alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Ini Nasib Yang Bukan Pegawai ASN, Polri, Dan TNI

Akibat Perpanjangan PPKM, Ini Nasib Supir Angkot Di Arjasa

Mobile_AP_Rectangle 1

ARJASA, RADARJEMBER.ID – DUA orang sopir angkot atau lin asyik berbincang di kursi tunggu terminal Arjasa Jember. Keduanya terlihat santai di dekat mobil warna kuning. Tentu, kendaraan itu tak asing bagi warga. Apalagi jalur kerjanya masih melintasi jantung kota Jember.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.30. Sopir angkot, Ali dan Adit, sama-sama menunggu penumpang. Keduanya mulai mangkal sejak pukul 09.00. Namun, hingga Jawa Pos Radar Jember datang, mereka belum juga mendapatkan penumpang. “Sepi, Mas,” kata Ali, yang tinggal di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Sepinya warga yang menggunakan jasa angkutan kota itu diakui keduanya sudah terjadi sejak lama. Yaitu sejak anak-anak sekolah dan kuliah libur pada awal pandemi. Keduanya tak punya pilihan lain, sehingga tetap bekerja dengan mobil lin milik bosnya itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ali menyebut, dalam sehari, penumpang yang naik jasa angkot bisa dihitung dengan jari. Dia, Adit, dan sejumlah sopir lain kerap tak membawa hasil. “Sering tidak setor. Mau bagaimana lagi, kami harus tetap kerja. Tapi, kondisinya sepi,” ulasnya.

Diam di rumah, lanjut Ali, justru bisa menjadi ancaman bahtera keluarganya. Ekonomi bisa mandek. Dan jika tak bekerja, tak akan ada yang menggajinya. Untuk itulah, dia tetap berupaya keluar rumah, ngetem di terminal Arjasa Jember, dan berharap dapat penumpang.

Pegawai swasta, sopir, atau seluruh pekerja non-pemerintahan memang harus bekerja untuk bisa mendapatkan upah. Warga yang bukan pegawai ASN, Polri, dan TNI, juga tidak bisa menerapkan sehari kerja sehari libur. Alasan itulah yang membuat Ali harus bekerja keras sekalipun status pandemi berada di level 4 seperti beberapa waktu lalu. “Kalau pemerintah dibayar. Kalau seperti saya, siapa mau bayar?” ungkapnya.

Lantaran sepi penumpang, dia dan sejumlah temannya kerap tidak setor. “Bos memaklumi karena memang tidak ada penumpang. Saat anak-anak masuk sekolah, kondisinya tidak seperti ini. Kalau dulu, berangkat kosong dari terminal Arjasa Jember kami bisa. Sekarang di pinggir jalan sepi penumpang,” ulasnya.

- Advertisement -

ARJASA, RADARJEMBER.ID – DUA orang sopir angkot atau lin asyik berbincang di kursi tunggu terminal Arjasa Jember. Keduanya terlihat santai di dekat mobil warna kuning. Tentu, kendaraan itu tak asing bagi warga. Apalagi jalur kerjanya masih melintasi jantung kota Jember.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.30. Sopir angkot, Ali dan Adit, sama-sama menunggu penumpang. Keduanya mulai mangkal sejak pukul 09.00. Namun, hingga Jawa Pos Radar Jember datang, mereka belum juga mendapatkan penumpang. “Sepi, Mas,” kata Ali, yang tinggal di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Sepinya warga yang menggunakan jasa angkutan kota itu diakui keduanya sudah terjadi sejak lama. Yaitu sejak anak-anak sekolah dan kuliah libur pada awal pandemi. Keduanya tak punya pilihan lain, sehingga tetap bekerja dengan mobil lin milik bosnya itu.

Ali menyebut, dalam sehari, penumpang yang naik jasa angkot bisa dihitung dengan jari. Dia, Adit, dan sejumlah sopir lain kerap tak membawa hasil. “Sering tidak setor. Mau bagaimana lagi, kami harus tetap kerja. Tapi, kondisinya sepi,” ulasnya.

Diam di rumah, lanjut Ali, justru bisa menjadi ancaman bahtera keluarganya. Ekonomi bisa mandek. Dan jika tak bekerja, tak akan ada yang menggajinya. Untuk itulah, dia tetap berupaya keluar rumah, ngetem di terminal Arjasa Jember, dan berharap dapat penumpang.

Pegawai swasta, sopir, atau seluruh pekerja non-pemerintahan memang harus bekerja untuk bisa mendapatkan upah. Warga yang bukan pegawai ASN, Polri, dan TNI, juga tidak bisa menerapkan sehari kerja sehari libur. Alasan itulah yang membuat Ali harus bekerja keras sekalipun status pandemi berada di level 4 seperti beberapa waktu lalu. “Kalau pemerintah dibayar. Kalau seperti saya, siapa mau bayar?” ungkapnya.

Lantaran sepi penumpang, dia dan sejumlah temannya kerap tidak setor. “Bos memaklumi karena memang tidak ada penumpang. Saat anak-anak masuk sekolah, kondisinya tidak seperti ini. Kalau dulu, berangkat kosong dari terminal Arjasa Jember kami bisa. Sekarang di pinggir jalan sepi penumpang,” ulasnya.

ARJASA, RADARJEMBER.ID – DUA orang sopir angkot atau lin asyik berbincang di kursi tunggu terminal Arjasa Jember. Keduanya terlihat santai di dekat mobil warna kuning. Tentu, kendaraan itu tak asing bagi warga. Apalagi jalur kerjanya masih melintasi jantung kota Jember.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 14.30. Sopir angkot, Ali dan Adit, sama-sama menunggu penumpang. Keduanya mulai mangkal sejak pukul 09.00. Namun, hingga Jawa Pos Radar Jember datang, mereka belum juga mendapatkan penumpang. “Sepi, Mas,” kata Ali, yang tinggal di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Sepinya warga yang menggunakan jasa angkutan kota itu diakui keduanya sudah terjadi sejak lama. Yaitu sejak anak-anak sekolah dan kuliah libur pada awal pandemi. Keduanya tak punya pilihan lain, sehingga tetap bekerja dengan mobil lin milik bosnya itu.

Ali menyebut, dalam sehari, penumpang yang naik jasa angkot bisa dihitung dengan jari. Dia, Adit, dan sejumlah sopir lain kerap tak membawa hasil. “Sering tidak setor. Mau bagaimana lagi, kami harus tetap kerja. Tapi, kondisinya sepi,” ulasnya.

Diam di rumah, lanjut Ali, justru bisa menjadi ancaman bahtera keluarganya. Ekonomi bisa mandek. Dan jika tak bekerja, tak akan ada yang menggajinya. Untuk itulah, dia tetap berupaya keluar rumah, ngetem di terminal Arjasa Jember, dan berharap dapat penumpang.

Pegawai swasta, sopir, atau seluruh pekerja non-pemerintahan memang harus bekerja untuk bisa mendapatkan upah. Warga yang bukan pegawai ASN, Polri, dan TNI, juga tidak bisa menerapkan sehari kerja sehari libur. Alasan itulah yang membuat Ali harus bekerja keras sekalipun status pandemi berada di level 4 seperti beberapa waktu lalu. “Kalau pemerintah dibayar. Kalau seperti saya, siapa mau bayar?” ungkapnya.

Lantaran sepi penumpang, dia dan sejumlah temannya kerap tidak setor. “Bos memaklumi karena memang tidak ada penumpang. Saat anak-anak masuk sekolah, kondisinya tidak seperti ini. Kalau dulu, berangkat kosong dari terminal Arjasa Jember kami bisa. Sekarang di pinggir jalan sepi penumpang,” ulasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/