alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Perda Pasar Modern bak Macan Kertas

Perlindungan Toko Kelontong dan Pengusaha Kecil Terabaikan

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Persaingan pasar-pasar tradisional dan pasar modern hari ini begitu masif. Di Jember, keberadaan pasar modern berupa toko ritel berjejaring hingga pusat-pusat perbelanjaan tumbuh subur di tengah-tengah pasar tradisional dan toko-toko kelontong milik pemodal kecil.

Fenomena itu disayangkan. Sebab, akan terjadi persaingan yang tidak sehat dan memangkas peluang pasar tradisional dan toko kecil hingga kesulitan bernapas karena kalah saing. “Jember itu sudah memiliki Perda Nomor 9 Tahun 2016 yang mengatur jarak antartoko atau pasar tradisional dan modern. Tapi selama ini perdanya mandul,” sesal Alfian Andri Wijaya, anggota DPRD Jember.

Menurut Alfian, semangat dari perda tersebut sangat mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak sekaligus, toko dari pemodal besar dan kecil. Seba, ada pengaturan jarak operasional di dalamnya. Namun, fakta di lapangan hari ini, menjamurnya toko ritel berjejaring dan pusat-pusat perbelanjaan modern seakan tidak terkendali. “Fenomena ini yang justru mematikan usaha ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang bertaruh pada pasar tradisional dan toko kelontong,” sesalnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Toko-toko modern berjejer bebas dengan jarak yang hampir tidak sampai lima menit perjalanan. Padahal, ketentuan jarak dan jumlah toko modern yang beroperasi, sebagaimana ayat 2 perda tersebut, meliputi: jarak pusat perbelanjaan dengan pasar rakyat yang telah ada sebelumnya paling sedikit 1.500 meter. Jarak minimarket berjaringan dengan pasar rakyat yang telah ada sebelumnya paling sedikit 1.000 meter atau satu kilometer. Jarak yang sama juga berlaku antarminimarket berjaringan. Jumlah minimarket berjaringan di kecamatan paling banyak dua, kecuali kecamatan kota, yaitu Kaliwates, Kecamatan Sumbersari, dan Patrang.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Persaingan pasar-pasar tradisional dan pasar modern hari ini begitu masif. Di Jember, keberadaan pasar modern berupa toko ritel berjejaring hingga pusat-pusat perbelanjaan tumbuh subur di tengah-tengah pasar tradisional dan toko-toko kelontong milik pemodal kecil.

Fenomena itu disayangkan. Sebab, akan terjadi persaingan yang tidak sehat dan memangkas peluang pasar tradisional dan toko kecil hingga kesulitan bernapas karena kalah saing. “Jember itu sudah memiliki Perda Nomor 9 Tahun 2016 yang mengatur jarak antartoko atau pasar tradisional dan modern. Tapi selama ini perdanya mandul,” sesal Alfian Andri Wijaya, anggota DPRD Jember.

Menurut Alfian, semangat dari perda tersebut sangat mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak sekaligus, toko dari pemodal besar dan kecil. Seba, ada pengaturan jarak operasional di dalamnya. Namun, fakta di lapangan hari ini, menjamurnya toko ritel berjejaring dan pusat-pusat perbelanjaan modern seakan tidak terkendali. “Fenomena ini yang justru mematikan usaha ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang bertaruh pada pasar tradisional dan toko kelontong,” sesalnya.

Toko-toko modern berjejer bebas dengan jarak yang hampir tidak sampai lima menit perjalanan. Padahal, ketentuan jarak dan jumlah toko modern yang beroperasi, sebagaimana ayat 2 perda tersebut, meliputi: jarak pusat perbelanjaan dengan pasar rakyat yang telah ada sebelumnya paling sedikit 1.500 meter. Jarak minimarket berjaringan dengan pasar rakyat yang telah ada sebelumnya paling sedikit 1.000 meter atau satu kilometer. Jarak yang sama juga berlaku antarminimarket berjaringan. Jumlah minimarket berjaringan di kecamatan paling banyak dua, kecuali kecamatan kota, yaitu Kaliwates, Kecamatan Sumbersari, dan Patrang.

SUMBERSARI, Radar Jember – Persaingan pasar-pasar tradisional dan pasar modern hari ini begitu masif. Di Jember, keberadaan pasar modern berupa toko ritel berjejaring hingga pusat-pusat perbelanjaan tumbuh subur di tengah-tengah pasar tradisional dan toko-toko kelontong milik pemodal kecil.

Fenomena itu disayangkan. Sebab, akan terjadi persaingan yang tidak sehat dan memangkas peluang pasar tradisional dan toko kecil hingga kesulitan bernapas karena kalah saing. “Jember itu sudah memiliki Perda Nomor 9 Tahun 2016 yang mengatur jarak antartoko atau pasar tradisional dan modern. Tapi selama ini perdanya mandul,” sesal Alfian Andri Wijaya, anggota DPRD Jember.

Menurut Alfian, semangat dari perda tersebut sangat mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak sekaligus, toko dari pemodal besar dan kecil. Seba, ada pengaturan jarak operasional di dalamnya. Namun, fakta di lapangan hari ini, menjamurnya toko ritel berjejaring dan pusat-pusat perbelanjaan modern seakan tidak terkendali. “Fenomena ini yang justru mematikan usaha ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang bertaruh pada pasar tradisional dan toko kelontong,” sesalnya.

Toko-toko modern berjejer bebas dengan jarak yang hampir tidak sampai lima menit perjalanan. Padahal, ketentuan jarak dan jumlah toko modern yang beroperasi, sebagaimana ayat 2 perda tersebut, meliputi: jarak pusat perbelanjaan dengan pasar rakyat yang telah ada sebelumnya paling sedikit 1.500 meter. Jarak minimarket berjaringan dengan pasar rakyat yang telah ada sebelumnya paling sedikit 1.000 meter atau satu kilometer. Jarak yang sama juga berlaku antarminimarket berjaringan. Jumlah minimarket berjaringan di kecamatan paling banyak dua, kecuali kecamatan kota, yaitu Kaliwates, Kecamatan Sumbersari, dan Patrang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/