Bukan Pilihan Profesi Milenial, Pria ini Justru Melihat Peluang

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BANYAK anak muda yang menghindari pertanian sebagai pekerjaan utama. Namun, Muhammad Fieqih Hidayatullah justru sebaliknya. Pemuda 28 ini justru menekuni pekerjaan sebagai petani dengan menanam sayuran hidroponik. Walau sempat merugi akibat terdampak pandemi, tapi kini dia mampu bangkit. Bahkan, permintaan sayuran hidroponik makin melesat melebihi sebelum pagebluk.

Sebelum pandemi, pria yang karib disapa Fiki ini mengatakan, sayuran hidroponik itu dipasarkan di Surabaya. “Ada pengepul besar di Surabaya. Per tiga hari sekali kirim satu kuintal sayuran selada hidroponik. Sebenarnya minta sehari satu kuintal, tapi saya tidak sanggup,” ungkapnya.

Namun, karena efek pandemi pada Maret 2020, kontrak pengiriman sayur hidroponik dibekukan sepihak dan tidak tahu sampai kapan. “April sampai Mei over produksi dan bingung mau diapakan sayur ini,” katanya.

Kondisi demikian membuat Fiki memutar otak bagaimana usahanya bisa berjalan. Dia juga mulai mencari ceruk pasar baru. “Bikin proposal ke hotel, resto, kafe, dan katering. Saya juga membawa contoh sayur,” terangnya.

Mencoba mencari jalan lain, mulai membuahkan hasil pada Juli 2020. New normal pada Juli tahun kemarin mulai ada jawaban dari restoran yang membutuhkan sayuran. Tapi, jumlahnya masih sedikit. Hanya sekitar 5 kilogram. “Dikirim dua sampai tiga hari sekali,” tuturnya.

Dari mencari ceruk pasar baru tersebut, Fiki akhirnya juga mengikuti permintaan pasar dan konsumen. Jadi, dia mengubah target pasar dan komoditas. Bila dulu hanya fokus pada tanaman selada, kini dia mulai menanam sayuran beraneka ragam. Salah satunya pakcoi.

Setelah berangsur membaik, dia juga sempat terkena dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). “Sempat terdampak lagi akibat PPKM pada Agustus, tapi tidak begitu lama. Sekitar dua minggu,” ucapnya.

Menurut dia, sebagai pengusaha atau pebisnis, harus mampu fleksibel. “Ambisi boleh, idealis juga boleh. Tapi, yang perlu melakukan penyesuaian diri dengan kondisi,” katanya. Bahkan, sekarang keuntungan yang didapat Fiki lebih tinggi daripada sebelum pandemi. “Ya, karena selain permintaan meningkat, juga tidak lagi bergantung pada pengepul,” tuturnya.

Dia juga melakukan terobosan untuk menjual sayuran hidroponik secara daring. Hasilnya, konsumen yang berada banyak di perumahan kerap memesan. “Namun, apa pun bisnisnya coba dikemas rapi dan bersih, pasti ada pelanggan yang datang,” urainya.

Bila saat pandemi banyak yang beralih pekerjaan hingga beralih usaha, namun Fiki tetap kukuh terhadap dunia pertanian. “Selama masih ada manusia, maka kebutuhan makan pasti ada. Sehingga, pasti ada jalan untuk tanam sayur,” pungkas pria asal Desa Patemon, Kecamatan Pakusari, ini.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Fiki For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih