alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Perangkat Desa Sukses Jadi Petani Lombok Ogah Hitung laba

Mobile_AP_Rectangle 1

 

TRENGGALEK – Bagi Sukono, jabatan perangkat desa diakui lelaki tersebut belum bisa menopang penuh ekonomi keluarga. Untuk itu, dia memilih mencari pekerjaan sampingan sebagai petani cabai atau lombok. Kini, pekerjaan sampingan itu justru lebih menghasilkan.

BACA JUGA: Subsidi Dicabut Picu Harga Migor Curah Naik

Mobile_AP_Rectangle 2

Rumah Sukono sendiri menghadap ladang cabai dan berukuran cukup luas. Ladang itu bagaikan harta berharga, karena dari penghasilan panen cabai saja, dia dan keluarga menggantungkan hidup.

 

Waktu itu, ladang cabai milik Sukono sedang berbuah. Berwarna hijau dan sedikit kekuning-kuningan. Warna itu menunjukkan masa panen semakin dekat atau sekitar tiga hari ke depan.Berada tepat di tengah ladang, Sukono memeriksa tiap inci tanaman cabai.

 

Apakah ada lombok itu terindikasi penyakit atau tidak. Namun, hal itu justru membuatnya sedikit kecewa karena banyak buah cabai yang berpenyakit sehingga tidak layak jual.Hasil panen yang sedemikian rupa, kata Sukono, sudah lumrah.

 

Bukan kali ini saja, tapi hampir tiap masa panen pasti ada buah atau tanaman yang rusak. Baginya, hasil tani musim ini tetap rezeki, dibandingkan gagal panen.Pria kelahiran tahun 1969 itu, mulai menekuni tani cabai sejak 2015 lalu,.

 

Sukono sendiri kini menjabat sebagai kaur umum Desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek, sejak 2010.Sukono tertarik menambah pekerjaan sebagai petani cabai karena pekerjaan utamanya tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.Tiap bulan, cuma Rp 600 ribu,.

- Advertisement -

 

TRENGGALEK – Bagi Sukono, jabatan perangkat desa diakui lelaki tersebut belum bisa menopang penuh ekonomi keluarga. Untuk itu, dia memilih mencari pekerjaan sampingan sebagai petani cabai atau lombok. Kini, pekerjaan sampingan itu justru lebih menghasilkan.

BACA JUGA: Subsidi Dicabut Picu Harga Migor Curah Naik

Rumah Sukono sendiri menghadap ladang cabai dan berukuran cukup luas. Ladang itu bagaikan harta berharga, karena dari penghasilan panen cabai saja, dia dan keluarga menggantungkan hidup.

 

Waktu itu, ladang cabai milik Sukono sedang berbuah. Berwarna hijau dan sedikit kekuning-kuningan. Warna itu menunjukkan masa panen semakin dekat atau sekitar tiga hari ke depan.Berada tepat di tengah ladang, Sukono memeriksa tiap inci tanaman cabai.

 

Apakah ada lombok itu terindikasi penyakit atau tidak. Namun, hal itu justru membuatnya sedikit kecewa karena banyak buah cabai yang berpenyakit sehingga tidak layak jual.Hasil panen yang sedemikian rupa, kata Sukono, sudah lumrah.

 

Bukan kali ini saja, tapi hampir tiap masa panen pasti ada buah atau tanaman yang rusak. Baginya, hasil tani musim ini tetap rezeki, dibandingkan gagal panen.Pria kelahiran tahun 1969 itu, mulai menekuni tani cabai sejak 2015 lalu,.

 

Sukono sendiri kini menjabat sebagai kaur umum Desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek, sejak 2010.Sukono tertarik menambah pekerjaan sebagai petani cabai karena pekerjaan utamanya tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.Tiap bulan, cuma Rp 600 ribu,.

 

TRENGGALEK – Bagi Sukono, jabatan perangkat desa diakui lelaki tersebut belum bisa menopang penuh ekonomi keluarga. Untuk itu, dia memilih mencari pekerjaan sampingan sebagai petani cabai atau lombok. Kini, pekerjaan sampingan itu justru lebih menghasilkan.

BACA JUGA: Subsidi Dicabut Picu Harga Migor Curah Naik

Rumah Sukono sendiri menghadap ladang cabai dan berukuran cukup luas. Ladang itu bagaikan harta berharga, karena dari penghasilan panen cabai saja, dia dan keluarga menggantungkan hidup.

 

Waktu itu, ladang cabai milik Sukono sedang berbuah. Berwarna hijau dan sedikit kekuning-kuningan. Warna itu menunjukkan masa panen semakin dekat atau sekitar tiga hari ke depan.Berada tepat di tengah ladang, Sukono memeriksa tiap inci tanaman cabai.

 

Apakah ada lombok itu terindikasi penyakit atau tidak. Namun, hal itu justru membuatnya sedikit kecewa karena banyak buah cabai yang berpenyakit sehingga tidak layak jual.Hasil panen yang sedemikian rupa, kata Sukono, sudah lumrah.

 

Bukan kali ini saja, tapi hampir tiap masa panen pasti ada buah atau tanaman yang rusak. Baginya, hasil tani musim ini tetap rezeki, dibandingkan gagal panen.Pria kelahiran tahun 1969 itu, mulai menekuni tani cabai sejak 2015 lalu,.

 

Sukono sendiri kini menjabat sebagai kaur umum Desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek, sejak 2010.Sukono tertarik menambah pekerjaan sebagai petani cabai karena pekerjaan utamanya tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.Tiap bulan, cuma Rp 600 ribu,.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/