alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Tahun Ajaran Baru, Jasa Jahit Seragam Sepi

Jadi Tempat Penitipan Kain Seragam

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah lebih dari setahun sekolah tidak menggelar kegiatan tatap muka. Kebijakan ini juga berpengaruh pada lambatnya laju pertumbuhan usaha jasa jahit seragam sekolah. Hal ini seperti yang dialami oleh Indah Agustin Olivia, salah satu penjahit rumahan yang terletak di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji.

Normalnya, Indah dapat menerima pesanan jahitan mencapai lebih dari 50 potong tiap tahunnya. Namun, pada bulan ini jumlah pesanan yang memakai jasanya dalam menjahit seragam menurun drastis.

Di rumahnya pun banyak tumpukan kain seragam. Sebab, berdasarkan keterangan Indah, banyak orang tua yang masih belum memberikan keputusan untuk dijahit atau tidaknya kain seragam tersebut. “Ada yang jahit, kadang baju yang tidak dipakai. Jadi, ada perubahan ukurannya. Dari orang jahit seperti itu kan ada yang minta disebarin. Kadang ada yang sudah menaruh, tapi tidak dijahit. Jadi, tidak ada kepastian kapan mau diambil,” ungkapnya, Kamis (8/7).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia juga mengungkapkan bahwa setidaknya sudah setengah tahun kain-kain tersebut ditinggal di tempatnya. Dengan kondisi demikian, Indah berinisiatif untuk memperbesar ukuran baju. Sebagai antisipasi baju seragam tidak muat jika dipakai. “Jadi, dilebihkan ukurannya. Takutnya tidak muat kalau dipakai,” tuturnya.

Kendala lain yang berdampak pada laju usaha Indah adalah keterlambatan pembayaran jasa jahit seragam. Musababnya, sebagian orang tua yang menggunakan jasa Indah merupakan bagian yang terdampak pandemi. “Ada yang tidak diambil-ambil karena belum bayar, karena pandemi juga,” ungkap Indah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah lebih dari setahun sekolah tidak menggelar kegiatan tatap muka. Kebijakan ini juga berpengaruh pada lambatnya laju pertumbuhan usaha jasa jahit seragam sekolah. Hal ini seperti yang dialami oleh Indah Agustin Olivia, salah satu penjahit rumahan yang terletak di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji.

Normalnya, Indah dapat menerima pesanan jahitan mencapai lebih dari 50 potong tiap tahunnya. Namun, pada bulan ini jumlah pesanan yang memakai jasanya dalam menjahit seragam menurun drastis.

Di rumahnya pun banyak tumpukan kain seragam. Sebab, berdasarkan keterangan Indah, banyak orang tua yang masih belum memberikan keputusan untuk dijahit atau tidaknya kain seragam tersebut. “Ada yang jahit, kadang baju yang tidak dipakai. Jadi, ada perubahan ukurannya. Dari orang jahit seperti itu kan ada yang minta disebarin. Kadang ada yang sudah menaruh, tapi tidak dijahit. Jadi, tidak ada kepastian kapan mau diambil,” ungkapnya, Kamis (8/7).

Dia juga mengungkapkan bahwa setidaknya sudah setengah tahun kain-kain tersebut ditinggal di tempatnya. Dengan kondisi demikian, Indah berinisiatif untuk memperbesar ukuran baju. Sebagai antisipasi baju seragam tidak muat jika dipakai. “Jadi, dilebihkan ukurannya. Takutnya tidak muat kalau dipakai,” tuturnya.

Kendala lain yang berdampak pada laju usaha Indah adalah keterlambatan pembayaran jasa jahit seragam. Musababnya, sebagian orang tua yang menggunakan jasa Indah merupakan bagian yang terdampak pandemi. “Ada yang tidak diambil-ambil karena belum bayar, karena pandemi juga,” ungkap Indah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sudah lebih dari setahun sekolah tidak menggelar kegiatan tatap muka. Kebijakan ini juga berpengaruh pada lambatnya laju pertumbuhan usaha jasa jahit seragam sekolah. Hal ini seperti yang dialami oleh Indah Agustin Olivia, salah satu penjahit rumahan yang terletak di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji.

Normalnya, Indah dapat menerima pesanan jahitan mencapai lebih dari 50 potong tiap tahunnya. Namun, pada bulan ini jumlah pesanan yang memakai jasanya dalam menjahit seragam menurun drastis.

Di rumahnya pun banyak tumpukan kain seragam. Sebab, berdasarkan keterangan Indah, banyak orang tua yang masih belum memberikan keputusan untuk dijahit atau tidaknya kain seragam tersebut. “Ada yang jahit, kadang baju yang tidak dipakai. Jadi, ada perubahan ukurannya. Dari orang jahit seperti itu kan ada yang minta disebarin. Kadang ada yang sudah menaruh, tapi tidak dijahit. Jadi, tidak ada kepastian kapan mau diambil,” ungkapnya, Kamis (8/7).

Dia juga mengungkapkan bahwa setidaknya sudah setengah tahun kain-kain tersebut ditinggal di tempatnya. Dengan kondisi demikian, Indah berinisiatif untuk memperbesar ukuran baju. Sebagai antisipasi baju seragam tidak muat jika dipakai. “Jadi, dilebihkan ukurannya. Takutnya tidak muat kalau dipakai,” tuturnya.

Kendala lain yang berdampak pada laju usaha Indah adalah keterlambatan pembayaran jasa jahit seragam. Musababnya, sebagian orang tua yang menggunakan jasa Indah merupakan bagian yang terdampak pandemi. “Ada yang tidak diambil-ambil karena belum bayar, karena pandemi juga,” ungkap Indah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/