Pantang Menyerah, Difabel Perintis Usaha Handicraft

Jatuh Bangun Mohammad Feni. Bolak-balik Ditolak Kerja, Sekali Diterima Setahun Tak Digaji

PADOMASAN, RADARJEMBER.ID – TONGKAT sepanjang sekitar 1,5 meter itu seakan jadi teman setianya. Ke mana pun ia selalu membawanya dalam aktivitas sehari-hari. Meski harus tertatih-tatih, namun baginya itu sangat membantu.

Beginilah keseharian Mohammad Feni. Pria asal Dusun Krajan 1, Desa Padomasan, Kecamatan Jombang, ini awalnya terlahir dengan kondisi fisik sempurna. Bahkan, saat ia masih menempuh bangku SMA, ia menaruh mimpi besar menjadi sarjana manajemen dan seorang manajer.

Namun, mimpi itu buyar, tepatnya pada 2008 lalu. Saat itu, Feni harus merelakan satu kakinya sebelah kanan diamputasi setelah mengalami kecelakaan. Bahkan, gara-gara peristiwa itu, Feni sempat didiagnosis gegar otak. “Sejak saat itu, saya tidak bisa sekolah. Putus saat kelas 1 SMA,” kenangnya.

Sejak petaka itu, Feni mengaku kehidupannya berubah drastis. Ia ke mana-mana menjadi sulit dan bergantung pada alat bantu tongkat tersebut. Bahkan, meski harus kehilangan satu kaki, hal itu ternyata tidak gratis. Ia harus menebusnya dengan biaya amputasi dan biaya perawatan selama di rumah sakit yang nilainya mencapai Rp 80 juta. “Saya bukan berasal dari golongan keluarga mampu, biaya itu pun dapat bantuan dari saudara-saudara,” akunya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (2/8).

Sempat frustrasi dan putus asa juga diakui pria 29 tahun ini. Selain harus memupus masa sekolahnya, ia juga menghapus impiannya. Namun, ia tidak mau menyerah. Setahun selepas sembuh dari tragedi itu, Feni mulai bangkit. Ia mencoba mencari pekerjaan untuk membantu keluarganya di rumah. “Saya melamar pekerjaan ke sana kemari. Sulit. Tidak ada yang menerima. Mungkin karena keterbatasan fisik saya ini,” ungkapnya.

Melamar sebagai penjaga toko, karyawan, hingga buruh serabutan, sempat ia coba. Namun, tak ada satu pun yang mau menerima. Akhirnya, di tahun itu, Feni hijrah ke Bali. Katanya, ia diajak salah satu saudaranya ke Pulau Dewata untuk tujuan liburan. Di Bali, rupanya dia diajak bekerja. Ia mulai membabat karirnya sejak 2009 hingga 2013. Di sana, ia menjajal berbagai usaha. Mulai dari usaha ayam potong hingga menjual pakan burung. Semuanya dilakoni sendiri.

Beranjak 2014 sampai 2015, ia berganti pekerjaan di sebuah perusahaan handicraft atau kerajinan tangan milik salah satu saudaranya yang sempat membantu menalangi biaya rumah sakit. “Tidak ada tempat bagi saya untuk bekerja. Hanya saudara saya yang bisa menerima dengan keterbatasan ini,” ucapnya.

Selama bekerja di tahun itu, kata Feni, kesulitan benar-benar ia hadapi. Ia rela bekerja selama sekitar satu tahun, tanpa digaji. Hanya diberikan uang jajan setiap seminggu sekali. Hal itu ia lakukan karena tidak enak dengan bantuan saudaranya dan ingin melunasi utang budi kepada saudaranya itu dengan bekerja di sana. “Saya rela tidak digaji waktu itu. Yang penting saya bisa dapat pengalaman dan bekal. Sebab, saya sudah ingin usaha sendiri,” tambahnya.

Hingga pada 2015-2016, ia mulai membuka usaha sendiri di daerah Jimbaran, Bali. Persis yang dilakukan saudaranya, bidang handicraft. Sebab, ia sudah memiliki kemampuan membuat kerajinan seperti tas, sepatu, suvenir, atau kerajinan lainnya.

Jatuh bangun menapaki karir rupanya belum selesai menghampiri Feni. Usahanya itu malah bangkrut karena tidak kuat menutupi biaya operasional dan sewa tempat. Akhirnya, ia pun memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Padomasan, Kecamatan Jombang, selang setahun berikutnya.