30.2 C
Jember
Friday, 2 December 2022

Imbas Harga Sayur yang Anjlok, Lebih Baik Didiamkan sampai Busuk

Mobile_AP_Rectangle 1

JELBUK, Radar Jember – Di tengah masa beradaptasi masyarakat dengan kenaikan harga BBM serta situasi sulitnya pupuk subsidi, petani sayur di Jember justru dipukul dengan anjloknya harga. Jenis sayur seperti tomat, terong, dan kubis di Jember berada di bawah harga Rp 1.000 per kilogram di tingkat petani. Hal itu membuat petani lebih memilih didiamkan sampai membusuk daripada dipanen.

BACA JUGA : Pemberlakuan Denda Nunggak Pajak Bagi Hotel dan Restoran

Taufik, salah seorang petani asal Kecamatan Jelbuk, mengatakan, dirinya memilih tidak memanen tanaman kubisnya, bukan karena hasil panen yang buruk. Melainkan harga pasaran yang anjlok. Di antaranya harga terong di tingkat petani per kilogram hanya Rp 600, kubis Rp 400–500 per kilogram, sementara tomat sudah tidak laku. “Harganya tidak sebanding dengan besarnya biaya pengeluaran,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menambahkan, musim panen saat ini dia tidak bisa mengalkulasi keuntungan lagi. Bahkan untuk mengembalikan modal biaya perawatan saja juga tidak memungkinkan. “Karena harganya sudah anjlok sekali. Normalnya kubis itu Rp 2.000 per kilogram. Baru saya dapat untung,” katanya.

- Advertisement -

JELBUK, Radar Jember – Di tengah masa beradaptasi masyarakat dengan kenaikan harga BBM serta situasi sulitnya pupuk subsidi, petani sayur di Jember justru dipukul dengan anjloknya harga. Jenis sayur seperti tomat, terong, dan kubis di Jember berada di bawah harga Rp 1.000 per kilogram di tingkat petani. Hal itu membuat petani lebih memilih didiamkan sampai membusuk daripada dipanen.

BACA JUGA : Pemberlakuan Denda Nunggak Pajak Bagi Hotel dan Restoran

Taufik, salah seorang petani asal Kecamatan Jelbuk, mengatakan, dirinya memilih tidak memanen tanaman kubisnya, bukan karena hasil panen yang buruk. Melainkan harga pasaran yang anjlok. Di antaranya harga terong di tingkat petani per kilogram hanya Rp 600, kubis Rp 400–500 per kilogram, sementara tomat sudah tidak laku. “Harganya tidak sebanding dengan besarnya biaya pengeluaran,” terangnya.

Dia menambahkan, musim panen saat ini dia tidak bisa mengalkulasi keuntungan lagi. Bahkan untuk mengembalikan modal biaya perawatan saja juga tidak memungkinkan. “Karena harganya sudah anjlok sekali. Normalnya kubis itu Rp 2.000 per kilogram. Baru saya dapat untung,” katanya.

JELBUK, Radar Jember – Di tengah masa beradaptasi masyarakat dengan kenaikan harga BBM serta situasi sulitnya pupuk subsidi, petani sayur di Jember justru dipukul dengan anjloknya harga. Jenis sayur seperti tomat, terong, dan kubis di Jember berada di bawah harga Rp 1.000 per kilogram di tingkat petani. Hal itu membuat petani lebih memilih didiamkan sampai membusuk daripada dipanen.

BACA JUGA : Pemberlakuan Denda Nunggak Pajak Bagi Hotel dan Restoran

Taufik, salah seorang petani asal Kecamatan Jelbuk, mengatakan, dirinya memilih tidak memanen tanaman kubisnya, bukan karena hasil panen yang buruk. Melainkan harga pasaran yang anjlok. Di antaranya harga terong di tingkat petani per kilogram hanya Rp 600, kubis Rp 400–500 per kilogram, sementara tomat sudah tidak laku. “Harganya tidak sebanding dengan besarnya biaya pengeluaran,” terangnya.

Dia menambahkan, musim panen saat ini dia tidak bisa mengalkulasi keuntungan lagi. Bahkan untuk mengembalikan modal biaya perawatan saja juga tidak memungkinkan. “Karena harganya sudah anjlok sekali. Normalnya kubis itu Rp 2.000 per kilogram. Baru saya dapat untung,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/