alexametrics
32.5 C
Jember
Friday, 22 October 2021

Nikmat Ibel Terima Jutaan Rupiah Karena Sebuah Kecelakaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa kejayaan seseorang siapa yang tahu. Ada yang tajir sejak lahir, tapi juga ada yang harus jatuh bangun dulu baru bisa berjaya. Salah satunya yang dialami master of ceremony (MC) ini. Berasal dari luar daerah, perjuangannya meniti karir di Jember tidaklah mudah. Inilah perjalanan Achmad Iqbal Pamungkas, pemuda yang menggeluti dunia MC.

“Jadi, saya mulai merambah dunia MC pada saat kelas dua SMA,” tutur Iqbal. Awalnya, dia bercerita, menjadi MC adalah sebuah “kecelakaan”. Kisah itu bermula ketika salah seorang temannya batal bertugas menjadi MC. Dia lantas dipaksa menggantikan temannya tersebut menjadi pemandu acara. Rupanya, pengalaman pertama ini gagal. Bahkan gagal total, hingga membuatnya trauma.

Selanjutnya, beberapa kali Iqbal sempat diajak belajar menjadai MC, namun dia menolak. Hingga suatu ketika, jiwa penasarannya kembali muncul dan mulai berani belajar kembali. Ternyata, upayanya tersebut membuahkan hasil. Kini, dia bisa menguasai berbagai seni menjadi MC. Mulai dari acara informal, semi formal, hingga nonformal. “Kali pertama jadi MC itu gratis. Kadang dikasih Rp 35 ribu. Tapi, kini terima jutaan sekali dapat job,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menekuni dunia MC ternyata cukup menghasilkan. Bahkan, dirinya mampu mandiri dengan pekerjaan ini. Terbukti, sepeninggal sang ayah pada 2016 lalu, dia bisa menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi MC. Mulai dari membayar uang kuliah, kosan, hingga biaya hidup sehari-hari di Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa kejayaan seseorang siapa yang tahu. Ada yang tajir sejak lahir, tapi juga ada yang harus jatuh bangun dulu baru bisa berjaya. Salah satunya yang dialami master of ceremony (MC) ini. Berasal dari luar daerah, perjuangannya meniti karir di Jember tidaklah mudah. Inilah perjalanan Achmad Iqbal Pamungkas, pemuda yang menggeluti dunia MC.

“Jadi, saya mulai merambah dunia MC pada saat kelas dua SMA,” tutur Iqbal. Awalnya, dia bercerita, menjadi MC adalah sebuah “kecelakaan”. Kisah itu bermula ketika salah seorang temannya batal bertugas menjadi MC. Dia lantas dipaksa menggantikan temannya tersebut menjadi pemandu acara. Rupanya, pengalaman pertama ini gagal. Bahkan gagal total, hingga membuatnya trauma.

Selanjutnya, beberapa kali Iqbal sempat diajak belajar menjadai MC, namun dia menolak. Hingga suatu ketika, jiwa penasarannya kembali muncul dan mulai berani belajar kembali. Ternyata, upayanya tersebut membuahkan hasil. Kini, dia bisa menguasai berbagai seni menjadi MC. Mulai dari acara informal, semi formal, hingga nonformal. “Kali pertama jadi MC itu gratis. Kadang dikasih Rp 35 ribu. Tapi, kini terima jutaan sekali dapat job,” ungkapnya.

Menekuni dunia MC ternyata cukup menghasilkan. Bahkan, dirinya mampu mandiri dengan pekerjaan ini. Terbukti, sepeninggal sang ayah pada 2016 lalu, dia bisa menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi MC. Mulai dari membayar uang kuliah, kosan, hingga biaya hidup sehari-hari di Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Masa kejayaan seseorang siapa yang tahu. Ada yang tajir sejak lahir, tapi juga ada yang harus jatuh bangun dulu baru bisa berjaya. Salah satunya yang dialami master of ceremony (MC) ini. Berasal dari luar daerah, perjuangannya meniti karir di Jember tidaklah mudah. Inilah perjalanan Achmad Iqbal Pamungkas, pemuda yang menggeluti dunia MC.

“Jadi, saya mulai merambah dunia MC pada saat kelas dua SMA,” tutur Iqbal. Awalnya, dia bercerita, menjadi MC adalah sebuah “kecelakaan”. Kisah itu bermula ketika salah seorang temannya batal bertugas menjadi MC. Dia lantas dipaksa menggantikan temannya tersebut menjadi pemandu acara. Rupanya, pengalaman pertama ini gagal. Bahkan gagal total, hingga membuatnya trauma.

Selanjutnya, beberapa kali Iqbal sempat diajak belajar menjadai MC, namun dia menolak. Hingga suatu ketika, jiwa penasarannya kembali muncul dan mulai berani belajar kembali. Ternyata, upayanya tersebut membuahkan hasil. Kini, dia bisa menguasai berbagai seni menjadi MC. Mulai dari acara informal, semi formal, hingga nonformal. “Kali pertama jadi MC itu gratis. Kadang dikasih Rp 35 ribu. Tapi, kini terima jutaan sekali dapat job,” ungkapnya.

Menekuni dunia MC ternyata cukup menghasilkan. Bahkan, dirinya mampu mandiri dengan pekerjaan ini. Terbukti, sepeninggal sang ayah pada 2016 lalu, dia bisa menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi MC. Mulai dari membayar uang kuliah, kosan, hingga biaya hidup sehari-hari di Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca