alexametrics
26.8 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Pembelian Pertalite Mulai Rumit

Larang Beli Pakai Drum di SPBU

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini, pedagang bahan bakar minyak (BBM) eceran tidak lagi bisa memborong pertalite di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sebab, Pertamina sendiri mulai menerapkan kebijakan baru, yaitu pelarangan pembelian pertalite dengan drum.

Kebijakan ini sejatinya bukan hal yang baru lagi di SPBU milik Pertamina. Jauh sebelumnya, terdapat larangan membeli premium subsidi dengan drum. Selain itu, juga mulai diberlakukan pelarangan membeli pertalite ataupun pertamax dengan drum plastik dan harus dari logam. “Awalnya, semua BBM beli pakai segala jenis drum, termasuk plastik tidak masalah,” ucap Dwi Priawan, salah seorang pedagang BBM eceran.

Mulanya, pengetatan dengan pelarangan menggunakan drum khusus untuk pembelian premium saja. Sedangkan untuk pembelian pertalite atau pertamax masih diperbolehkan. Namun, sejak 2019 lalu, keluar kebijakan baru tentang pelarangan membeli pertalite dan pertamax dengan drum plastik. “Harus drum besi,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dwi Priawan yang berdagang BBM eceran di Jl A Yani sejak sewindu lalu ini mengaku, kebijakan baru tersebut sejatinya menguntungkan dirinya sebagai pedagang BBM eceran botol. “Kalau pertalite dilarang beli pakai drum, itu enak ke kami pedagang bensin botol,” jelasnya.

Sebab, persaingan antara pedagang BBM eceran botol dengan pertamini itu sama. Kebijakan baru dilarang membeli pertalite dengan drum tersebut diberlakukan per 1 Februari. Dia mengaku, saat pertalite diperbolehkan memakai drum, yang paling banyak membeli di SPBU adalah para pengusaha pertamini. “Kalau pom mini itu belinya banyak. Pakai mobil. Kami pedagang bensin botol beli pakai motor saja,” jelasnya.

Dwi mengaku, pembeli BBM eceran paling banyak adalah pertalite daripada pertamax. Dalam sehari saja, setidaknya bisa menjual 26 liter. Cara dia untuk mendapatkan pertalite, biasanya membeli pakai motornya dengan mengisi penuh tangki kendaraan. Selanjutnya dikuras. “Saya pakai motor NMAX. Itu sehari empat sampai lima kali mengisi full,” terangnya.

Sementara itu, Sales Brand Manager (SBM) Pertamina area Jember, Lumajang, dan Bondowoso, Agung Surya Pranata mengatakan, kebijakan pelarangan pembelian pertalite pakai drum berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Sebenarnya aturan dilarang beli BBM dengan drum itu sudah lama, sekitar 2017 lalu, dan penerapannya bertahap,” terangnya.

Dia menjelaskan, peraturan terbaru tentang pembelian pertalite di SPBU tersebut karena untuk mendekatkan pengecer bensin agar menjual BBM yang ramah lingkungan. Merujuk dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), pemerintah menerapkan penggunaan BBM tipe euro 4 atau setara BBM dengan oktan 91 ke atas. Sementara, untuk pertalite sendiri, oktannya masih di angka 90, sedangkan pertamax 91.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini, pedagang bahan bakar minyak (BBM) eceran tidak lagi bisa memborong pertalite di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sebab, Pertamina sendiri mulai menerapkan kebijakan baru, yaitu pelarangan pembelian pertalite dengan drum.

Kebijakan ini sejatinya bukan hal yang baru lagi di SPBU milik Pertamina. Jauh sebelumnya, terdapat larangan membeli premium subsidi dengan drum. Selain itu, juga mulai diberlakukan pelarangan membeli pertalite ataupun pertamax dengan drum plastik dan harus dari logam. “Awalnya, semua BBM beli pakai segala jenis drum, termasuk plastik tidak masalah,” ucap Dwi Priawan, salah seorang pedagang BBM eceran.

Mulanya, pengetatan dengan pelarangan menggunakan drum khusus untuk pembelian premium saja. Sedangkan untuk pembelian pertalite atau pertamax masih diperbolehkan. Namun, sejak 2019 lalu, keluar kebijakan baru tentang pelarangan membeli pertalite dan pertamax dengan drum plastik. “Harus drum besi,” ungkapnya.

Dwi Priawan yang berdagang BBM eceran di Jl A Yani sejak sewindu lalu ini mengaku, kebijakan baru tersebut sejatinya menguntungkan dirinya sebagai pedagang BBM eceran botol. “Kalau pertalite dilarang beli pakai drum, itu enak ke kami pedagang bensin botol,” jelasnya.

Sebab, persaingan antara pedagang BBM eceran botol dengan pertamini itu sama. Kebijakan baru dilarang membeli pertalite dengan drum tersebut diberlakukan per 1 Februari. Dia mengaku, saat pertalite diperbolehkan memakai drum, yang paling banyak membeli di SPBU adalah para pengusaha pertamini. “Kalau pom mini itu belinya banyak. Pakai mobil. Kami pedagang bensin botol beli pakai motor saja,” jelasnya.

Dwi mengaku, pembeli BBM eceran paling banyak adalah pertalite daripada pertamax. Dalam sehari saja, setidaknya bisa menjual 26 liter. Cara dia untuk mendapatkan pertalite, biasanya membeli pakai motornya dengan mengisi penuh tangki kendaraan. Selanjutnya dikuras. “Saya pakai motor NMAX. Itu sehari empat sampai lima kali mengisi full,” terangnya.

Sementara itu, Sales Brand Manager (SBM) Pertamina area Jember, Lumajang, dan Bondowoso, Agung Surya Pranata mengatakan, kebijakan pelarangan pembelian pertalite pakai drum berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Sebenarnya aturan dilarang beli BBM dengan drum itu sudah lama, sekitar 2017 lalu, dan penerapannya bertahap,” terangnya.

Dia menjelaskan, peraturan terbaru tentang pembelian pertalite di SPBU tersebut karena untuk mendekatkan pengecer bensin agar menjual BBM yang ramah lingkungan. Merujuk dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), pemerintah menerapkan penggunaan BBM tipe euro 4 atau setara BBM dengan oktan 91 ke atas. Sementara, untuk pertalite sendiri, oktannya masih di angka 90, sedangkan pertamax 91.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini, pedagang bahan bakar minyak (BBM) eceran tidak lagi bisa memborong pertalite di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sebab, Pertamina sendiri mulai menerapkan kebijakan baru, yaitu pelarangan pembelian pertalite dengan drum.

Kebijakan ini sejatinya bukan hal yang baru lagi di SPBU milik Pertamina. Jauh sebelumnya, terdapat larangan membeli premium subsidi dengan drum. Selain itu, juga mulai diberlakukan pelarangan membeli pertalite ataupun pertamax dengan drum plastik dan harus dari logam. “Awalnya, semua BBM beli pakai segala jenis drum, termasuk plastik tidak masalah,” ucap Dwi Priawan, salah seorang pedagang BBM eceran.

Mulanya, pengetatan dengan pelarangan menggunakan drum khusus untuk pembelian premium saja. Sedangkan untuk pembelian pertalite atau pertamax masih diperbolehkan. Namun, sejak 2019 lalu, keluar kebijakan baru tentang pelarangan membeli pertalite dan pertamax dengan drum plastik. “Harus drum besi,” ungkapnya.

Dwi Priawan yang berdagang BBM eceran di Jl A Yani sejak sewindu lalu ini mengaku, kebijakan baru tersebut sejatinya menguntungkan dirinya sebagai pedagang BBM eceran botol. “Kalau pertalite dilarang beli pakai drum, itu enak ke kami pedagang bensin botol,” jelasnya.

Sebab, persaingan antara pedagang BBM eceran botol dengan pertamini itu sama. Kebijakan baru dilarang membeli pertalite dengan drum tersebut diberlakukan per 1 Februari. Dia mengaku, saat pertalite diperbolehkan memakai drum, yang paling banyak membeli di SPBU adalah para pengusaha pertamini. “Kalau pom mini itu belinya banyak. Pakai mobil. Kami pedagang bensin botol beli pakai motor saja,” jelasnya.

Dwi mengaku, pembeli BBM eceran paling banyak adalah pertalite daripada pertamax. Dalam sehari saja, setidaknya bisa menjual 26 liter. Cara dia untuk mendapatkan pertalite, biasanya membeli pakai motornya dengan mengisi penuh tangki kendaraan. Selanjutnya dikuras. “Saya pakai motor NMAX. Itu sehari empat sampai lima kali mengisi full,” terangnya.

Sementara itu, Sales Brand Manager (SBM) Pertamina area Jember, Lumajang, dan Bondowoso, Agung Surya Pranata mengatakan, kebijakan pelarangan pembelian pertalite pakai drum berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Sebenarnya aturan dilarang beli BBM dengan drum itu sudah lama, sekitar 2017 lalu, dan penerapannya bertahap,” terangnya.

Dia menjelaskan, peraturan terbaru tentang pembelian pertalite di SPBU tersebut karena untuk mendekatkan pengecer bensin agar menjual BBM yang ramah lingkungan. Merujuk dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), pemerintah menerapkan penggunaan BBM tipe euro 4 atau setara BBM dengan oktan 91 ke atas. Sementara, untuk pertalite sendiri, oktannya masih di angka 90, sedangkan pertamax 91.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/