alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Ini Nasib Yang Bukan Pegawai ASN, Polri, Dan TNI

Akibat Perpanjangan PPKM, Ini Nasib Supir Angkot Di Arjasa

Mobile_AP_Rectangle 1

Minimnya pemasukan membuat para sopir juga sering berutang. Bukan saja untuk keperluan makan, melainkan untuk pembelian bahan bakar. “Tadi pagi saya pinjam Rp 30 ribu. Untuk bahan bakar Rp 20 ribu, untuk kopi dan jajan Rp 5 ribu. Ini sisa Rp 5 ribu,” timpal Adit, sopir yang ngetem di Arjasa, asal Kecamatan Sukorambi.

Adit menyebut, utang itu akan dibayar setelah hasil mereka lebih. Namun, jika tidak, maka utang bisa jadi bertambah lagi. “Pulang ke rumah, jujur saja, ya, kadang hanya bawa Rp 7.000. Itu karena tidak ada lagi,” ucapnya.

Kedua pria yang sama-sama memiliki dua orang anak itu berharap pandemi segera berakhir. Sehingga kehidupan bisa normal seperti sebelum ada korona dan anak-anak sekolah serta kuliah bisa masuk lagi. “Setiap hari banyak sopir yang datang ke sini, pulang jarang bawa uang. Beda sebelum ada korona. semoga pandemi selesai,” harap Adit.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dua sopir itu pun terus ngerumpi di terminal Arjasa Jember. Sekitar pukul 15.40, Ali mendapatkan beberapa penumpang. Ali selanjutnya tancap gas, sementara Adit masih menunggu keberuntungan di kursi tunggu Terminal Arjasa Jember Arjasa. Di sisi lain, banyak sopir lin yang mojok di warung, sebagian ada yang tidur di angkot.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Juma’i

Editor : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Minimnya pemasukan membuat para sopir juga sering berutang. Bukan saja untuk keperluan makan, melainkan untuk pembelian bahan bakar. “Tadi pagi saya pinjam Rp 30 ribu. Untuk bahan bakar Rp 20 ribu, untuk kopi dan jajan Rp 5 ribu. Ini sisa Rp 5 ribu,” timpal Adit, sopir yang ngetem di Arjasa, asal Kecamatan Sukorambi.

Adit menyebut, utang itu akan dibayar setelah hasil mereka lebih. Namun, jika tidak, maka utang bisa jadi bertambah lagi. “Pulang ke rumah, jujur saja, ya, kadang hanya bawa Rp 7.000. Itu karena tidak ada lagi,” ucapnya.

Kedua pria yang sama-sama memiliki dua orang anak itu berharap pandemi segera berakhir. Sehingga kehidupan bisa normal seperti sebelum ada korona dan anak-anak sekolah serta kuliah bisa masuk lagi. “Setiap hari banyak sopir yang datang ke sini, pulang jarang bawa uang. Beda sebelum ada korona. semoga pandemi selesai,” harap Adit.

Dua sopir itu pun terus ngerumpi di terminal Arjasa Jember. Sekitar pukul 15.40, Ali mendapatkan beberapa penumpang. Ali selanjutnya tancap gas, sementara Adit masih menunggu keberuntungan di kursi tunggu Terminal Arjasa Jember Arjasa. Di sisi lain, banyak sopir lin yang mojok di warung, sebagian ada yang tidur di angkot.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Juma’i

Editor : Mahrus Sholih

Minimnya pemasukan membuat para sopir juga sering berutang. Bukan saja untuk keperluan makan, melainkan untuk pembelian bahan bakar. “Tadi pagi saya pinjam Rp 30 ribu. Untuk bahan bakar Rp 20 ribu, untuk kopi dan jajan Rp 5 ribu. Ini sisa Rp 5 ribu,” timpal Adit, sopir yang ngetem di Arjasa, asal Kecamatan Sukorambi.

Adit menyebut, utang itu akan dibayar setelah hasil mereka lebih. Namun, jika tidak, maka utang bisa jadi bertambah lagi. “Pulang ke rumah, jujur saja, ya, kadang hanya bawa Rp 7.000. Itu karena tidak ada lagi,” ucapnya.

Kedua pria yang sama-sama memiliki dua orang anak itu berharap pandemi segera berakhir. Sehingga kehidupan bisa normal seperti sebelum ada korona dan anak-anak sekolah serta kuliah bisa masuk lagi. “Setiap hari banyak sopir yang datang ke sini, pulang jarang bawa uang. Beda sebelum ada korona. semoga pandemi selesai,” harap Adit.

Dua sopir itu pun terus ngerumpi di terminal Arjasa Jember. Sekitar pukul 15.40, Ali mendapatkan beberapa penumpang. Ali selanjutnya tancap gas, sementara Adit masih menunggu keberuntungan di kursi tunggu Terminal Arjasa Jember Arjasa. Di sisi lain, banyak sopir lin yang mojok di warung, sebagian ada yang tidur di angkot.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Juma’i

Editor : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/