alexametrics
22.4 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Alih Fungsi Pesisir Pantai Dinilai Rugikan Nelayan

Ongkos Melaut Membengkak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyaknya aktivitas tambak di sekitar kawasan pesisir pantai Jalur Lintas Selatan (JLS) Jember rupanya tak hanya menuai sorotan. Namun, juga dianggap merugikan nelayan. Sebab, aktivitas tambak modern yang banyak beroperasi di sekitaran pesisir itu mengakibatkan pengikisan kawasan pesisir pantai. Hingga dinilai mencemari medan rusak lingkungan.

Dampak dari pengikisan itu dirasakan oleh sejumlah warga, utamanya nelayan. Sebab, limbah yang banyak dikeluarkan dari pabrik-pabrik tambak modern itu dibuang langsung ke pantai yang ditengarai tanpa melalui proses instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). “Dulu sebelum banyak tambak, warga mau mancing saja bisa di sekitar pesisir. Sekarang sulit,” aku Sukat, warga di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Di sekitar kawasan pesisir Gumukmas utamanya, memang cukup banyak aktivitas tambak modern yang beroperasi. Jumlahnya belasan. Dari jumlah itu, mayoritas tidak memiliki IPAL dan membuang limbahnya langsung ke laut. Dan tambak-tambak tersebut masih aktif beroperasi hingga sekarang. “Kalau pesisir tercemar dan rusak, ikan-ikan lari ke tengah. Menjauhi pesisir,” tambahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kerusakan pesisir itu juga dikeluhkan oleh sejumlah asosiasi atau kelompok nelayan. Mereka yang setiap harinya bermata pencarian memburu ikan, akibat pengikisan itu, kini mulai kesulitan. “Dulu sebelum pesisir tercemar, dalam radius seratus meter nelayan sudah bisa menjala ikan. Kini paling tidak mereka harus lebih ke tengah laut, kisaran 3-5 kilometer untuk menemukan ikan,” tambah Setyo Ramires, Sekretaris Asosiasi Kelompok Nelayan Jember.

Ia menjelaskan, sejak banyaknya kemunculan aktivitas tambak modern, nelayan harus melaut lebih jauh ke tengah. Hal itu juga berdampak pada ongkos mereka selama melaut yang rutin menggunakan bahan bakar untuk jukung atau perahu mereka. Bahkan, terkadang nelayan sampai melampaui Pulau Nusa Barong, hingga ke barat wilayah Pantai Lumajang.

“Kalau semakin jauh ke tengah mencari ikan, ongkos bahan bakar, bekal, dan segalanya, tentu bertambah. Jelas merugikan nelayan,” imbuh Setyo. Selain itu, nelayan juga menyayangkan adanya hearing dan sidak oleh anggota DPRD Jember dan sejumlah OPD Jember beberapa pekan lalu, karena hingga sejauh ini belum ada kelanjutannya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyaknya aktivitas tambak di sekitar kawasan pesisir pantai Jalur Lintas Selatan (JLS) Jember rupanya tak hanya menuai sorotan. Namun, juga dianggap merugikan nelayan. Sebab, aktivitas tambak modern yang banyak beroperasi di sekitaran pesisir itu mengakibatkan pengikisan kawasan pesisir pantai. Hingga dinilai mencemari medan rusak lingkungan.

Dampak dari pengikisan itu dirasakan oleh sejumlah warga, utamanya nelayan. Sebab, limbah yang banyak dikeluarkan dari pabrik-pabrik tambak modern itu dibuang langsung ke pantai yang ditengarai tanpa melalui proses instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). “Dulu sebelum banyak tambak, warga mau mancing saja bisa di sekitar pesisir. Sekarang sulit,” aku Sukat, warga di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Di sekitar kawasan pesisir Gumukmas utamanya, memang cukup banyak aktivitas tambak modern yang beroperasi. Jumlahnya belasan. Dari jumlah itu, mayoritas tidak memiliki IPAL dan membuang limbahnya langsung ke laut. Dan tambak-tambak tersebut masih aktif beroperasi hingga sekarang. “Kalau pesisir tercemar dan rusak, ikan-ikan lari ke tengah. Menjauhi pesisir,” tambahnya.

Kerusakan pesisir itu juga dikeluhkan oleh sejumlah asosiasi atau kelompok nelayan. Mereka yang setiap harinya bermata pencarian memburu ikan, akibat pengikisan itu, kini mulai kesulitan. “Dulu sebelum pesisir tercemar, dalam radius seratus meter nelayan sudah bisa menjala ikan. Kini paling tidak mereka harus lebih ke tengah laut, kisaran 3-5 kilometer untuk menemukan ikan,” tambah Setyo Ramires, Sekretaris Asosiasi Kelompok Nelayan Jember.

Ia menjelaskan, sejak banyaknya kemunculan aktivitas tambak modern, nelayan harus melaut lebih jauh ke tengah. Hal itu juga berdampak pada ongkos mereka selama melaut yang rutin menggunakan bahan bakar untuk jukung atau perahu mereka. Bahkan, terkadang nelayan sampai melampaui Pulau Nusa Barong, hingga ke barat wilayah Pantai Lumajang.

“Kalau semakin jauh ke tengah mencari ikan, ongkos bahan bakar, bekal, dan segalanya, tentu bertambah. Jelas merugikan nelayan,” imbuh Setyo. Selain itu, nelayan juga menyayangkan adanya hearing dan sidak oleh anggota DPRD Jember dan sejumlah OPD Jember beberapa pekan lalu, karena hingga sejauh ini belum ada kelanjutannya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyaknya aktivitas tambak di sekitar kawasan pesisir pantai Jalur Lintas Selatan (JLS) Jember rupanya tak hanya menuai sorotan. Namun, juga dianggap merugikan nelayan. Sebab, aktivitas tambak modern yang banyak beroperasi di sekitaran pesisir itu mengakibatkan pengikisan kawasan pesisir pantai. Hingga dinilai mencemari medan rusak lingkungan.

Dampak dari pengikisan itu dirasakan oleh sejumlah warga, utamanya nelayan. Sebab, limbah yang banyak dikeluarkan dari pabrik-pabrik tambak modern itu dibuang langsung ke pantai yang ditengarai tanpa melalui proses instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). “Dulu sebelum banyak tambak, warga mau mancing saja bisa di sekitar pesisir. Sekarang sulit,” aku Sukat, warga di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Di sekitar kawasan pesisir Gumukmas utamanya, memang cukup banyak aktivitas tambak modern yang beroperasi. Jumlahnya belasan. Dari jumlah itu, mayoritas tidak memiliki IPAL dan membuang limbahnya langsung ke laut. Dan tambak-tambak tersebut masih aktif beroperasi hingga sekarang. “Kalau pesisir tercemar dan rusak, ikan-ikan lari ke tengah. Menjauhi pesisir,” tambahnya.

Kerusakan pesisir itu juga dikeluhkan oleh sejumlah asosiasi atau kelompok nelayan. Mereka yang setiap harinya bermata pencarian memburu ikan, akibat pengikisan itu, kini mulai kesulitan. “Dulu sebelum pesisir tercemar, dalam radius seratus meter nelayan sudah bisa menjala ikan. Kini paling tidak mereka harus lebih ke tengah laut, kisaran 3-5 kilometer untuk menemukan ikan,” tambah Setyo Ramires, Sekretaris Asosiasi Kelompok Nelayan Jember.

Ia menjelaskan, sejak banyaknya kemunculan aktivitas tambak modern, nelayan harus melaut lebih jauh ke tengah. Hal itu juga berdampak pada ongkos mereka selama melaut yang rutin menggunakan bahan bakar untuk jukung atau perahu mereka. Bahkan, terkadang nelayan sampai melampaui Pulau Nusa Barong, hingga ke barat wilayah Pantai Lumajang.

“Kalau semakin jauh ke tengah mencari ikan, ongkos bahan bakar, bekal, dan segalanya, tentu bertambah. Jelas merugikan nelayan,” imbuh Setyo. Selain itu, nelayan juga menyayangkan adanya hearing dan sidak oleh anggota DPRD Jember dan sejumlah OPD Jember beberapa pekan lalu, karena hingga sejauh ini belum ada kelanjutannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/