alexametrics
25 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Intip Karya ini, Bekas Lampu Merah Bisa Jadi Ornamen Artistik

Pemikiran untuk sukses secara instan kerap meracuni orang. Akibatnya, mereka justru bingung memilih pekerjaan hingga akhirnya menganggur. Tapi, warga di Jalan Teratai, Kaliwates, ini berbeda. Bermodal tangan kreatif, dia berani membuka usaha dari barang bekas yang ada di sekitar. Bagaimana prosesnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – RINTIK hujan, siang kemarin, membasahi jalanan di Kabupaten Jember. Begitu reda, di balik pintu gerbang terlihat seorang pria yang asyik melanjutkan pekerjaannya. Dia merangkai barang bekas sebuah lampu merah atau traffic light.

Bagi warga Jember, lampu merah bukan hal baru. Sebab, kerap dijumpai ketika melintas di jalanan kota, di simpang tiga ataupun perempatan. Tetapi, tidak semua orang mendapatkan peluang bisnis dari lampu merah. Apalagi, pengadaan proyek lampu hijau, kuning, dan merah tersebut kebanyakan didapat oleh perusahaan-perusahaan besar.

Ega alias Pak Andra membuat lampu merah itu. Dia bekerja sebagai eksekutor, sementara ide dan konsepnya dari Agung Kurniawan, warga yang tinggal di Jalan Teratai, Kelurahan/Kecamatan Kaliwates Jember. Ega dan Agung membuat ornamen artistik layaknya lampu merah untuk di jual di kafe, warung, hotel, serta berbagai tempat lain. “Pak Agung saja yang menjelaskan, kalau saya hanya eksekutornya,” ucap Ega. Dia pun mengutak-atik kaca lampu sebelum dipasang secara presisi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Agung mengaku, lampu merah yang dikerjakannya bukan untuk dipasang di perempatan atau di persimpangan jalan. Maklum, lampu merah yang dibuat itu hanya barang bekas. “Awalnya, saya beli bekas traffic light di Situbondo. Ada 60 unit barang bekas. Dulu tak dianggap karena seperti sampah. Tetapi, setelah diberi sentuhan, banyak orang senang,” katanya.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, 60 unit bekas lampu merah terjual habis. Agung menyebut, orang zaman sekarang banyak yang suka visual dan itu menjadi peluang bisnis. “Banyak penikmat visual, tugas saya bagaimana memvisualisasikan barang agar dapat dinikmati,” ucapnya.

Sejak itulah, dia membuat ornamen lampu artistik dengan sasaran pasar kafe-kafe dan sebagainya. “Setelah bekas lampu merah habis, otomatis nyarinya susah. Akhirnya, saya dan Ega membuatnya dari barang bekas. Sampai sekarang pesanan terus-terusan. Mau tidak mau, kami harus melayani dan membuat baru. Jadi, bukan sisa dari traffic light lagi,” ungkapnya.

Selain membuat ornamen lampu merah, dia pun banyak memproduksi sejumlah barang dari bahan bekas. Agung menyebut, di era sekarang orang harus kreatif. Tidak boleh berpikir instan agar langsung sukses tanpa melakukan perjuangan. “Apa pun, pasti ada prosesnya. Jika bingung kerja, sebenarnya apa pun yang ada di sekitar kita bisa dikerjakan,” ucap pria yang juga membuat ornamen lampu dari strongking bekas.

- Advertisement -

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – RINTIK hujan, siang kemarin, membasahi jalanan di Kabupaten Jember. Begitu reda, di balik pintu gerbang terlihat seorang pria yang asyik melanjutkan pekerjaannya. Dia merangkai barang bekas sebuah lampu merah atau traffic light.

Bagi warga Jember, lampu merah bukan hal baru. Sebab, kerap dijumpai ketika melintas di jalanan kota, di simpang tiga ataupun perempatan. Tetapi, tidak semua orang mendapatkan peluang bisnis dari lampu merah. Apalagi, pengadaan proyek lampu hijau, kuning, dan merah tersebut kebanyakan didapat oleh perusahaan-perusahaan besar.

Ega alias Pak Andra membuat lampu merah itu. Dia bekerja sebagai eksekutor, sementara ide dan konsepnya dari Agung Kurniawan, warga yang tinggal di Jalan Teratai, Kelurahan/Kecamatan Kaliwates Jember. Ega dan Agung membuat ornamen artistik layaknya lampu merah untuk di jual di kafe, warung, hotel, serta berbagai tempat lain. “Pak Agung saja yang menjelaskan, kalau saya hanya eksekutornya,” ucap Ega. Dia pun mengutak-atik kaca lampu sebelum dipasang secara presisi.

Agung mengaku, lampu merah yang dikerjakannya bukan untuk dipasang di perempatan atau di persimpangan jalan. Maklum, lampu merah yang dibuat itu hanya barang bekas. “Awalnya, saya beli bekas traffic light di Situbondo. Ada 60 unit barang bekas. Dulu tak dianggap karena seperti sampah. Tetapi, setelah diberi sentuhan, banyak orang senang,” katanya.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, 60 unit bekas lampu merah terjual habis. Agung menyebut, orang zaman sekarang banyak yang suka visual dan itu menjadi peluang bisnis. “Banyak penikmat visual, tugas saya bagaimana memvisualisasikan barang agar dapat dinikmati,” ucapnya.

Sejak itulah, dia membuat ornamen lampu artistik dengan sasaran pasar kafe-kafe dan sebagainya. “Setelah bekas lampu merah habis, otomatis nyarinya susah. Akhirnya, saya dan Ega membuatnya dari barang bekas. Sampai sekarang pesanan terus-terusan. Mau tidak mau, kami harus melayani dan membuat baru. Jadi, bukan sisa dari traffic light lagi,” ungkapnya.

Selain membuat ornamen lampu merah, dia pun banyak memproduksi sejumlah barang dari bahan bekas. Agung menyebut, di era sekarang orang harus kreatif. Tidak boleh berpikir instan agar langsung sukses tanpa melakukan perjuangan. “Apa pun, pasti ada prosesnya. Jika bingung kerja, sebenarnya apa pun yang ada di sekitar kita bisa dikerjakan,” ucap pria yang juga membuat ornamen lampu dari strongking bekas.

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – RINTIK hujan, siang kemarin, membasahi jalanan di Kabupaten Jember. Begitu reda, di balik pintu gerbang terlihat seorang pria yang asyik melanjutkan pekerjaannya. Dia merangkai barang bekas sebuah lampu merah atau traffic light.

Bagi warga Jember, lampu merah bukan hal baru. Sebab, kerap dijumpai ketika melintas di jalanan kota, di simpang tiga ataupun perempatan. Tetapi, tidak semua orang mendapatkan peluang bisnis dari lampu merah. Apalagi, pengadaan proyek lampu hijau, kuning, dan merah tersebut kebanyakan didapat oleh perusahaan-perusahaan besar.

Ega alias Pak Andra membuat lampu merah itu. Dia bekerja sebagai eksekutor, sementara ide dan konsepnya dari Agung Kurniawan, warga yang tinggal di Jalan Teratai, Kelurahan/Kecamatan Kaliwates Jember. Ega dan Agung membuat ornamen artistik layaknya lampu merah untuk di jual di kafe, warung, hotel, serta berbagai tempat lain. “Pak Agung saja yang menjelaskan, kalau saya hanya eksekutornya,” ucap Ega. Dia pun mengutak-atik kaca lampu sebelum dipasang secara presisi.

Agung mengaku, lampu merah yang dikerjakannya bukan untuk dipasang di perempatan atau di persimpangan jalan. Maklum, lampu merah yang dibuat itu hanya barang bekas. “Awalnya, saya beli bekas traffic light di Situbondo. Ada 60 unit barang bekas. Dulu tak dianggap karena seperti sampah. Tetapi, setelah diberi sentuhan, banyak orang senang,” katanya.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, 60 unit bekas lampu merah terjual habis. Agung menyebut, orang zaman sekarang banyak yang suka visual dan itu menjadi peluang bisnis. “Banyak penikmat visual, tugas saya bagaimana memvisualisasikan barang agar dapat dinikmati,” ucapnya.

Sejak itulah, dia membuat ornamen lampu artistik dengan sasaran pasar kafe-kafe dan sebagainya. “Setelah bekas lampu merah habis, otomatis nyarinya susah. Akhirnya, saya dan Ega membuatnya dari barang bekas. Sampai sekarang pesanan terus-terusan. Mau tidak mau, kami harus melayani dan membuat baru. Jadi, bukan sisa dari traffic light lagi,” ungkapnya.

Selain membuat ornamen lampu merah, dia pun banyak memproduksi sejumlah barang dari bahan bekas. Agung menyebut, di era sekarang orang harus kreatif. Tidak boleh berpikir instan agar langsung sukses tanpa melakukan perjuangan. “Apa pun, pasti ada prosesnya. Jika bingung kerja, sebenarnya apa pun yang ada di sekitar kita bisa dikerjakan,” ucap pria yang juga membuat ornamen lampu dari strongking bekas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca