alexametrics
24 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Pamor Payangan Meredup, Pengunjung Surut

Meskipun berada di satu garis pantai dengan Watu Ulo dan Papuma, peruntungan sepertinya belum sepenuhnya berpihak ke Pantai Payangan. Warga yang biasa meraup rezeki di Pantai Payangan pun tak seceria dulu, karena wisatawan berkurang.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik panas matahari disertai semilir angin kala itu menjadi salah satu sajian yang pasti ada di hampir semua wisata pesisir pantai. Termasuk di Pantai Payangan. Warung atau lapak-lapak milik pedagang juga terlihat lengang. Hanya terlihat satu sampai dua orang yang tengah nongkrong. Kendati masih ada puluhan orang yang bermain-main di tepian pantai, kuda sewaan yang ditawarkan sejumlah pedagang di sana juga tengah terparkir santai. Tanpa ada yang menggunakan jasanya.

BACA JUGA : Pemerintah Jember Gratiskan Sejumlah Wisata, Payangan Merana

Usut punya usut, penggratisan dua tempat wisata laut, yakni Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, Ambulu, dengan pantai Papuma, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, cukup berimbas pada pendapatan pedagang. Mereka mengaku pendapatannya berkurang sejak adanya kebijakan pemerintah daerah menggratiskan tempat wisata selama sepekan H+ Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, untuk Pantai Papuma dan Watu Ulo. Pengunjung justru tumplek blek ke Watu Ulo dan Papuma. Pengunjung yang datang bukan hanya dari Jember, tetapi juga warga dari luar Jember. Ini terlihat dari kendaraan yang datang berpelat L, W, M, N, S, KH, KT, dan A.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejumlah warga yang memanfaatkan area parkir dan lapak pedagang di sekitar Payangan mengeluhkan kondisi itu. Pengunjung yang datang ke Pantai Payangan bisa dihitung dengan jari. Tahun sebelumnya, pengunjung membeludak ke Payangan karena memang benar-benar gratis dan hanya membayar uang parkir kendaraan. Secara bersamaan, dua tempat wisata tersebut (Papuma dan Watu ulo) dulunya masuk dengan membayar tiket. “Untuk tahun ini, setelah Watu Ulo dan Papuma gratis, akhirnya pengunjung pindah. Payangan tidak lagi diserbu pengunjung,” ujar Samsul, salah satu pemilik warung di Payangan.

Tidak hanya tempat lapak pedagang, tempat parkir pun sepi. Setelah ada penggratisan, banyak wisatawan yang pindah ke Watu Ulo. Pamor Payangan menurun drastis. “Yang datang ke Payangan juga ada, tetapi tidak seperti hari raya sebelumnya. Ya namanya rezeki, semua ada pasang surutnya, dan sudah ada yang ngatur,” gerutunya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik panas matahari disertai semilir angin kala itu menjadi salah satu sajian yang pasti ada di hampir semua wisata pesisir pantai. Termasuk di Pantai Payangan. Warung atau lapak-lapak milik pedagang juga terlihat lengang. Hanya terlihat satu sampai dua orang yang tengah nongkrong. Kendati masih ada puluhan orang yang bermain-main di tepian pantai, kuda sewaan yang ditawarkan sejumlah pedagang di sana juga tengah terparkir santai. Tanpa ada yang menggunakan jasanya.

BACA JUGA : Pemerintah Jember Gratiskan Sejumlah Wisata, Payangan Merana

Usut punya usut, penggratisan dua tempat wisata laut, yakni Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, Ambulu, dengan pantai Papuma, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, cukup berimbas pada pendapatan pedagang. Mereka mengaku pendapatannya berkurang sejak adanya kebijakan pemerintah daerah menggratiskan tempat wisata selama sepekan H+ Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, untuk Pantai Papuma dan Watu Ulo. Pengunjung justru tumplek blek ke Watu Ulo dan Papuma. Pengunjung yang datang bukan hanya dari Jember, tetapi juga warga dari luar Jember. Ini terlihat dari kendaraan yang datang berpelat L, W, M, N, S, KH, KT, dan A.

Sejumlah warga yang memanfaatkan area parkir dan lapak pedagang di sekitar Payangan mengeluhkan kondisi itu. Pengunjung yang datang ke Pantai Payangan bisa dihitung dengan jari. Tahun sebelumnya, pengunjung membeludak ke Payangan karena memang benar-benar gratis dan hanya membayar uang parkir kendaraan. Secara bersamaan, dua tempat wisata tersebut (Papuma dan Watu ulo) dulunya masuk dengan membayar tiket. “Untuk tahun ini, setelah Watu Ulo dan Papuma gratis, akhirnya pengunjung pindah. Payangan tidak lagi diserbu pengunjung,” ujar Samsul, salah satu pemilik warung di Payangan.

Tidak hanya tempat lapak pedagang, tempat parkir pun sepi. Setelah ada penggratisan, banyak wisatawan yang pindah ke Watu Ulo. Pamor Payangan menurun drastis. “Yang datang ke Payangan juga ada, tetapi tidak seperti hari raya sebelumnya. Ya namanya rezeki, semua ada pasang surutnya, dan sudah ada yang ngatur,” gerutunya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik panas matahari disertai semilir angin kala itu menjadi salah satu sajian yang pasti ada di hampir semua wisata pesisir pantai. Termasuk di Pantai Payangan. Warung atau lapak-lapak milik pedagang juga terlihat lengang. Hanya terlihat satu sampai dua orang yang tengah nongkrong. Kendati masih ada puluhan orang yang bermain-main di tepian pantai, kuda sewaan yang ditawarkan sejumlah pedagang di sana juga tengah terparkir santai. Tanpa ada yang menggunakan jasanya.

BACA JUGA : Pemerintah Jember Gratiskan Sejumlah Wisata, Payangan Merana

Usut punya usut, penggratisan dua tempat wisata laut, yakni Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, Ambulu, dengan pantai Papuma, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, cukup berimbas pada pendapatan pedagang. Mereka mengaku pendapatannya berkurang sejak adanya kebijakan pemerintah daerah menggratiskan tempat wisata selama sepekan H+ Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah, untuk Pantai Papuma dan Watu Ulo. Pengunjung justru tumplek blek ke Watu Ulo dan Papuma. Pengunjung yang datang bukan hanya dari Jember, tetapi juga warga dari luar Jember. Ini terlihat dari kendaraan yang datang berpelat L, W, M, N, S, KH, KT, dan A.

Sejumlah warga yang memanfaatkan area parkir dan lapak pedagang di sekitar Payangan mengeluhkan kondisi itu. Pengunjung yang datang ke Pantai Payangan bisa dihitung dengan jari. Tahun sebelumnya, pengunjung membeludak ke Payangan karena memang benar-benar gratis dan hanya membayar uang parkir kendaraan. Secara bersamaan, dua tempat wisata tersebut (Papuma dan Watu ulo) dulunya masuk dengan membayar tiket. “Untuk tahun ini, setelah Watu Ulo dan Papuma gratis, akhirnya pengunjung pindah. Payangan tidak lagi diserbu pengunjung,” ujar Samsul, salah satu pemilik warung di Payangan.

Tidak hanya tempat lapak pedagang, tempat parkir pun sepi. Setelah ada penggratisan, banyak wisatawan yang pindah ke Watu Ulo. Pamor Payangan menurun drastis. “Yang datang ke Payangan juga ada, tetapi tidak seperti hari raya sebelumnya. Ya namanya rezeki, semua ada pasang surutnya, dan sudah ada yang ngatur,” gerutunya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/