alexametrics
32 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

Potret Buram Ketenagakerjaan di Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – GUNAWAN masih teringat ketika dia diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya, akhir Juni 2020 lalu. Kala itu, dia merupakan karyawan kedai mie yang populer di Jember. Pandemi yang menghantam Jember sejak Maret sebelumnya memukul usaha di tempatnya bekerja. Omzet kedai mi tersebut turun akibat pembatasan jam operasional. Di sisi lain, daya beli masyarakat juga turun drastis hingga memengaruhi penjualan.

Sejak di-PHK, Gunawan merasa khawatir akan masa depannya. Dia juga sering merasa cemas dan bingung sendiri. Bahkan rasa percaya diri untuk berbaur dengan lingkungan sosialnya hilang seketika. Namun, dia kembali optimistis mencari pekerjaan baru karena berpikir hidup harus terus berlanjut. “Saya ada tanggungan cicilan. Bagaimana cara membayarnya? Itu yang bikin saya bingung,” tuturnya.

Setelah lebih enam bulan menganggur, Gunawan akhirnya diterima di salah satu kedai mi yang relatif baru berdiri. Dia bekerja malam sejak pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari. Upah yang ia dapat tak jauh berbeda dengan tempat ia bekerja sebelumnya. “Alhamdulillah, saya dapat kerja di tempat yang sekarang ini,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Novita, seorang pekerja lepas yang bekerja di salah satu media lokal, bercerita, walaupun bekerja paruh waktu, dia masih sering ke kantor untuk sekadar mengedit video. November 2020 menjadi bulan terakhirnya bekerja sebagai editor video. Media tempatnya bekerja kolaps, pendapatan iklan seret, dan akhirnya memberhentikan semua tenaga kerja dan menutup perusahaan.

Medio 2020, dia menambahkan, upahnya sempat tersendat. Mulai dari tidak tepatnya pembayaran hingga ada pemotongan upah. Kini perempuan yang akrab disapa Novi itu masih berikhtiar agar segera mendapatkan pekerjaan lagi. “Kantor saya sudah tutup akhir tahun lalu,” kisahnya.

Secara umum, pandemi telah berdampak buruk pada ekonomi sepanjang 2020 lalu hingga berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Banyak buruh yang di-PHK, sementara peluang kerja baru belum terbuka. Apa yang dialami oleh Gunawan dan Novita ini hanya potret kecil dari gambaran tentang kondisi ketenagakerjaan di Jember. Sebab, jumlah pekerja yang terdampak pagebluk angkanya cukup banyak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, jumlah pengangguran selama pandemi mengalami kenaikan yang cukup tajam. Bahkan, selama tiga tahun terakhir, pada 2020 itu jumlahnya yang paling tinggi. Jika membandingkan dengan tahun sebelumnya, pada 2018 angka pengangguran terbuka mencapai 4,01 persen, 2019 menurun menjadi 3,16 persen. Jumlah itu melonjak drastis ketika pandemi datang hingga pada 2020 jumlahnya mencapai 5,12 persen dari seluruh penduduk di Jember. “Jadi, selama tiga tahun terakhir, di masa Covid-19 ini yang paling tinggi yakni pada tahun 2020,” Kata Kepala BPS Jember Arif Joko Setejo, kemarin (12/9).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – GUNAWAN masih teringat ketika dia diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya, akhir Juni 2020 lalu. Kala itu, dia merupakan karyawan kedai mie yang populer di Jember. Pandemi yang menghantam Jember sejak Maret sebelumnya memukul usaha di tempatnya bekerja. Omzet kedai mi tersebut turun akibat pembatasan jam operasional. Di sisi lain, daya beli masyarakat juga turun drastis hingga memengaruhi penjualan.

Sejak di-PHK, Gunawan merasa khawatir akan masa depannya. Dia juga sering merasa cemas dan bingung sendiri. Bahkan rasa percaya diri untuk berbaur dengan lingkungan sosialnya hilang seketika. Namun, dia kembali optimistis mencari pekerjaan baru karena berpikir hidup harus terus berlanjut. “Saya ada tanggungan cicilan. Bagaimana cara membayarnya? Itu yang bikin saya bingung,” tuturnya.

Setelah lebih enam bulan menganggur, Gunawan akhirnya diterima di salah satu kedai mi yang relatif baru berdiri. Dia bekerja malam sejak pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari. Upah yang ia dapat tak jauh berbeda dengan tempat ia bekerja sebelumnya. “Alhamdulillah, saya dapat kerja di tempat yang sekarang ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Novita, seorang pekerja lepas yang bekerja di salah satu media lokal, bercerita, walaupun bekerja paruh waktu, dia masih sering ke kantor untuk sekadar mengedit video. November 2020 menjadi bulan terakhirnya bekerja sebagai editor video. Media tempatnya bekerja kolaps, pendapatan iklan seret, dan akhirnya memberhentikan semua tenaga kerja dan menutup perusahaan.

Medio 2020, dia menambahkan, upahnya sempat tersendat. Mulai dari tidak tepatnya pembayaran hingga ada pemotongan upah. Kini perempuan yang akrab disapa Novi itu masih berikhtiar agar segera mendapatkan pekerjaan lagi. “Kantor saya sudah tutup akhir tahun lalu,” kisahnya.

Secara umum, pandemi telah berdampak buruk pada ekonomi sepanjang 2020 lalu hingga berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Banyak buruh yang di-PHK, sementara peluang kerja baru belum terbuka. Apa yang dialami oleh Gunawan dan Novita ini hanya potret kecil dari gambaran tentang kondisi ketenagakerjaan di Jember. Sebab, jumlah pekerja yang terdampak pagebluk angkanya cukup banyak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, jumlah pengangguran selama pandemi mengalami kenaikan yang cukup tajam. Bahkan, selama tiga tahun terakhir, pada 2020 itu jumlahnya yang paling tinggi. Jika membandingkan dengan tahun sebelumnya, pada 2018 angka pengangguran terbuka mencapai 4,01 persen, 2019 menurun menjadi 3,16 persen. Jumlah itu melonjak drastis ketika pandemi datang hingga pada 2020 jumlahnya mencapai 5,12 persen dari seluruh penduduk di Jember. “Jadi, selama tiga tahun terakhir, di masa Covid-19 ini yang paling tinggi yakni pada tahun 2020,” Kata Kepala BPS Jember Arif Joko Setejo, kemarin (12/9).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – GUNAWAN masih teringat ketika dia diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya, akhir Juni 2020 lalu. Kala itu, dia merupakan karyawan kedai mie yang populer di Jember. Pandemi yang menghantam Jember sejak Maret sebelumnya memukul usaha di tempatnya bekerja. Omzet kedai mi tersebut turun akibat pembatasan jam operasional. Di sisi lain, daya beli masyarakat juga turun drastis hingga memengaruhi penjualan.

Sejak di-PHK, Gunawan merasa khawatir akan masa depannya. Dia juga sering merasa cemas dan bingung sendiri. Bahkan rasa percaya diri untuk berbaur dengan lingkungan sosialnya hilang seketika. Namun, dia kembali optimistis mencari pekerjaan baru karena berpikir hidup harus terus berlanjut. “Saya ada tanggungan cicilan. Bagaimana cara membayarnya? Itu yang bikin saya bingung,” tuturnya.

Setelah lebih enam bulan menganggur, Gunawan akhirnya diterima di salah satu kedai mi yang relatif baru berdiri. Dia bekerja malam sejak pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari. Upah yang ia dapat tak jauh berbeda dengan tempat ia bekerja sebelumnya. “Alhamdulillah, saya dapat kerja di tempat yang sekarang ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Novita, seorang pekerja lepas yang bekerja di salah satu media lokal, bercerita, walaupun bekerja paruh waktu, dia masih sering ke kantor untuk sekadar mengedit video. November 2020 menjadi bulan terakhirnya bekerja sebagai editor video. Media tempatnya bekerja kolaps, pendapatan iklan seret, dan akhirnya memberhentikan semua tenaga kerja dan menutup perusahaan.

Medio 2020, dia menambahkan, upahnya sempat tersendat. Mulai dari tidak tepatnya pembayaran hingga ada pemotongan upah. Kini perempuan yang akrab disapa Novi itu masih berikhtiar agar segera mendapatkan pekerjaan lagi. “Kantor saya sudah tutup akhir tahun lalu,” kisahnya.

Secara umum, pandemi telah berdampak buruk pada ekonomi sepanjang 2020 lalu hingga berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Banyak buruh yang di-PHK, sementara peluang kerja baru belum terbuka. Apa yang dialami oleh Gunawan dan Novita ini hanya potret kecil dari gambaran tentang kondisi ketenagakerjaan di Jember. Sebab, jumlah pekerja yang terdampak pagebluk angkanya cukup banyak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, jumlah pengangguran selama pandemi mengalami kenaikan yang cukup tajam. Bahkan, selama tiga tahun terakhir, pada 2020 itu jumlahnya yang paling tinggi. Jika membandingkan dengan tahun sebelumnya, pada 2018 angka pengangguran terbuka mencapai 4,01 persen, 2019 menurun menjadi 3,16 persen. Jumlah itu melonjak drastis ketika pandemi datang hingga pada 2020 jumlahnya mencapai 5,12 persen dari seluruh penduduk di Jember. “Jadi, selama tiga tahun terakhir, di masa Covid-19 ini yang paling tinggi yakni pada tahun 2020,” Kata Kepala BPS Jember Arif Joko Setejo, kemarin (12/9).


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Solusi Sampah di Jember dari Bupati

Muncul Banyak Wisata Alam