alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Modal Kepepet, Bisa Antar Berkilo-kilo Beras sampai Spring Bed

Di balik cerita kelam, pasti ada bayang-bayang harapan. Seperti pada sektor tenaga kerja di masa pandemi ini. Ketika beberapa perusahaan kolaps hingga mem-PHK karyawan, ada usaha yang justru berkembang hingga menyerap banyak tenaga kerja. Seperti Bang Jek Jember ini, perusahaan rintisan lokal yang bergerak di sektor jasa antar barang.

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, Ahmad Amirullah tampak asyik mengobrol dengan beberapa rider di salah satu warung kopi di Kelurahan/Kecamatan Sumbersari Jember. Para rider atau pengendara itu datang silih berganti. Mereka mengucapkan salam, bersalaman dengan mengepalkan tangan, cek HP, lalu langsung cabut lagi. Sementara itu, pria yang akrab disapa Amir itu tampak fokus memantau layar ponsel dan mengawasi kinerja ratusan orang yang dia sebut sebagai rekan kerja itu.

Amir merupakan pendiri sekaligus Leader Bang Jek Jember, sebuah perusahaan rintisan lokal yang bergerak di sektor jasa kurir. Kali pertama merintis usaha itu, dia hanya bermodalkan sepeda motor, HP, dan uang Rp 50 ribu. Namun, siapa sangka, kini dirinya sudah mempekerjakan 140 orang. Perusahaannya pun menjadi oasis. Di tengah situasi serba sulit, usahanya tumbuh dan menjadi jawaban atas banyaknya jumlah pengangguran di Jember.

Meski begitu, Amir mengaku, capaiannya ini tidaklah instan. Banyak proses yang sudah dilalui. Jatuh, berdiri. Gagal, mencoba lagi. Dia beberapa kali juga sempat bekerja di sejumlah perusahaan. Seperti perbankan hingga menjadi sales. Bahkan, beberapa usaha mandiri yang ditekuninya juga ambyar. Sampai-sampai modalnya habis dan menganggur dua bulan. “Utang lumayan banyak, akhirnya berpikir untuk jadi ojek,” ungkap warga yang tinggal di Perumahan Dharma Alam, Kecamatan Kaliwates Jember, tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sambil lalu, ide pun muncul untuk menjual jasa antar pada Desember 2016. Baik barang maupun orang. Untuk promosi, dia juga gencar publikasi di berbagai media sosial. “Baru tiga hari, ada pelanggan. Lama-kelamaan bertambah dan butuh bantuan,” ucapnya.

Total karyawan yang tergabung dalam usahanya sebelum pandemi berjumlah 90 orang. Selama pandemi, justru bertambah jadi 130 orang. Menurut dia, bermacam-macam orang yang datang dan melamar di perusahaan ojek lokal itu. Namun, yang paling banyak adalah mereka yang dirumahkan karena pandemi.

Namun demikian, pria 39 tahun ini mengungkapkan, perjalanan para rider itu tak selalu mulus. Mereka juga sempat khawatir tak mendapatkan orderan selama pandemi. Nyatanya, apa yang menjadi kekhawatiran itu tak terbukti. Bukannya sepi, pesanan Bang Jek justru naik. Apalagi selama masa PPKM. Bahkan, sehari bisa mencapai ribuan orderan. Paling banyak mencapai 1.300 orderan. “Sampai-sampai jari tangan adminya menggunakan koyok karena terlalu banyak merespons pemesan,” lanjutnya.

Bang Jek merupakan jasa kurir yang menggunakan pesanan via pesan WhatsApp, bukan aplikasi sebagaimana ojek daring lain. Namun, usaha ini punya keunggulan ketimbang kompetitornya yang berada di bawah perusahaan raksasa itu. Sebab, Bang Jek mampu menjangkau yang tak terjangkau oleh para kompetitornya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, Ahmad Amirullah tampak asyik mengobrol dengan beberapa rider di salah satu warung kopi di Kelurahan/Kecamatan Sumbersari Jember. Para rider atau pengendara itu datang silih berganti. Mereka mengucapkan salam, bersalaman dengan mengepalkan tangan, cek HP, lalu langsung cabut lagi. Sementara itu, pria yang akrab disapa Amir itu tampak fokus memantau layar ponsel dan mengawasi kinerja ratusan orang yang dia sebut sebagai rekan kerja itu.

Amir merupakan pendiri sekaligus Leader Bang Jek Jember, sebuah perusahaan rintisan lokal yang bergerak di sektor jasa kurir. Kali pertama merintis usaha itu, dia hanya bermodalkan sepeda motor, HP, dan uang Rp 50 ribu. Namun, siapa sangka, kini dirinya sudah mempekerjakan 140 orang. Perusahaannya pun menjadi oasis. Di tengah situasi serba sulit, usahanya tumbuh dan menjadi jawaban atas banyaknya jumlah pengangguran di Jember.

Meski begitu, Amir mengaku, capaiannya ini tidaklah instan. Banyak proses yang sudah dilalui. Jatuh, berdiri. Gagal, mencoba lagi. Dia beberapa kali juga sempat bekerja di sejumlah perusahaan. Seperti perbankan hingga menjadi sales. Bahkan, beberapa usaha mandiri yang ditekuninya juga ambyar. Sampai-sampai modalnya habis dan menganggur dua bulan. “Utang lumayan banyak, akhirnya berpikir untuk jadi ojek,” ungkap warga yang tinggal di Perumahan Dharma Alam, Kecamatan Kaliwates Jember, tersebut.

Sambil lalu, ide pun muncul untuk menjual jasa antar pada Desember 2016. Baik barang maupun orang. Untuk promosi, dia juga gencar publikasi di berbagai media sosial. “Baru tiga hari, ada pelanggan. Lama-kelamaan bertambah dan butuh bantuan,” ucapnya.

Total karyawan yang tergabung dalam usahanya sebelum pandemi berjumlah 90 orang. Selama pandemi, justru bertambah jadi 130 orang. Menurut dia, bermacam-macam orang yang datang dan melamar di perusahaan ojek lokal itu. Namun, yang paling banyak adalah mereka yang dirumahkan karena pandemi.

Namun demikian, pria 39 tahun ini mengungkapkan, perjalanan para rider itu tak selalu mulus. Mereka juga sempat khawatir tak mendapatkan orderan selama pandemi. Nyatanya, apa yang menjadi kekhawatiran itu tak terbukti. Bukannya sepi, pesanan Bang Jek justru naik. Apalagi selama masa PPKM. Bahkan, sehari bisa mencapai ribuan orderan. Paling banyak mencapai 1.300 orderan. “Sampai-sampai jari tangan adminya menggunakan koyok karena terlalu banyak merespons pemesan,” lanjutnya.

Bang Jek merupakan jasa kurir yang menggunakan pesanan via pesan WhatsApp, bukan aplikasi sebagaimana ojek daring lain. Namun, usaha ini punya keunggulan ketimbang kompetitornya yang berada di bawah perusahaan raksasa itu. Sebab, Bang Jek mampu menjangkau yang tak terjangkau oleh para kompetitornya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, Ahmad Amirullah tampak asyik mengobrol dengan beberapa rider di salah satu warung kopi di Kelurahan/Kecamatan Sumbersari Jember. Para rider atau pengendara itu datang silih berganti. Mereka mengucapkan salam, bersalaman dengan mengepalkan tangan, cek HP, lalu langsung cabut lagi. Sementara itu, pria yang akrab disapa Amir itu tampak fokus memantau layar ponsel dan mengawasi kinerja ratusan orang yang dia sebut sebagai rekan kerja itu.

Amir merupakan pendiri sekaligus Leader Bang Jek Jember, sebuah perusahaan rintisan lokal yang bergerak di sektor jasa kurir. Kali pertama merintis usaha itu, dia hanya bermodalkan sepeda motor, HP, dan uang Rp 50 ribu. Namun, siapa sangka, kini dirinya sudah mempekerjakan 140 orang. Perusahaannya pun menjadi oasis. Di tengah situasi serba sulit, usahanya tumbuh dan menjadi jawaban atas banyaknya jumlah pengangguran di Jember.

Meski begitu, Amir mengaku, capaiannya ini tidaklah instan. Banyak proses yang sudah dilalui. Jatuh, berdiri. Gagal, mencoba lagi. Dia beberapa kali juga sempat bekerja di sejumlah perusahaan. Seperti perbankan hingga menjadi sales. Bahkan, beberapa usaha mandiri yang ditekuninya juga ambyar. Sampai-sampai modalnya habis dan menganggur dua bulan. “Utang lumayan banyak, akhirnya berpikir untuk jadi ojek,” ungkap warga yang tinggal di Perumahan Dharma Alam, Kecamatan Kaliwates Jember, tersebut.

Sambil lalu, ide pun muncul untuk menjual jasa antar pada Desember 2016. Baik barang maupun orang. Untuk promosi, dia juga gencar publikasi di berbagai media sosial. “Baru tiga hari, ada pelanggan. Lama-kelamaan bertambah dan butuh bantuan,” ucapnya.

Total karyawan yang tergabung dalam usahanya sebelum pandemi berjumlah 90 orang. Selama pandemi, justru bertambah jadi 130 orang. Menurut dia, bermacam-macam orang yang datang dan melamar di perusahaan ojek lokal itu. Namun, yang paling banyak adalah mereka yang dirumahkan karena pandemi.

Namun demikian, pria 39 tahun ini mengungkapkan, perjalanan para rider itu tak selalu mulus. Mereka juga sempat khawatir tak mendapatkan orderan selama pandemi. Nyatanya, apa yang menjadi kekhawatiran itu tak terbukti. Bukannya sepi, pesanan Bang Jek justru naik. Apalagi selama masa PPKM. Bahkan, sehari bisa mencapai ribuan orderan. Paling banyak mencapai 1.300 orderan. “Sampai-sampai jari tangan adminya menggunakan koyok karena terlalu banyak merespons pemesan,” lanjutnya.

Bang Jek merupakan jasa kurir yang menggunakan pesanan via pesan WhatsApp, bukan aplikasi sebagaimana ojek daring lain. Namun, usaha ini punya keunggulan ketimbang kompetitornya yang berada di bawah perusahaan raksasa itu. Sebab, Bang Jek mampu menjangkau yang tak terjangkau oleh para kompetitornya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/