alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Sekali Dayung, Petani-Peternak Untung

Jember Perlu Model Pertanian Integrasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Petani dan peternak di Jember kerap menghadapi permasalahan klasik. Membengkaknya biaya pemupukan akibat kelangkaan rabuk subsidi dan mahalnya biaya pakan. Padahal, problem ini bisa diatasi selama pemerintah mau mendorong petani menerapkan model pertanian terintegrasi. Apalagi, banyak petani di Jember yang juga merangkap sebagai peternak. Karenanya, bahan pembuatan pupuk maupun untuk pakan tak sulit ditemukan.

Anggota DPRD Jember Nyoman Ariwibowo menjelaskan, pengolahan sawah dalam tanaman pangan tidak serta-merta bisa dikelola ala kadarnya. Sebab, produktivitasnya akan anjlok, dan berpotensi merugikan petani. Oleh karenanya, kata dia, tanaman harus diberi pupuk yang optimal.

Namun, anggota Komisi B ini mengungkapkan, kebijakan pembatasan kuota pupuk bersubsidi yang terus menurun dari tahun ke tahun menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu, petani harus mulai memaksimalkan potensi yang ada di sekitar rumah atau lingkungan mereka. Salah satunya adalah kotoran ternak yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. “Di sini (Jember, Red) itu, ada potensi kotoran ternak,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, agar pertanian lebih baik lagi, perlu ada kebijakan kolaboratif yang dikeluarkan pemerintah dengan menggabungkan sektor pertanian dengan peternakan. Sebab, antara keduanya itu berdampingan. Saling timbal balik dan melengkapi. Peternak perlu limbah pertanian sebagai pakan, dan limbah peternakan juga bisa dibuat pupuk organik untuk lahan pertanian. Jadi, sekali dayung, petani dan peternak bisa untung. “Petani tidak lagi bergantung pada harga pupuk yang mahal. Mereka bisa memakai pupuk organik dengan bahan dasar yang mudah diperoleh,” ucapnya.

Sebagai sarjana peternakan, Nyoman mengaku, jumlah peternakan di Jember tergolong besar. Namun, hewan ternak yang dipelihara itu masih dipersepsikan sebagai investasi atau tabungan. Karenanya, hasil dari peternakan kurang maksimal dan tidak diketahui.

Bila setiap petani itu memiliki hewan ternak, dia memperkirakan, sektor pertanian akan bisa maju bersama-sama dengan bidang peternakan. “Menurut saya, saat ini petani perlu kembali pada pupuk organik. Kan bisa saja itu kotoran sapi digunakan sebagai bahan baku pupuk untuk lahan pertanian,” ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, populasi ternak, khususnya sapi potong, di Jember tergolong tinggi. Bahkan, Jember masuk empat besar dalam populasi sapi ternak se-Jatim. Pada 2018 lalu, populasi sapi potong tertinggi se-Jatim yaitu Kabupaten Sumenep 367.382 ekor, disusul Kabupaten Tuban 339.563 ekor, Kabupaten Probolinggo 275.565 ekor, dan Jember 258.205 ekor. Sedangkan sapi perah terbilang kecil dan tidak masuk lima besar. Jumlahnya pada 2018 lalu hanya 1.543 ekor.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Petani dan peternak di Jember kerap menghadapi permasalahan klasik. Membengkaknya biaya pemupukan akibat kelangkaan rabuk subsidi dan mahalnya biaya pakan. Padahal, problem ini bisa diatasi selama pemerintah mau mendorong petani menerapkan model pertanian terintegrasi. Apalagi, banyak petani di Jember yang juga merangkap sebagai peternak. Karenanya, bahan pembuatan pupuk maupun untuk pakan tak sulit ditemukan.

Anggota DPRD Jember Nyoman Ariwibowo menjelaskan, pengolahan sawah dalam tanaman pangan tidak serta-merta bisa dikelola ala kadarnya. Sebab, produktivitasnya akan anjlok, dan berpotensi merugikan petani. Oleh karenanya, kata dia, tanaman harus diberi pupuk yang optimal.

Namun, anggota Komisi B ini mengungkapkan, kebijakan pembatasan kuota pupuk bersubsidi yang terus menurun dari tahun ke tahun menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu, petani harus mulai memaksimalkan potensi yang ada di sekitar rumah atau lingkungan mereka. Salah satunya adalah kotoran ternak yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. “Di sini (Jember, Red) itu, ada potensi kotoran ternak,” jelasnya.

Menurut dia, agar pertanian lebih baik lagi, perlu ada kebijakan kolaboratif yang dikeluarkan pemerintah dengan menggabungkan sektor pertanian dengan peternakan. Sebab, antara keduanya itu berdampingan. Saling timbal balik dan melengkapi. Peternak perlu limbah pertanian sebagai pakan, dan limbah peternakan juga bisa dibuat pupuk organik untuk lahan pertanian. Jadi, sekali dayung, petani dan peternak bisa untung. “Petani tidak lagi bergantung pada harga pupuk yang mahal. Mereka bisa memakai pupuk organik dengan bahan dasar yang mudah diperoleh,” ucapnya.

Sebagai sarjana peternakan, Nyoman mengaku, jumlah peternakan di Jember tergolong besar. Namun, hewan ternak yang dipelihara itu masih dipersepsikan sebagai investasi atau tabungan. Karenanya, hasil dari peternakan kurang maksimal dan tidak diketahui.

Bila setiap petani itu memiliki hewan ternak, dia memperkirakan, sektor pertanian akan bisa maju bersama-sama dengan bidang peternakan. “Menurut saya, saat ini petani perlu kembali pada pupuk organik. Kan bisa saja itu kotoran sapi digunakan sebagai bahan baku pupuk untuk lahan pertanian,” ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, populasi ternak, khususnya sapi potong, di Jember tergolong tinggi. Bahkan, Jember masuk empat besar dalam populasi sapi ternak se-Jatim. Pada 2018 lalu, populasi sapi potong tertinggi se-Jatim yaitu Kabupaten Sumenep 367.382 ekor, disusul Kabupaten Tuban 339.563 ekor, Kabupaten Probolinggo 275.565 ekor, dan Jember 258.205 ekor. Sedangkan sapi perah terbilang kecil dan tidak masuk lima besar. Jumlahnya pada 2018 lalu hanya 1.543 ekor.

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Petani dan peternak di Jember kerap menghadapi permasalahan klasik. Membengkaknya biaya pemupukan akibat kelangkaan rabuk subsidi dan mahalnya biaya pakan. Padahal, problem ini bisa diatasi selama pemerintah mau mendorong petani menerapkan model pertanian terintegrasi. Apalagi, banyak petani di Jember yang juga merangkap sebagai peternak. Karenanya, bahan pembuatan pupuk maupun untuk pakan tak sulit ditemukan.

Anggota DPRD Jember Nyoman Ariwibowo menjelaskan, pengolahan sawah dalam tanaman pangan tidak serta-merta bisa dikelola ala kadarnya. Sebab, produktivitasnya akan anjlok, dan berpotensi merugikan petani. Oleh karenanya, kata dia, tanaman harus diberi pupuk yang optimal.

Namun, anggota Komisi B ini mengungkapkan, kebijakan pembatasan kuota pupuk bersubsidi yang terus menurun dari tahun ke tahun menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu, petani harus mulai memaksimalkan potensi yang ada di sekitar rumah atau lingkungan mereka. Salah satunya adalah kotoran ternak yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. “Di sini (Jember, Red) itu, ada potensi kotoran ternak,” jelasnya.

Menurut dia, agar pertanian lebih baik lagi, perlu ada kebijakan kolaboratif yang dikeluarkan pemerintah dengan menggabungkan sektor pertanian dengan peternakan. Sebab, antara keduanya itu berdampingan. Saling timbal balik dan melengkapi. Peternak perlu limbah pertanian sebagai pakan, dan limbah peternakan juga bisa dibuat pupuk organik untuk lahan pertanian. Jadi, sekali dayung, petani dan peternak bisa untung. “Petani tidak lagi bergantung pada harga pupuk yang mahal. Mereka bisa memakai pupuk organik dengan bahan dasar yang mudah diperoleh,” ucapnya.

Sebagai sarjana peternakan, Nyoman mengaku, jumlah peternakan di Jember tergolong besar. Namun, hewan ternak yang dipelihara itu masih dipersepsikan sebagai investasi atau tabungan. Karenanya, hasil dari peternakan kurang maksimal dan tidak diketahui.

Bila setiap petani itu memiliki hewan ternak, dia memperkirakan, sektor pertanian akan bisa maju bersama-sama dengan bidang peternakan. “Menurut saya, saat ini petani perlu kembali pada pupuk organik. Kan bisa saja itu kotoran sapi digunakan sebagai bahan baku pupuk untuk lahan pertanian,” ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, populasi ternak, khususnya sapi potong, di Jember tergolong tinggi. Bahkan, Jember masuk empat besar dalam populasi sapi ternak se-Jatim. Pada 2018 lalu, populasi sapi potong tertinggi se-Jatim yaitu Kabupaten Sumenep 367.382 ekor, disusul Kabupaten Tuban 339.563 ekor, Kabupaten Probolinggo 275.565 ekor, dan Jember 258.205 ekor. Sedangkan sapi perah terbilang kecil dan tidak masuk lima besar. Jumlahnya pada 2018 lalu hanya 1.543 ekor.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/