alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Cara Petani Mulai Temukan Cara Atasi Air Asin

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu Abdul Holib, warga Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tengah keliling perumahan. Dengan membawa senter, dia menuntaskan pekerjaannya sebagai tenaga keamanan. Dia juga mulai merasa bahagia dan melepaskan penat yang selalu dia hadapi saat matahari muncul.

BACA JUGA: Berpihak ke Petani, Tingkatkan Ekonomi

Holib adalah seorang petani yang memiliki lahan sekitar 750 meter persegi. “Gak sampai satu hektare sawahnya,” ucapnya. Dia merasa bahagia, karena tidak lagi pusing dengan kegiatan merawat sawah. “Sudah tidak ke sawah lagi. Digarap orang lain saja enak,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengaku, untuk saat ini tidak enak menjadi petani. Sebab, kerap kali tidak untung. “Kalau impas itu alhamdulillah sekarang ini,” terangnya. Dimulai dari pupuk subsidi saja, untuk belinya cukup rumit dan tidak seperti dulu lagi. Apalagi juga ada kuota yang telah ditentukan. “Kalau dulu enak, petani tinggal beli sesuai dengan kebutuhannya,” paparnya.

Sementara itu, bila memakai pupuk nonsubsidi, harganya juga mulai naik. “Harga bisa 4 sampai 5 kali lipat selisihnya dari pupuk nonsubsidi,” ucapnya. Untuk pupuk subsidi saja harganya Rp 2.250 per kilogram, sedangkan harga pupuk nonsubsidi urea sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram. Itu masih soal pupuk, belum lagi tentang harga jual. “Kalau waktu panen raya, harga gabah lebih murah,” paparnya.

Sehingga, dia menyimpulkan lebih baik lahan pertaniannya disewakan ke orang lain. “Sudah pasti dapat uangnya,” paparnya. Bahkan, Holib mengaku menjual saja sawahnya dan beralih ke dagang. “Kalau ada yang mau, saya jual saja sawah. Hasilnya jadi modal untuk berdagang. Jadi petani sekarang tidak enak,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu Abdul Holib, warga Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tengah keliling perumahan. Dengan membawa senter, dia menuntaskan pekerjaannya sebagai tenaga keamanan. Dia juga mulai merasa bahagia dan melepaskan penat yang selalu dia hadapi saat matahari muncul.

BACA JUGA: Berpihak ke Petani, Tingkatkan Ekonomi

Holib adalah seorang petani yang memiliki lahan sekitar 750 meter persegi. “Gak sampai satu hektare sawahnya,” ucapnya. Dia merasa bahagia, karena tidak lagi pusing dengan kegiatan merawat sawah. “Sudah tidak ke sawah lagi. Digarap orang lain saja enak,” katanya.

Dia mengaku, untuk saat ini tidak enak menjadi petani. Sebab, kerap kali tidak untung. “Kalau impas itu alhamdulillah sekarang ini,” terangnya. Dimulai dari pupuk subsidi saja, untuk belinya cukup rumit dan tidak seperti dulu lagi. Apalagi juga ada kuota yang telah ditentukan. “Kalau dulu enak, petani tinggal beli sesuai dengan kebutuhannya,” paparnya.

Sementara itu, bila memakai pupuk nonsubsidi, harganya juga mulai naik. “Harga bisa 4 sampai 5 kali lipat selisihnya dari pupuk nonsubsidi,” ucapnya. Untuk pupuk subsidi saja harganya Rp 2.250 per kilogram, sedangkan harga pupuk nonsubsidi urea sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram. Itu masih soal pupuk, belum lagi tentang harga jual. “Kalau waktu panen raya, harga gabah lebih murah,” paparnya.

Sehingga, dia menyimpulkan lebih baik lahan pertaniannya disewakan ke orang lain. “Sudah pasti dapat uangnya,” paparnya. Bahkan, Holib mengaku menjual saja sawahnya dan beralih ke dagang. “Kalau ada yang mau, saya jual saja sawah. Hasilnya jadi modal untuk berdagang. Jadi petani sekarang tidak enak,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu Abdul Holib, warga Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tengah keliling perumahan. Dengan membawa senter, dia menuntaskan pekerjaannya sebagai tenaga keamanan. Dia juga mulai merasa bahagia dan melepaskan penat yang selalu dia hadapi saat matahari muncul.

BACA JUGA: Berpihak ke Petani, Tingkatkan Ekonomi

Holib adalah seorang petani yang memiliki lahan sekitar 750 meter persegi. “Gak sampai satu hektare sawahnya,” ucapnya. Dia merasa bahagia, karena tidak lagi pusing dengan kegiatan merawat sawah. “Sudah tidak ke sawah lagi. Digarap orang lain saja enak,” katanya.

Dia mengaku, untuk saat ini tidak enak menjadi petani. Sebab, kerap kali tidak untung. “Kalau impas itu alhamdulillah sekarang ini,” terangnya. Dimulai dari pupuk subsidi saja, untuk belinya cukup rumit dan tidak seperti dulu lagi. Apalagi juga ada kuota yang telah ditentukan. “Kalau dulu enak, petani tinggal beli sesuai dengan kebutuhannya,” paparnya.

Sementara itu, bila memakai pupuk nonsubsidi, harganya juga mulai naik. “Harga bisa 4 sampai 5 kali lipat selisihnya dari pupuk nonsubsidi,” ucapnya. Untuk pupuk subsidi saja harganya Rp 2.250 per kilogram, sedangkan harga pupuk nonsubsidi urea sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram. Itu masih soal pupuk, belum lagi tentang harga jual. “Kalau waktu panen raya, harga gabah lebih murah,” paparnya.

Sehingga, dia menyimpulkan lebih baik lahan pertaniannya disewakan ke orang lain. “Sudah pasti dapat uangnya,” paparnya. Bahkan, Holib mengaku menjual saja sawahnya dan beralih ke dagang. “Kalau ada yang mau, saya jual saja sawah. Hasilnya jadi modal untuk berdagang. Jadi petani sekarang tidak enak,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/