alexametrics
21.3 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Setelah Minyak Goreng, Giliran Kedelai Impor

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok seakan sulit dihindari. Setelah minyak goreng yang harganya dilepas seusai mekanisme pasar, kini kenaikan serupa mulai diikuti sejumlah komoditas lainnya, seperti kedelai.

Baca Juga : Pedagang yang Memainkan Harga Minyak Goreng Curah Bisa Dipidana

Sejumlah pengusaha tahu dan tempe sempat mengeluhkan kenaikan harga kedelai. Biasanya, mereka mendapat pasokan kedelai mulai dari harga Rp 12,5 ribu hingga Rp 14 ribu. Kenaikan itu juga membuat mereka menaikkan harga jual tahu dan tempe di pasaran, hingga terjadi pengurangan pelanggan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Terpaksa harus menaikkan harga Rp 500 perak. Biasanya tahu per 10 biji kami jual Rp 2.000, kini dijual Rp 2.500. Kalau tidak dinaikkan, tidak bisa menutupi,” keluh Rizal Irfandi, pengusaha tahu asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kencong.

Kenaikan disebut-sebut lantaran suplai kedelai skala nasional yang masih mengandalkan impor. “Kita masih ketergantungan akan kedelai impor. Sebanyak 80 persen kedelai kita impor dari Amerika,” ulas Bambang Saputro, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok seakan sulit dihindari. Setelah minyak goreng yang harganya dilepas seusai mekanisme pasar, kini kenaikan serupa mulai diikuti sejumlah komoditas lainnya, seperti kedelai.

Baca Juga : Pedagang yang Memainkan Harga Minyak Goreng Curah Bisa Dipidana

Sejumlah pengusaha tahu dan tempe sempat mengeluhkan kenaikan harga kedelai. Biasanya, mereka mendapat pasokan kedelai mulai dari harga Rp 12,5 ribu hingga Rp 14 ribu. Kenaikan itu juga membuat mereka menaikkan harga jual tahu dan tempe di pasaran, hingga terjadi pengurangan pelanggan.

“Terpaksa harus menaikkan harga Rp 500 perak. Biasanya tahu per 10 biji kami jual Rp 2.000, kini dijual Rp 2.500. Kalau tidak dinaikkan, tidak bisa menutupi,” keluh Rizal Irfandi, pengusaha tahu asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kencong.

Kenaikan disebut-sebut lantaran suplai kedelai skala nasional yang masih mengandalkan impor. “Kita masih ketergantungan akan kedelai impor. Sebanyak 80 persen kedelai kita impor dari Amerika,” ulas Bambang Saputro, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok seakan sulit dihindari. Setelah minyak goreng yang harganya dilepas seusai mekanisme pasar, kini kenaikan serupa mulai diikuti sejumlah komoditas lainnya, seperti kedelai.

Baca Juga : Pedagang yang Memainkan Harga Minyak Goreng Curah Bisa Dipidana

Sejumlah pengusaha tahu dan tempe sempat mengeluhkan kenaikan harga kedelai. Biasanya, mereka mendapat pasokan kedelai mulai dari harga Rp 12,5 ribu hingga Rp 14 ribu. Kenaikan itu juga membuat mereka menaikkan harga jual tahu dan tempe di pasaran, hingga terjadi pengurangan pelanggan.

“Terpaksa harus menaikkan harga Rp 500 perak. Biasanya tahu per 10 biji kami jual Rp 2.000, kini dijual Rp 2.500. Kalau tidak dinaikkan, tidak bisa menutupi,” keluh Rizal Irfandi, pengusaha tahu asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kencong.

Kenaikan disebut-sebut lantaran suplai kedelai skala nasional yang masih mengandalkan impor. “Kita masih ketergantungan akan kedelai impor. Sebanyak 80 persen kedelai kita impor dari Amerika,” ulas Bambang Saputro, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/