alexametrics
22.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Tanpa Sosial Media, Bisnis Saya Mati

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID “Tanpa sosial media, usaha saya mati,” tegas Vivin Rofiqoh, pengusaha kerajinan batik asal Dusun Sumberpinang, Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang. Sebab, untuk melakukan transaksi pembayaran, dia harus ke kota setiap hari. Sementara, akses menuju kota cukup sulit. Selain itu, promosi dan penjualan batik juga dilakukan di media sosial dan marketplace. Karena itulah, Vivin merasa sangat terbantu dengan kemajuan teknologi digital.

Perkembangan teknologi finansial menuntut Vivin terus belajar tentang keuangan. Sebab, pekerjaannya mengharuskannya menguasai hal itu. Mulai dari transaksi keuangan, belanja, hingga pinjam uang secara daring. Tak hanya itu, ia juga belajar risiko, hak, dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.

Rumahnya berada di daerah pelosok, tak mudah untuk menjangkau lokasi kerajinan batik Sekarwaru ini. Sebab, harus melewati jalan setapak di tengah hamparan sawah. Hanya sepeda motor yang bisa melewatinya. Namun, harus berhati-hati agar tidak terjatuh. Dusun ini mulai dikenal karena batiknya yang diminati pasar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Internet telah mengubah segalanya. Berada di  kawasan terpencil, tak membuat barang jualan tak laku. Vivin, perajin batik Sekarwaru ini mengalaminya. Ketika ditemui di rumahnya, ada beberapa helai kain yang sudah dibatik dijemur. Motif batiknya ada yang berupa tembakau, kopi, hingga cokelat.

Di ruang tamunya, sudah ada display batik yang dengan berbagai warna. Batik itu juga dipajang di media sosial, mulai dari Instagram, Facebook, hingga marketplace ternama di Indonesia.

Keterbatasan akses dan sarana tidak menjadi penghalang untuk memulai usaha.  Perempuan yang akrab disapa Vivin ini baru merintis usaha batik khas Jember. Tak banyak warga Mayang yang bergerak di sektor ini.  Hanya ada sekitar  dua perajin batik. “Saya baru memulai sekitar tahun 2016,” katanya.

Kendati masih baru, usaha batik yang ditekuninya sudah cukup maju. Internet telah memudahkannya memulai usaha kerajinan batik. “Bahannya beli secara online dari Solo,” ujarnya. Mulai dari kain, canting, pewarna, kompor, dan alat lainnya.

Perkenalan Vivin dengan penyuplai bahan batik di Solo pun melalui media sosial Facebook. Komunikasi dibangun melalui messenger, lalu dilanjut melalui WhatsApp.

Dari sanalah terjadi penawaran, mulai dari harga dan spesifikasi barang. Ada lima toko yang menawarinya. “Saya jajal semuanya, cari barang yang paling berkualitas, namun harganya sama,” tuturnya. Transaksi itu dilakukan sampai sekarang. Ketika sudah sepakat dan cocok, barang dibeli secara daring lalu dikirim melalui jasa pengiriman.

Penjualan batik Sekarwaru dilakukan melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram hingga berbagai marketplace yang mulai bervariasi. Pembelinya berasal dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Sumatra. Dia memperkenalkan produk batiknya di media sosial atau marketplace. “Tak perlu datang ke ATM untuk transaksi pembayaran,” akunya. Semua bisa dilakukan melalui gawai. Perkembangan teknologi digital ini memudahkan para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya. “Ekonomi digital di negara maju dan berkembang ditekankan karena benefit ekonominya luar biasa,” tambah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah.

Menurut dia, kemajuan teknologi sudah merambat berbagai sektor. Mulai dari sektor keuangan, perbankan, hingga para pelaku UMKM. Ada efisiensi waktu, biaya, dan kecepatan akses informasi. Dari sana, pasar tak lagi konvensional dengan cara harus bertatap muka dan tawar menawar. Namun, pasar sudah bergeser ke dunia maya. “Aktivitas di darat lebih membutuhkan biaya,” ujarnya.

Untuk itu, seiring inovasi teknologi yang berkembang, para pelaku UMKM harus memahami segala hal yang berkaitan dengan keuangan. Tak hanya literasi keuangan, namun juga inklusi keuangan. Pemasaran produk UMKM juga harus lebih baik dengan kualitas yang bagus agar dilirik oleh pasar.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID “Tanpa sosial media, usaha saya mati,” tegas Vivin Rofiqoh, pengusaha kerajinan batik asal Dusun Sumberpinang, Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang. Sebab, untuk melakukan transaksi pembayaran, dia harus ke kota setiap hari. Sementara, akses menuju kota cukup sulit. Selain itu, promosi dan penjualan batik juga dilakukan di media sosial dan marketplace. Karena itulah, Vivin merasa sangat terbantu dengan kemajuan teknologi digital.

Perkembangan teknologi finansial menuntut Vivin terus belajar tentang keuangan. Sebab, pekerjaannya mengharuskannya menguasai hal itu. Mulai dari transaksi keuangan, belanja, hingga pinjam uang secara daring. Tak hanya itu, ia juga belajar risiko, hak, dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.

Rumahnya berada di daerah pelosok, tak mudah untuk menjangkau lokasi kerajinan batik Sekarwaru ini. Sebab, harus melewati jalan setapak di tengah hamparan sawah. Hanya sepeda motor yang bisa melewatinya. Namun, harus berhati-hati agar tidak terjatuh. Dusun ini mulai dikenal karena batiknya yang diminati pasar.

Internet telah mengubah segalanya. Berada di  kawasan terpencil, tak membuat barang jualan tak laku. Vivin, perajin batik Sekarwaru ini mengalaminya. Ketika ditemui di rumahnya, ada beberapa helai kain yang sudah dibatik dijemur. Motif batiknya ada yang berupa tembakau, kopi, hingga cokelat.

Di ruang tamunya, sudah ada display batik yang dengan berbagai warna. Batik itu juga dipajang di media sosial, mulai dari Instagram, Facebook, hingga marketplace ternama di Indonesia.

Keterbatasan akses dan sarana tidak menjadi penghalang untuk memulai usaha.  Perempuan yang akrab disapa Vivin ini baru merintis usaha batik khas Jember. Tak banyak warga Mayang yang bergerak di sektor ini.  Hanya ada sekitar  dua perajin batik. “Saya baru memulai sekitar tahun 2016,” katanya.

Kendati masih baru, usaha batik yang ditekuninya sudah cukup maju. Internet telah memudahkannya memulai usaha kerajinan batik. “Bahannya beli secara online dari Solo,” ujarnya. Mulai dari kain, canting, pewarna, kompor, dan alat lainnya.

Perkenalan Vivin dengan penyuplai bahan batik di Solo pun melalui media sosial Facebook. Komunikasi dibangun melalui messenger, lalu dilanjut melalui WhatsApp.

Dari sanalah terjadi penawaran, mulai dari harga dan spesifikasi barang. Ada lima toko yang menawarinya. “Saya jajal semuanya, cari barang yang paling berkualitas, namun harganya sama,” tuturnya. Transaksi itu dilakukan sampai sekarang. Ketika sudah sepakat dan cocok, barang dibeli secara daring lalu dikirim melalui jasa pengiriman.

Penjualan batik Sekarwaru dilakukan melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram hingga berbagai marketplace yang mulai bervariasi. Pembelinya berasal dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Sumatra. Dia memperkenalkan produk batiknya di media sosial atau marketplace. “Tak perlu datang ke ATM untuk transaksi pembayaran,” akunya. Semua bisa dilakukan melalui gawai. Perkembangan teknologi digital ini memudahkan para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya. “Ekonomi digital di negara maju dan berkembang ditekankan karena benefit ekonominya luar biasa,” tambah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah.

Menurut dia, kemajuan teknologi sudah merambat berbagai sektor. Mulai dari sektor keuangan, perbankan, hingga para pelaku UMKM. Ada efisiensi waktu, biaya, dan kecepatan akses informasi. Dari sana, pasar tak lagi konvensional dengan cara harus bertatap muka dan tawar menawar. Namun, pasar sudah bergeser ke dunia maya. “Aktivitas di darat lebih membutuhkan biaya,” ujarnya.

Untuk itu, seiring inovasi teknologi yang berkembang, para pelaku UMKM harus memahami segala hal yang berkaitan dengan keuangan. Tak hanya literasi keuangan, namun juga inklusi keuangan. Pemasaran produk UMKM juga harus lebih baik dengan kualitas yang bagus agar dilirik oleh pasar.

RADAR JEMBER.ID “Tanpa sosial media, usaha saya mati,” tegas Vivin Rofiqoh, pengusaha kerajinan batik asal Dusun Sumberpinang, Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang. Sebab, untuk melakukan transaksi pembayaran, dia harus ke kota setiap hari. Sementara, akses menuju kota cukup sulit. Selain itu, promosi dan penjualan batik juga dilakukan di media sosial dan marketplace. Karena itulah, Vivin merasa sangat terbantu dengan kemajuan teknologi digital.

Perkembangan teknologi finansial menuntut Vivin terus belajar tentang keuangan. Sebab, pekerjaannya mengharuskannya menguasai hal itu. Mulai dari transaksi keuangan, belanja, hingga pinjam uang secara daring. Tak hanya itu, ia juga belajar risiko, hak, dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.

Rumahnya berada di daerah pelosok, tak mudah untuk menjangkau lokasi kerajinan batik Sekarwaru ini. Sebab, harus melewati jalan setapak di tengah hamparan sawah. Hanya sepeda motor yang bisa melewatinya. Namun, harus berhati-hati agar tidak terjatuh. Dusun ini mulai dikenal karena batiknya yang diminati pasar.

Internet telah mengubah segalanya. Berada di  kawasan terpencil, tak membuat barang jualan tak laku. Vivin, perajin batik Sekarwaru ini mengalaminya. Ketika ditemui di rumahnya, ada beberapa helai kain yang sudah dibatik dijemur. Motif batiknya ada yang berupa tembakau, kopi, hingga cokelat.

Di ruang tamunya, sudah ada display batik yang dengan berbagai warna. Batik itu juga dipajang di media sosial, mulai dari Instagram, Facebook, hingga marketplace ternama di Indonesia.

Keterbatasan akses dan sarana tidak menjadi penghalang untuk memulai usaha.  Perempuan yang akrab disapa Vivin ini baru merintis usaha batik khas Jember. Tak banyak warga Mayang yang bergerak di sektor ini.  Hanya ada sekitar  dua perajin batik. “Saya baru memulai sekitar tahun 2016,” katanya.

Kendati masih baru, usaha batik yang ditekuninya sudah cukup maju. Internet telah memudahkannya memulai usaha kerajinan batik. “Bahannya beli secara online dari Solo,” ujarnya. Mulai dari kain, canting, pewarna, kompor, dan alat lainnya.

Perkenalan Vivin dengan penyuplai bahan batik di Solo pun melalui media sosial Facebook. Komunikasi dibangun melalui messenger, lalu dilanjut melalui WhatsApp.

Dari sanalah terjadi penawaran, mulai dari harga dan spesifikasi barang. Ada lima toko yang menawarinya. “Saya jajal semuanya, cari barang yang paling berkualitas, namun harganya sama,” tuturnya. Transaksi itu dilakukan sampai sekarang. Ketika sudah sepakat dan cocok, barang dibeli secara daring lalu dikirim melalui jasa pengiriman.

Penjualan batik Sekarwaru dilakukan melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram hingga berbagai marketplace yang mulai bervariasi. Pembelinya berasal dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Sumatra. Dia memperkenalkan produk batiknya di media sosial atau marketplace. “Tak perlu datang ke ATM untuk transaksi pembayaran,” akunya. Semua bisa dilakukan melalui gawai. Perkembangan teknologi digital ini memudahkan para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya. “Ekonomi digital di negara maju dan berkembang ditekankan karena benefit ekonominya luar biasa,” tambah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah.

Menurut dia, kemajuan teknologi sudah merambat berbagai sektor. Mulai dari sektor keuangan, perbankan, hingga para pelaku UMKM. Ada efisiensi waktu, biaya, dan kecepatan akses informasi. Dari sana, pasar tak lagi konvensional dengan cara harus bertatap muka dan tawar menawar. Namun, pasar sudah bergeser ke dunia maya. “Aktivitas di darat lebih membutuhkan biaya,” ujarnya.

Untuk itu, seiring inovasi teknologi yang berkembang, para pelaku UMKM harus memahami segala hal yang berkaitan dengan keuangan. Tak hanya literasi keuangan, namun juga inklusi keuangan. Pemasaran produk UMKM juga harus lebih baik dengan kualitas yang bagus agar dilirik oleh pasar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/