alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Jadi Petani Porang, Omzet Tembus Rp 300 Juta Sebulan

Pekerjaan bertani banyak dipandang sebelah mata oleh anak-anak muda zaman sekarang. Alasannya macam-macam. Bahkan ada yang tidak yakin karena dianggap kurang menjanjikan. Nah, Firdausi mengusir semua pandangan buruk itu dan sukses dengan menjadi petani porang.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Firdausi terlihat semringah siang itu. Perempuan ini memilih profesi sebagai petani sejak dirinya masuk kuliah di bidang pertanian. Dia fokus pada tanaman porang sampai sekarang. Perempuan berhijab yang akrab disapa Firda mengaku mulai melakukan budi daya porang sejak tahun 2017 dan merambah ke dunia bisnis pada 2019.

Baca Juga : Pemkab Jember Ultimatum PT Imasco, Peledakan Gunung Sadeng Dihentikan

Agrobisnisnya diawali dengan melakukan jual beli bibit porang. Sebagai tanaman tahunan yang tahan terhadap tanah kering, porang mampu meningkatkan daya guna lahan. Selain itu, bisa menjadi tanaman sela atau tumpang sari.

Mobile_AP_Rectangle 2

“(Porang, Red) bisa ditanam berdampingan dengan tanaman lain. Seperti sengon atau tanaman kayu lain. Serta kemudahan dalam budi daya dan memiliki nilai jual yang cukup baik,” jelas Firda soal alasannya memilih porang sebagai komoditas budi daya dan bisnisnya.

Selain itu, tanaman yang sering dijuluki emas hijau ini memiliki harga jual tinggi. Di Jember, porang terbilang sangat mudah ditemukan dan banyak.  Hal itu menginspirasi petani muda ini untuk mengembangkannya. “Harganya melejit, sedangkan di daerah Jember keberadaannya sangat melimpah,” tuturnya dalam wawancara pada Selasa (5/4).

Di lahan miliknya, Kelurahan Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Jember, porang ini ditanam. Bisnisnya masih berjalan sampai saat ini dengan menghasilkan omzet ratusan juta. “Omzetnya kalau musim jual bibit antara Rp 120 juta sampai Rp 300 juta per bulan dengan laba Rp 30 juta sampai Rp 50 juta,” ungkap Firda. Dengan jumlah itu, Firda bisa dikatakan sebagai pengusaha sukses.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Firdausi terlihat semringah siang itu. Perempuan ini memilih profesi sebagai petani sejak dirinya masuk kuliah di bidang pertanian. Dia fokus pada tanaman porang sampai sekarang. Perempuan berhijab yang akrab disapa Firda mengaku mulai melakukan budi daya porang sejak tahun 2017 dan merambah ke dunia bisnis pada 2019.

Baca Juga : Pemkab Jember Ultimatum PT Imasco, Peledakan Gunung Sadeng Dihentikan

Agrobisnisnya diawali dengan melakukan jual beli bibit porang. Sebagai tanaman tahunan yang tahan terhadap tanah kering, porang mampu meningkatkan daya guna lahan. Selain itu, bisa menjadi tanaman sela atau tumpang sari.

“(Porang, Red) bisa ditanam berdampingan dengan tanaman lain. Seperti sengon atau tanaman kayu lain. Serta kemudahan dalam budi daya dan memiliki nilai jual yang cukup baik,” jelas Firda soal alasannya memilih porang sebagai komoditas budi daya dan bisnisnya.

Selain itu, tanaman yang sering dijuluki emas hijau ini memiliki harga jual tinggi. Di Jember, porang terbilang sangat mudah ditemukan dan banyak.  Hal itu menginspirasi petani muda ini untuk mengembangkannya. “Harganya melejit, sedangkan di daerah Jember keberadaannya sangat melimpah,” tuturnya dalam wawancara pada Selasa (5/4).

Di lahan miliknya, Kelurahan Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Jember, porang ini ditanam. Bisnisnya masih berjalan sampai saat ini dengan menghasilkan omzet ratusan juta. “Omzetnya kalau musim jual bibit antara Rp 120 juta sampai Rp 300 juta per bulan dengan laba Rp 30 juta sampai Rp 50 juta,” ungkap Firda. Dengan jumlah itu, Firda bisa dikatakan sebagai pengusaha sukses.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Firdausi terlihat semringah siang itu. Perempuan ini memilih profesi sebagai petani sejak dirinya masuk kuliah di bidang pertanian. Dia fokus pada tanaman porang sampai sekarang. Perempuan berhijab yang akrab disapa Firda mengaku mulai melakukan budi daya porang sejak tahun 2017 dan merambah ke dunia bisnis pada 2019.

Baca Juga : Pemkab Jember Ultimatum PT Imasco, Peledakan Gunung Sadeng Dihentikan

Agrobisnisnya diawali dengan melakukan jual beli bibit porang. Sebagai tanaman tahunan yang tahan terhadap tanah kering, porang mampu meningkatkan daya guna lahan. Selain itu, bisa menjadi tanaman sela atau tumpang sari.

“(Porang, Red) bisa ditanam berdampingan dengan tanaman lain. Seperti sengon atau tanaman kayu lain. Serta kemudahan dalam budi daya dan memiliki nilai jual yang cukup baik,” jelas Firda soal alasannya memilih porang sebagai komoditas budi daya dan bisnisnya.

Selain itu, tanaman yang sering dijuluki emas hijau ini memiliki harga jual tinggi. Di Jember, porang terbilang sangat mudah ditemukan dan banyak.  Hal itu menginspirasi petani muda ini untuk mengembangkannya. “Harganya melejit, sedangkan di daerah Jember keberadaannya sangat melimpah,” tuturnya dalam wawancara pada Selasa (5/4).

Di lahan miliknya, Kelurahan Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Jember, porang ini ditanam. Bisnisnya masih berjalan sampai saat ini dengan menghasilkan omzet ratusan juta. “Omzetnya kalau musim jual bibit antara Rp 120 juta sampai Rp 300 juta per bulan dengan laba Rp 30 juta sampai Rp 50 juta,” ungkap Firda. Dengan jumlah itu, Firda bisa dikatakan sebagai pengusaha sukses.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/