alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Ada Di Puger! Cari Sate Kelinci Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

PUGER, RADARJEMBER.ID – BERMULA dari kecintaannya pada kelinci, hingga akhirnya menjadi ajang bisnis. Begitulah kira-kira awal mula bisnis kelinci yang dijalani oleh Vio Andika Pratama, mahasiswa semester delapan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Kini, Vio telah menjadi salah satu pengepul kelinci serta pedagang kuliner kelinci di Jember berbagai olahan. Menurutnya, permintaan kelinci, baik yang telah diolah maupun belum diolah, tidak pernah sepi. Utamanya untuk keperluan obat-obatan.

Vio, memulai bisnis ini ketika masih semester enam lalu. Mulanya, ia sekadar mengoleksi kelinci karena memang suka. Ia tidak berniat untuk berbisnis. Kala itu, Vio membeli sepasang kelinci. Harganya Rp 150 ribu. “Timbul keinginan berbisnis beternak ketika kelinci saya melahirkan. Satu ekor melahirkan sampai sembilan kelinci,” kata Vio, kemarin (5/8).

Sejak saat itulah muncul inisiatif bisinis beternak kelinci. Vio pun melengkapi kebutuhan ternaknya. Ia juga mulai aktif promosi bisnis di media sosial. Alhasil, usahanya banyak dilirik oleh para pehobi kelinci, juga beberapa orang untuk keperluan obat. Saat itu, fokusnya masih bisnis beternak, belum berpikirn untuk merambah pada kuliner. Kini, Vio telah memiliki 18 indukan kelinci. “Kalau totalnya ada 20-30 kelinci,” kata laki-laki yang beralamat di Sadengan, Desa Grenden, Kecamatan Puger Jember, itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, bisnis kelinci miliknya merambah pada kuliner. Semuanya bermula dari temannya yang sakit saraf epilepsi dan membutuhkan daging kelinci sebagai media pengobatan. Saat itu, Vio sadar jika daging kelinci memiliki khasiat khusus dan baik untuk menyembuhkan penyakit. “Untuk satenya bermula dari teman saya yang mengidap penyakit saraf epilepsi. Saya sarankan untuk makan sate kelinci. Saya buatkan. Juga menyarankan agar rutin mengonsumsi olahan daging kelinci dan susu kambing etawa,” tuturnya.

Dari situ, Vio mulai tergugah untuk merambah ke bisnis bidang kuliner. Ia pun mulai membuat berbagai varian menu masakan kelinci. Mulai dari sate, bakso, dan kelinci rica-rica. Pelanggan dapat memilih varian mentah atau siap saji. Untuk bisnis kuliner sate mentah, harganya dibanderol Rp 15 ribu–Rp 17 ribu per 10 tusuk. Sedangkan yang siap saji dihargai Rp 18 ribu­–Rp 20 ribu. “Jadi, mulai Juni kemarin nyate kelinci,” imbuhnya.

- Advertisement -

PUGER, RADARJEMBER.ID – BERMULA dari kecintaannya pada kelinci, hingga akhirnya menjadi ajang bisnis. Begitulah kira-kira awal mula bisnis kelinci yang dijalani oleh Vio Andika Pratama, mahasiswa semester delapan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Kini, Vio telah menjadi salah satu pengepul kelinci serta pedagang kuliner kelinci di Jember berbagai olahan. Menurutnya, permintaan kelinci, baik yang telah diolah maupun belum diolah, tidak pernah sepi. Utamanya untuk keperluan obat-obatan.

Vio, memulai bisnis ini ketika masih semester enam lalu. Mulanya, ia sekadar mengoleksi kelinci karena memang suka. Ia tidak berniat untuk berbisnis. Kala itu, Vio membeli sepasang kelinci. Harganya Rp 150 ribu. “Timbul keinginan berbisnis beternak ketika kelinci saya melahirkan. Satu ekor melahirkan sampai sembilan kelinci,” kata Vio, kemarin (5/8).

Sejak saat itulah muncul inisiatif bisinis beternak kelinci. Vio pun melengkapi kebutuhan ternaknya. Ia juga mulai aktif promosi bisnis di media sosial. Alhasil, usahanya banyak dilirik oleh para pehobi kelinci, juga beberapa orang untuk keperluan obat. Saat itu, fokusnya masih bisnis beternak, belum berpikirn untuk merambah pada kuliner. Kini, Vio telah memiliki 18 indukan kelinci. “Kalau totalnya ada 20-30 kelinci,” kata laki-laki yang beralamat di Sadengan, Desa Grenden, Kecamatan Puger Jember, itu.

Selanjutnya, bisnis kelinci miliknya merambah pada kuliner. Semuanya bermula dari temannya yang sakit saraf epilepsi dan membutuhkan daging kelinci sebagai media pengobatan. Saat itu, Vio sadar jika daging kelinci memiliki khasiat khusus dan baik untuk menyembuhkan penyakit. “Untuk satenya bermula dari teman saya yang mengidap penyakit saraf epilepsi. Saya sarankan untuk makan sate kelinci. Saya buatkan. Juga menyarankan agar rutin mengonsumsi olahan daging kelinci dan susu kambing etawa,” tuturnya.

Dari situ, Vio mulai tergugah untuk merambah ke bisnis bidang kuliner. Ia pun mulai membuat berbagai varian menu masakan kelinci. Mulai dari sate, bakso, dan kelinci rica-rica. Pelanggan dapat memilih varian mentah atau siap saji. Untuk bisnis kuliner sate mentah, harganya dibanderol Rp 15 ribu–Rp 17 ribu per 10 tusuk. Sedangkan yang siap saji dihargai Rp 18 ribu­–Rp 20 ribu. “Jadi, mulai Juni kemarin nyate kelinci,” imbuhnya.

PUGER, RADARJEMBER.ID – BERMULA dari kecintaannya pada kelinci, hingga akhirnya menjadi ajang bisnis. Begitulah kira-kira awal mula bisnis kelinci yang dijalani oleh Vio Andika Pratama, mahasiswa semester delapan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Kini, Vio telah menjadi salah satu pengepul kelinci serta pedagang kuliner kelinci di Jember berbagai olahan. Menurutnya, permintaan kelinci, baik yang telah diolah maupun belum diolah, tidak pernah sepi. Utamanya untuk keperluan obat-obatan.

Vio, memulai bisnis ini ketika masih semester enam lalu. Mulanya, ia sekadar mengoleksi kelinci karena memang suka. Ia tidak berniat untuk berbisnis. Kala itu, Vio membeli sepasang kelinci. Harganya Rp 150 ribu. “Timbul keinginan berbisnis beternak ketika kelinci saya melahirkan. Satu ekor melahirkan sampai sembilan kelinci,” kata Vio, kemarin (5/8).

Sejak saat itulah muncul inisiatif bisinis beternak kelinci. Vio pun melengkapi kebutuhan ternaknya. Ia juga mulai aktif promosi bisnis di media sosial. Alhasil, usahanya banyak dilirik oleh para pehobi kelinci, juga beberapa orang untuk keperluan obat. Saat itu, fokusnya masih bisnis beternak, belum berpikirn untuk merambah pada kuliner. Kini, Vio telah memiliki 18 indukan kelinci. “Kalau totalnya ada 20-30 kelinci,” kata laki-laki yang beralamat di Sadengan, Desa Grenden, Kecamatan Puger Jember, itu.

Selanjutnya, bisnis kelinci miliknya merambah pada kuliner. Semuanya bermula dari temannya yang sakit saraf epilepsi dan membutuhkan daging kelinci sebagai media pengobatan. Saat itu, Vio sadar jika daging kelinci memiliki khasiat khusus dan baik untuk menyembuhkan penyakit. “Untuk satenya bermula dari teman saya yang mengidap penyakit saraf epilepsi. Saya sarankan untuk makan sate kelinci. Saya buatkan. Juga menyarankan agar rutin mengonsumsi olahan daging kelinci dan susu kambing etawa,” tuturnya.

Dari situ, Vio mulai tergugah untuk merambah ke bisnis bidang kuliner. Ia pun mulai membuat berbagai varian menu masakan kelinci. Mulai dari sate, bakso, dan kelinci rica-rica. Pelanggan dapat memilih varian mentah atau siap saji. Untuk bisnis kuliner sate mentah, harganya dibanderol Rp 15 ribu–Rp 17 ribu per 10 tusuk. Sedangkan yang siap saji dihargai Rp 18 ribu­–Rp 20 ribu. “Jadi, mulai Juni kemarin nyate kelinci,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/