alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Gubernur Khofifah Kaji Dugaan Kelangkaan Minyak

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Setelah dilakukan subsidi serta normalisasi stok minyak goreng, beberapa pekan lalu, kini minyak goreng di Kabupaten Jember kembali langka. Kelangkaan tersebut terus disorot pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pada kunjungan di Kabupaten Jember yang dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dia menyebut, belakangan ini pihaknya masih melihat adanya kelangkaan minyak goreng, terutama di toko ritel modern. Ironisnya, jumlah produksi minyak di Jawa Timur mencapai 63 ribu ton per bulan. Sedangkan kebutuhan masyarakat dan dunia industri itu hanya mencapai 59 ribu ton. “Kita ini surplus 4 ribu ton per bulan. Tapi kita melihat banyak kekosongan minyak di toko ritel modern atau minimarket,” katanya.

Dia mengatakan, di pasar tradisional, stok minyak goreng memang ada, tapi harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Sejatinya, HET minyak kemasan premium sebesar Rp 14.000 per liter. Kemudian, kemasan sederhana seharusnya Rp 13.500 per liter, serta untuk minyak curah Rp 11.500 per liter. “Tapi, mendapat HET sesuai di pasar tradisional ternyata tidak mudah,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Kementerian Perdagangan dan beberapa kali mengunjungi pabrik produsen minyak goreng bersama kapolda. Kenyataannya, pabriknya tidak sedikit pun mengurangi produksi. Namun, realitas di pasar, barangnya langka. “Jadi, ada rantai yang terputus di antara pabrik dengan konsumen terakhir. Ada missing link di situ,” tuturnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Setelah dilakukan subsidi serta normalisasi stok minyak goreng, beberapa pekan lalu, kini minyak goreng di Kabupaten Jember kembali langka. Kelangkaan tersebut terus disorot pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pada kunjungan di Kabupaten Jember yang dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dia menyebut, belakangan ini pihaknya masih melihat adanya kelangkaan minyak goreng, terutama di toko ritel modern. Ironisnya, jumlah produksi minyak di Jawa Timur mencapai 63 ribu ton per bulan. Sedangkan kebutuhan masyarakat dan dunia industri itu hanya mencapai 59 ribu ton. “Kita ini surplus 4 ribu ton per bulan. Tapi kita melihat banyak kekosongan minyak di toko ritel modern atau minimarket,” katanya.

Dia mengatakan, di pasar tradisional, stok minyak goreng memang ada, tapi harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Sejatinya, HET minyak kemasan premium sebesar Rp 14.000 per liter. Kemudian, kemasan sederhana seharusnya Rp 13.500 per liter, serta untuk minyak curah Rp 11.500 per liter. “Tapi, mendapat HET sesuai di pasar tradisional ternyata tidak mudah,” lanjutnya.

Pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Kementerian Perdagangan dan beberapa kali mengunjungi pabrik produsen minyak goreng bersama kapolda. Kenyataannya, pabriknya tidak sedikit pun mengurangi produksi. Namun, realitas di pasar, barangnya langka. “Jadi, ada rantai yang terputus di antara pabrik dengan konsumen terakhir. Ada missing link di situ,” tuturnya.

SUMBERSARI, Radar Jember – Setelah dilakukan subsidi serta normalisasi stok minyak goreng, beberapa pekan lalu, kini minyak goreng di Kabupaten Jember kembali langka. Kelangkaan tersebut terus disorot pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pada kunjungan di Kabupaten Jember yang dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dia menyebut, belakangan ini pihaknya masih melihat adanya kelangkaan minyak goreng, terutama di toko ritel modern. Ironisnya, jumlah produksi minyak di Jawa Timur mencapai 63 ribu ton per bulan. Sedangkan kebutuhan masyarakat dan dunia industri itu hanya mencapai 59 ribu ton. “Kita ini surplus 4 ribu ton per bulan. Tapi kita melihat banyak kekosongan minyak di toko ritel modern atau minimarket,” katanya.

Dia mengatakan, di pasar tradisional, stok minyak goreng memang ada, tapi harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Sejatinya, HET minyak kemasan premium sebesar Rp 14.000 per liter. Kemudian, kemasan sederhana seharusnya Rp 13.500 per liter, serta untuk minyak curah Rp 11.500 per liter. “Tapi, mendapat HET sesuai di pasar tradisional ternyata tidak mudah,” lanjutnya.

Pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Kementerian Perdagangan dan beberapa kali mengunjungi pabrik produsen minyak goreng bersama kapolda. Kenyataannya, pabriknya tidak sedikit pun mengurangi produksi. Namun, realitas di pasar, barangnya langka. “Jadi, ada rantai yang terputus di antara pabrik dengan konsumen terakhir. Ada missing link di situ,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/