alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Pamor Payangan Meredup, Pengunjung Surut

Meskipun berada di satu garis pantai dengan Watu Ulo dan Papuma, peruntungan sepertinya belum sepenuhnya berpihak ke Pantai Payangan. Warga yang biasa meraup rezeki di Pantai Payangan pun tak seceria dulu, karena wisatawan berkurang.

Mobile_AP_Rectangle 1

Beberapa area yang disiapkan sebagai tempat parkir di sejumlah lokasi dekat warung-warung atau pelataran rumah-rumah warga juga terlihat lengang. Tidak sesak seperti pada musim libur Lebaran.

Lain dengan Dion dan Jefri, pria asal Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari. Keduanya mengaku, pendapatan sebagai pemilik kuda tunggang sejak Watu Ulo dan Papuma gratis turun drastis. “Untuk Lebaran tahun ini pendapatan selama tiga hari tidak sampai sejuta. Karena pengunjung memang berkurang dan yang naik kuda juga ikut sepi,” keluhnya.

Keduanya menceritakan, pada tahun-tahun sebelumnya, mereka bisa membawa uang dari hasil penyewaan kuda mencapai Rp 8 juta. Itu hanya satu kuda selama hampir sepekan. Sementara untuk sekarang ini, dalam sehari mereka hanya bisa mendulang uang Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu. “Lumayan meskipun turun, daripada tidak ada pemasukan sama sekali,” akunya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelum ada kebijakan penggratisan tiket masuk wisata ke Papuma dan Watu Ulo, Payangan sejak beberapa tahun terakhir selalu gratis. Pengunjung hanya perlu membayar ongkos parkir. Itu pun hanya sekitar Rp 5 ribu. Kendati begitu, para pedagang, pemilik penyewaan kuda, maupun penyedia jasa parkir, masih menaruh harapan besar Payangan bisa kembali menjadi primadona. Dilihat dari perkembangan kebijakan terakhir, penggratisan masuk Papuma dan Watu Ulo tidak untuk selamanya. Hanya beberapa hari saja. Setelah itu, berlaku tarif normal. “Semoga nanti bisa panen pengunjung lagi, apalagi momennya masih Lebaran,” kata Jefri. (c2/nur)

- Advertisement -

Beberapa area yang disiapkan sebagai tempat parkir di sejumlah lokasi dekat warung-warung atau pelataran rumah-rumah warga juga terlihat lengang. Tidak sesak seperti pada musim libur Lebaran.

Lain dengan Dion dan Jefri, pria asal Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari. Keduanya mengaku, pendapatan sebagai pemilik kuda tunggang sejak Watu Ulo dan Papuma gratis turun drastis. “Untuk Lebaran tahun ini pendapatan selama tiga hari tidak sampai sejuta. Karena pengunjung memang berkurang dan yang naik kuda juga ikut sepi,” keluhnya.

Keduanya menceritakan, pada tahun-tahun sebelumnya, mereka bisa membawa uang dari hasil penyewaan kuda mencapai Rp 8 juta. Itu hanya satu kuda selama hampir sepekan. Sementara untuk sekarang ini, dalam sehari mereka hanya bisa mendulang uang Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu. “Lumayan meskipun turun, daripada tidak ada pemasukan sama sekali,” akunya.

Sebelum ada kebijakan penggratisan tiket masuk wisata ke Papuma dan Watu Ulo, Payangan sejak beberapa tahun terakhir selalu gratis. Pengunjung hanya perlu membayar ongkos parkir. Itu pun hanya sekitar Rp 5 ribu. Kendati begitu, para pedagang, pemilik penyewaan kuda, maupun penyedia jasa parkir, masih menaruh harapan besar Payangan bisa kembali menjadi primadona. Dilihat dari perkembangan kebijakan terakhir, penggratisan masuk Papuma dan Watu Ulo tidak untuk selamanya. Hanya beberapa hari saja. Setelah itu, berlaku tarif normal. “Semoga nanti bisa panen pengunjung lagi, apalagi momennya masih Lebaran,” kata Jefri. (c2/nur)

Beberapa area yang disiapkan sebagai tempat parkir di sejumlah lokasi dekat warung-warung atau pelataran rumah-rumah warga juga terlihat lengang. Tidak sesak seperti pada musim libur Lebaran.

Lain dengan Dion dan Jefri, pria asal Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari. Keduanya mengaku, pendapatan sebagai pemilik kuda tunggang sejak Watu Ulo dan Papuma gratis turun drastis. “Untuk Lebaran tahun ini pendapatan selama tiga hari tidak sampai sejuta. Karena pengunjung memang berkurang dan yang naik kuda juga ikut sepi,” keluhnya.

Keduanya menceritakan, pada tahun-tahun sebelumnya, mereka bisa membawa uang dari hasil penyewaan kuda mencapai Rp 8 juta. Itu hanya satu kuda selama hampir sepekan. Sementara untuk sekarang ini, dalam sehari mereka hanya bisa mendulang uang Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu. “Lumayan meskipun turun, daripada tidak ada pemasukan sama sekali,” akunya.

Sebelum ada kebijakan penggratisan tiket masuk wisata ke Papuma dan Watu Ulo, Payangan sejak beberapa tahun terakhir selalu gratis. Pengunjung hanya perlu membayar ongkos parkir. Itu pun hanya sekitar Rp 5 ribu. Kendati begitu, para pedagang, pemilik penyewaan kuda, maupun penyedia jasa parkir, masih menaruh harapan besar Payangan bisa kembali menjadi primadona. Dilihat dari perkembangan kebijakan terakhir, penggratisan masuk Papuma dan Watu Ulo tidak untuk selamanya. Hanya beberapa hari saja. Setelah itu, berlaku tarif normal. “Semoga nanti bisa panen pengunjung lagi, apalagi momennya masih Lebaran,” kata Jefri. (c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/