alexametrics
25.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Sepi Orderan, Ambil Peluang Jahit Masker

Mobile_AP_Rectangle 1

AMBULU, RADARJEMBER.ID – KERJA keras dalam segala hal tak akan membohongi hasil. Di Dusun Krajan Lor, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, ada seorang penjahit yang terus bertahan dan tumbuh meski pandemi korona belum berakhir. Kreativitasnya untuk tetap bangkit bisa menjadi inspirasi, sekalipun usaha yang utama masih terbilang sepi.

Penjahit itu bernama Siti Munawaroh. Sudah sejak lama, dirinya menjadi seorang penjahit pakaian. Namun, pada saat pandemi terjadi, jasa jahit pakaian maupun pembuatan pakaian baru diakuinya sepi. Lantas, kebutuhan masker di masa pandemi dilirik untuk menjadi bisnis sampingan. “Sebelumnya, saya sudah menjahit pakaian. Karena pandemi dan harus pakai masker, saya melihat masker sudah menjadi kebutuhan,” katanya.

Peluang membuat masker pun dimanfaatkan perempuan yang akrab dipanggil Muna tersebut. Awalnya, dia hanya membuat satu dua masker dan dijual kepada tetangga dan temannya. Siapa sangka, masker buatan Muna banyak yang suka sehingga banyak yang memesan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Masker yang dia produksi akhirnya bermacam-macam. Selain melayani pesanan, Muna juga menyediakan stok dengan berbagai model. Ada yang khusus perempuan dengan corak kain yang cantik. Ada pula yang bisa dipakai perempuan maupun laki-laki. “Semuanya pakai kain yang halus dan cukup tebal,” ulasnya.

Sepinya jasa pembuatan pakaian atau sekadar jasa menjahit ringan, menurut Muna, bisa terbantu oleh penjualan masker. Dalam seminggu, dirinya bisa menjual masker sekitar 100 sampai 150 potong. Kini, masker buatannya bisa memberikan tambahan penghasilan alias menjadi bisnis sampingan. “Sangat menambah penghasilan. Apalagi jahitan pakaian di masa pandemi sepi. Alhamdulillah, banyak warga yang pesan masker,” jelasnya.

- Advertisement -

AMBULU, RADARJEMBER.ID – KERJA keras dalam segala hal tak akan membohongi hasil. Di Dusun Krajan Lor, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, ada seorang penjahit yang terus bertahan dan tumbuh meski pandemi korona belum berakhir. Kreativitasnya untuk tetap bangkit bisa menjadi inspirasi, sekalipun usaha yang utama masih terbilang sepi.

Penjahit itu bernama Siti Munawaroh. Sudah sejak lama, dirinya menjadi seorang penjahit pakaian. Namun, pada saat pandemi terjadi, jasa jahit pakaian maupun pembuatan pakaian baru diakuinya sepi. Lantas, kebutuhan masker di masa pandemi dilirik untuk menjadi bisnis sampingan. “Sebelumnya, saya sudah menjahit pakaian. Karena pandemi dan harus pakai masker, saya melihat masker sudah menjadi kebutuhan,” katanya.

Peluang membuat masker pun dimanfaatkan perempuan yang akrab dipanggil Muna tersebut. Awalnya, dia hanya membuat satu dua masker dan dijual kepada tetangga dan temannya. Siapa sangka, masker buatan Muna banyak yang suka sehingga banyak yang memesan.

Masker yang dia produksi akhirnya bermacam-macam. Selain melayani pesanan, Muna juga menyediakan stok dengan berbagai model. Ada yang khusus perempuan dengan corak kain yang cantik. Ada pula yang bisa dipakai perempuan maupun laki-laki. “Semuanya pakai kain yang halus dan cukup tebal,” ulasnya.

Sepinya jasa pembuatan pakaian atau sekadar jasa menjahit ringan, menurut Muna, bisa terbantu oleh penjualan masker. Dalam seminggu, dirinya bisa menjual masker sekitar 100 sampai 150 potong. Kini, masker buatannya bisa memberikan tambahan penghasilan alias menjadi bisnis sampingan. “Sangat menambah penghasilan. Apalagi jahitan pakaian di masa pandemi sepi. Alhamdulillah, banyak warga yang pesan masker,” jelasnya.

AMBULU, RADARJEMBER.ID – KERJA keras dalam segala hal tak akan membohongi hasil. Di Dusun Krajan Lor, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, ada seorang penjahit yang terus bertahan dan tumbuh meski pandemi korona belum berakhir. Kreativitasnya untuk tetap bangkit bisa menjadi inspirasi, sekalipun usaha yang utama masih terbilang sepi.

Penjahit itu bernama Siti Munawaroh. Sudah sejak lama, dirinya menjadi seorang penjahit pakaian. Namun, pada saat pandemi terjadi, jasa jahit pakaian maupun pembuatan pakaian baru diakuinya sepi. Lantas, kebutuhan masker di masa pandemi dilirik untuk menjadi bisnis sampingan. “Sebelumnya, saya sudah menjahit pakaian. Karena pandemi dan harus pakai masker, saya melihat masker sudah menjadi kebutuhan,” katanya.

Peluang membuat masker pun dimanfaatkan perempuan yang akrab dipanggil Muna tersebut. Awalnya, dia hanya membuat satu dua masker dan dijual kepada tetangga dan temannya. Siapa sangka, masker buatan Muna banyak yang suka sehingga banyak yang memesan.

Masker yang dia produksi akhirnya bermacam-macam. Selain melayani pesanan, Muna juga menyediakan stok dengan berbagai model. Ada yang khusus perempuan dengan corak kain yang cantik. Ada pula yang bisa dipakai perempuan maupun laki-laki. “Semuanya pakai kain yang halus dan cukup tebal,” ulasnya.

Sepinya jasa pembuatan pakaian atau sekadar jasa menjahit ringan, menurut Muna, bisa terbantu oleh penjualan masker. Dalam seminggu, dirinya bisa menjual masker sekitar 100 sampai 150 potong. Kini, masker buatannya bisa memberikan tambahan penghasilan alias menjadi bisnis sampingan. “Sangat menambah penghasilan. Apalagi jahitan pakaian di masa pandemi sepi. Alhamdulillah, banyak warga yang pesan masker,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/