alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Jadi Peluang Munculkan Petani Milenial

Budi Daya Edamame Sistem Kerja Sama dengan Perusahaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini, mulai jarang remaja yang bercita-cita sebagai petani. Sebab, pekerjaan itu dianggap kurang keren dan bersinggungan dengan hal-hal yang kotor. Padahal, dunia pertanian masih sangat menjanjikan. Bahkan sampai sekarang, sumbangsih sektor pertanian terhadap ekonomi Jember sangat besar. Tercatat hampir sepertiga dari total produk domestik regional bruto (PDRB) Jember.

Namun, jika kondisi itu terus dibiarkan, maka dunia pertanian bisa saja terancam. Sebab, tak ada regenerasi. Hal inilah yang sedang menjadi perhatian pemerintah. Bagaimana menciptakan produk pertanian yang dapat menarik minat generasi muda bercocok tanam. Dan tentunya, menguntungkan secara finansial.

Kemarin (4/6), Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Widodo mampir ke Jember. Dia mengaku, kunjungan ke desa-desa itu untuk mencari peluang hal apa yang bisa digunakan demi mengembangkan ekonomi perdesaan. Yang kemudian disinergikan dengan keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kini tengah digarap oleh Kemendes.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya tanya, berapa dana desa? Ada Rp 1,2 miliar,” katanya, mengungkapkan besaran dana desa (DD) dari pemerintah pusat yang dikucurkan ke desa-desa. Jika dikelola dengan baik, dana sebesar itu berpotensi mengembangkan berbagai jenis usaha di desa. Termasuk di bidang pertanian.

Sejauh ini, kata dia, penggunaan DD memang masih fokus pada penanganan Covid-19. Meski begitu, untuk ke depan, Samsul menjelaskan, pihaknya sudah memetakan model bisnis apa yang cocok untuk BUMDes. Salah satu yang sedang dijajaki adalah bekerja sama dengan PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT). Perusahaan produksi edamame yang berlokasi di Jalan Argopuro, Dusun Sumuran, Desa Klompangan, Kecamatan Ajung. “Karena di sini, semuanya sudah ditanggung oleh perusahaan,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatannya, Samsul menguraikan, yang mampu bertahan dari fluktuasi ekonomi adalah bahan pangan. Termasuk edamame yang tergolong sayur-mayur. Inilah yang menurutnya menjadi peluang bagi pemuda desa agar mau bertani. Sebab, pangsa pasarnya sudah jelas dan cukup menjanjikan. “Kalau tidak ada kejelasan pasar dan kejelasan tata kelola, mereka (pemuda, Red) memang sering kali tidak mau. Dan saya kira kerja sama ini bisa menjadi solusi,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT GMIT Erwan Santoso menuturkan, saat ini pihaknya bekerja sama dengan puluhan petani untuk melakukan proses tanam edamame. Pihaknya tak memandang usia. Bahkan, generasi milenial pun juga bisa terlibat. Asalkan calon petani yang berniat bekerja sama itu memenuhi persyaratan. “Soalnya, ada seleksi yang harus dilalui,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini, mulai jarang remaja yang bercita-cita sebagai petani. Sebab, pekerjaan itu dianggap kurang keren dan bersinggungan dengan hal-hal yang kotor. Padahal, dunia pertanian masih sangat menjanjikan. Bahkan sampai sekarang, sumbangsih sektor pertanian terhadap ekonomi Jember sangat besar. Tercatat hampir sepertiga dari total produk domestik regional bruto (PDRB) Jember.

Namun, jika kondisi itu terus dibiarkan, maka dunia pertanian bisa saja terancam. Sebab, tak ada regenerasi. Hal inilah yang sedang menjadi perhatian pemerintah. Bagaimana menciptakan produk pertanian yang dapat menarik minat generasi muda bercocok tanam. Dan tentunya, menguntungkan secara finansial.

Kemarin (4/6), Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Widodo mampir ke Jember. Dia mengaku, kunjungan ke desa-desa itu untuk mencari peluang hal apa yang bisa digunakan demi mengembangkan ekonomi perdesaan. Yang kemudian disinergikan dengan keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kini tengah digarap oleh Kemendes.

“Saya tanya, berapa dana desa? Ada Rp 1,2 miliar,” katanya, mengungkapkan besaran dana desa (DD) dari pemerintah pusat yang dikucurkan ke desa-desa. Jika dikelola dengan baik, dana sebesar itu berpotensi mengembangkan berbagai jenis usaha di desa. Termasuk di bidang pertanian.

Sejauh ini, kata dia, penggunaan DD memang masih fokus pada penanganan Covid-19. Meski begitu, untuk ke depan, Samsul menjelaskan, pihaknya sudah memetakan model bisnis apa yang cocok untuk BUMDes. Salah satu yang sedang dijajaki adalah bekerja sama dengan PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT). Perusahaan produksi edamame yang berlokasi di Jalan Argopuro, Dusun Sumuran, Desa Klompangan, Kecamatan Ajung. “Karena di sini, semuanya sudah ditanggung oleh perusahaan,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatannya, Samsul menguraikan, yang mampu bertahan dari fluktuasi ekonomi adalah bahan pangan. Termasuk edamame yang tergolong sayur-mayur. Inilah yang menurutnya menjadi peluang bagi pemuda desa agar mau bertani. Sebab, pangsa pasarnya sudah jelas dan cukup menjanjikan. “Kalau tidak ada kejelasan pasar dan kejelasan tata kelola, mereka (pemuda, Red) memang sering kali tidak mau. Dan saya kira kerja sama ini bisa menjadi solusi,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT GMIT Erwan Santoso menuturkan, saat ini pihaknya bekerja sama dengan puluhan petani untuk melakukan proses tanam edamame. Pihaknya tak memandang usia. Bahkan, generasi milenial pun juga bisa terlibat. Asalkan calon petani yang berniat bekerja sama itu memenuhi persyaratan. “Soalnya, ada seleksi yang harus dilalui,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saat ini, mulai jarang remaja yang bercita-cita sebagai petani. Sebab, pekerjaan itu dianggap kurang keren dan bersinggungan dengan hal-hal yang kotor. Padahal, dunia pertanian masih sangat menjanjikan. Bahkan sampai sekarang, sumbangsih sektor pertanian terhadap ekonomi Jember sangat besar. Tercatat hampir sepertiga dari total produk domestik regional bruto (PDRB) Jember.

Namun, jika kondisi itu terus dibiarkan, maka dunia pertanian bisa saja terancam. Sebab, tak ada regenerasi. Hal inilah yang sedang menjadi perhatian pemerintah. Bagaimana menciptakan produk pertanian yang dapat menarik minat generasi muda bercocok tanam. Dan tentunya, menguntungkan secara finansial.

Kemarin (4/6), Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Widodo mampir ke Jember. Dia mengaku, kunjungan ke desa-desa itu untuk mencari peluang hal apa yang bisa digunakan demi mengembangkan ekonomi perdesaan. Yang kemudian disinergikan dengan keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang kini tengah digarap oleh Kemendes.

“Saya tanya, berapa dana desa? Ada Rp 1,2 miliar,” katanya, mengungkapkan besaran dana desa (DD) dari pemerintah pusat yang dikucurkan ke desa-desa. Jika dikelola dengan baik, dana sebesar itu berpotensi mengembangkan berbagai jenis usaha di desa. Termasuk di bidang pertanian.

Sejauh ini, kata dia, penggunaan DD memang masih fokus pada penanganan Covid-19. Meski begitu, untuk ke depan, Samsul menjelaskan, pihaknya sudah memetakan model bisnis apa yang cocok untuk BUMDes. Salah satu yang sedang dijajaki adalah bekerja sama dengan PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT). Perusahaan produksi edamame yang berlokasi di Jalan Argopuro, Dusun Sumuran, Desa Klompangan, Kecamatan Ajung. “Karena di sini, semuanya sudah ditanggung oleh perusahaan,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatannya, Samsul menguraikan, yang mampu bertahan dari fluktuasi ekonomi adalah bahan pangan. Termasuk edamame yang tergolong sayur-mayur. Inilah yang menurutnya menjadi peluang bagi pemuda desa agar mau bertani. Sebab, pangsa pasarnya sudah jelas dan cukup menjanjikan. “Kalau tidak ada kejelasan pasar dan kejelasan tata kelola, mereka (pemuda, Red) memang sering kali tidak mau. Dan saya kira kerja sama ini bisa menjadi solusi,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT GMIT Erwan Santoso menuturkan, saat ini pihaknya bekerja sama dengan puluhan petani untuk melakukan proses tanam edamame. Pihaknya tak memandang usia. Bahkan, generasi milenial pun juga bisa terlibat. Asalkan calon petani yang berniat bekerja sama itu memenuhi persyaratan. “Soalnya, ada seleksi yang harus dilalui,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/