapkan mental accounting sejak dini. Apakah itu?

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Jember Nur Hidayat menerangkan, seseorang harus belajar dan mulai menerapkan mental accounting sedini mungkin. Dengan itu, dia bisa mencukupi kebutuhannya berdasarkan perencanaan yang sebelumnya disusun matang dan diterapkan dengan baik. “Perencanaan itu berupa rancangan jangka pendek, menengah, dan panjang,” papar pria yang tinggal di Bondowoso tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebetulnya, dia menambahkan, pengetahuan ini sudah banyak dipublikasikan. Namun, perlu terus diberitahukan ke khalayak agar selalu ingat tentang pengaturan keuangan tersebut. “Sebab, sangat menguntungkan dari segi keuangan setiap orang,” lanjutnya.

Menurut dia, yang harus dilakukan adalah membagi pendapatan ke dalam pos-pos tertentu. Misalnya, rancangan jangka pendek seperti uang makan dan uang bensin sekian persen. Lalu, jangka menengah dengan menyisihkan uang untuk liburan berapa persen, serta jangka panjang dengan menabung atau berinvestasi. Ketika sudah menentukan pos-posnya, pendapatan per bulan akan tertampung di dalam setiap pos yang dibuat itu.

“Sekilas, kita akan merasa bahwa tak memiliki uang. Namun, sebenarnya, kita telah menyisihkan beberapa persen pendapatan untuk hal yang lebih besar,” tuturnya. Selanjutnya, yang harus dilakukan adalah menanamkan sikap konsisten. Dari pos yang sudah ditentukan, harus ada sikap disiplin dan menggunakan uang seefektif mungkin sesuai dengan yang direncanakan.

Misal, Nur Hodayat mencontohkan, ketika kehabisan uang pada salah satu pos, hal tersebut perlu dievaluasi pada bulan mendatang. “Tapi, tidak boleh mengambil jatah yang sudah ditaruh pada pos lain,” tegasnya.

Sementara itu, sikap yang harus dihindari dalam menjalankan kegiatan itu ada tiga macam. Yakni, framing alias pembingkaian. Ini merupakan sudut pandang seseorang terhadap keuangan mereka yang berujung pada pola pikir yang salah. “Misalnya, tidak bisa mendapatkan ini itu jika tidak ngutang,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendapatan yang cekak kerap menjadi alasan seseorang meminjam uang. Sampai-sampai ada yang terjebak rentenir hingga masuk pada lingkaran utang yang tak berkesudahan. Padahal, jika keuangan diatur sebaik mungkin, pendapatan berapa pun bisa mencukupi kebutuhan. Selama, manajemen keuangan yang diterapkan konsisten dengan perencanaan yang dilakukan.

Terjadinya jebakan utang tersebut, problem utamanya bukan hanya pada pendapatan yang dirasa tak mencukupi. Tapi, juga faktor manajemen keuangan yang amburadul. Makanya, para ahli menyarankan agar mereka menerapkan mental accounting sejak dini. Apakah itu?

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Jember Nur Hidayat menerangkan, seseorang harus belajar dan mulai menerapkan mental accounting sedini mungkin. Dengan itu, dia bisa mencukupi kebutuhannya berdasarkan perencanaan yang sebelumnya disusun matang dan diterapkan dengan baik. “Perencanaan itu berupa rancangan jangka pendek, menengah, dan panjang,” papar pria yang tinggal di Bondowoso tersebut.

Sebetulnya, dia menambahkan, pengetahuan ini sudah banyak dipublikasikan. Namun, perlu terus diberitahukan ke khalayak agar selalu ingat tentang pengaturan keuangan tersebut. “Sebab, sangat menguntungkan dari segi keuangan setiap orang,” lanjutnya.

Menurut dia, yang harus dilakukan adalah membagi pendapatan ke dalam pos-pos tertentu. Misalnya, rancangan jangka pendek seperti uang makan dan uang bensin sekian persen. Lalu, jangka menengah dengan menyisihkan uang untuk liburan berapa persen, serta jangka panjang dengan menabung atau berinvestasi. Ketika sudah menentukan pos-posnya, pendapatan per bulan akan tertampung di dalam setiap pos yang dibuat itu.

“Sekilas, kita akan merasa bahwa tak memiliki uang. Namun, sebenarnya, kita telah menyisihkan beberapa persen pendapatan untuk hal yang lebih besar,” tuturnya. Selanjutnya, yang harus dilakukan adalah menanamkan sikap konsisten. Dari pos yang sudah ditentukan, harus ada sikap disiplin dan menggunakan uang seefektif mungkin sesuai dengan yang direncanakan.

Misal, Nur Hodayat mencontohkan, ketika kehabisan uang pada salah satu pos, hal tersebut perlu dievaluasi pada bulan mendatang. “Tapi, tidak boleh mengambil jatah yang sudah ditaruh pada pos lain,” tegasnya.

Sementara itu, sikap yang harus dihindari dalam menjalankan kegiatan itu ada tiga macam. Yakni, framing alias pembingkaian. Ini merupakan sudut pandang seseorang terhadap keuangan mereka yang berujung pada pola pikir yang salah. “Misalnya, tidak bisa mendapatkan ini itu jika tidak ngutang,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pendapatan yang cekak kerap menjadi alasan seseorang meminjam uang. Sampai-sampai ada yang terjebak rentenir hingga masuk pada lingkaran utang yang tak berkesudahan. Padahal, jika keuangan diatur sebaik mungkin, pendapatan berapa pun bisa mencukupi kebutuhan. Selama, manajemen keuangan yang diterapkan konsisten dengan perencanaan yang dilakukan.

Terjadinya jebakan utang tersebut, problem utamanya bukan hanya pada pendapatan yang dirasa tak mencukupi. Tapi, juga faktor manajemen keuangan yang amburadul. Makanya, para ahli menyarankan agar mereka menerapkan mental accounting sejak dini. Apakah itu?

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Jember Nur Hidayat menerangkan, seseorang harus belajar dan mulai menerapkan mental accounting sedini mungkin. Dengan itu, dia bisa mencukupi kebutuhannya berdasarkan perencanaan yang sebelumnya disusun matang dan diterapkan dengan baik. “Perencanaan itu berupa rancangan jangka pendek, menengah, dan panjang,” papar pria yang tinggal di Bondowoso tersebut.

Sebetulnya, dia menambahkan, pengetahuan ini sudah banyak dipublikasikan. Namun, perlu terus diberitahukan ke khalayak agar selalu ingat tentang pengaturan keuangan tersebut. “Sebab, sangat menguntungkan dari segi keuangan setiap orang,” lanjutnya.

Menurut dia, yang harus dilakukan adalah membagi pendapatan ke dalam pos-pos tertentu. Misalnya, rancangan jangka pendek seperti uang makan dan uang bensin sekian persen. Lalu, jangka menengah dengan menyisihkan uang untuk liburan berapa persen, serta jangka panjang dengan menabung atau berinvestasi. Ketika sudah menentukan pos-posnya, pendapatan per bulan akan tertampung di dalam setiap pos yang dibuat itu.

“Sekilas, kita akan merasa bahwa tak memiliki uang. Namun, sebenarnya, kita telah menyisihkan beberapa persen pendapatan untuk hal yang lebih besar,” tuturnya. Selanjutnya, yang harus dilakukan adalah menanamkan sikap konsisten. Dari pos yang sudah ditentukan, harus ada sikap disiplin dan menggunakan uang seefektif mungkin sesuai dengan yang direncanakan.

Misal, Nur Hodayat mencontohkan, ketika kehabisan uang pada salah satu pos, hal tersebut perlu dievaluasi pada bulan mendatang. “Tapi, tidak boleh mengambil jatah yang sudah ditaruh pada pos lain,” tegasnya.

Sementara itu, sikap yang harus dihindari dalam menjalankan kegiatan itu ada tiga macam. Yakni, framing alias pembingkaian. Ini merupakan sudut pandang seseorang terhadap keuangan mereka yang berujung pada pola pikir yang salah. “Misalnya, tidak bisa mendapatkan ini itu jika tidak ngutang,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/