alexametrics
27.9 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Anak Polisikan Ayah Kandungnya, Impitan Ekonomi Jadi Motif Kuat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang perempuan berinisial FA, 20, warga Kecamatan Ambulu, diduga menjadi korban penganiayaan oleh ayah kandungnya sendiri, Slamet, 51. Ini lantaran pemaksaan yang dilakukan saat meminta uang untuk biaya hidup kepada anaknya. Namun, karena permintaannya tidak dituruti, sang ayah gelap mata dan diduga melakukan penganiayaan kepada putri kandungnya sendiri.

Kejadian itu diketahui saat korban merekam penganiayaan tersebut melalui ponselnya. Videonya pun sempat beredar. Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 44 detik tersebut, jelas memperlihatkan sikap sang ayah. Dari munculnya perkataan kasar, sampai suara kontak fisik yang terdengar seperti sebuah pukulan.

Karena tidak tahan dengan kekerasan yang dialaminya, korban pun melapor ke Polres Jember, Senin (28/6) lalu. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, FA awalnya enggan untuk memberikan informasi. Namun, pada Rabu (30/6) malam, melalui pesan voice note, korban menceritakan kronologis kekerasan yang dialaminya.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA : PPKM Darurat, Tunggu Imbauan Gubernur

“Bapak sudah memukul saya sejak kecil. Bahkan, pemukulan yang dilakukan bapak semakin menjadi ketika Ibu telah meninggal dunia sekitar November 2011 lalu,” terang FA melalui pesan suara.

Korban juga mengisahkan, medio 2010 lalu, saat ibunya masih hidup, dia sering mendapat perlindungan dari ibunya. Kala itu, sang ibu menganggap tindakan kasar bapaknya sebagai bentuk pendidikan terhadap korban atau anaknya. “Tapi setelah ibu meninggal itu, sikap bapak semakin kasar,” sambungnya.

Selama itu, korban mengaku sempat bingung mau mengadu kepada siapa lagi selepas kepergian ibunya. Dari kata-kata kasar, pukulan, dan lainnya, diakuinya sudah kerap dialaminya. Dia hanya memendamnya sendiri, tanpa memiliki keberanian untuk mengadu atau bercerita ke siapa pun.

Selepas lulus SMK, FA diterima bekerja di salah satu kantor notaris sebagai tenaga pembantu. Dari penghasilannya bekerja itu, katanya, digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Termasuk kebutuhan sekolah adik kandungnya yang saat ini duduk di bangku SD. “Alhamdulillah, dari hasil kerja itulah cukup untuk bayar listrik, belanja, sama kebutuhan adik,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang perempuan berinisial FA, 20, warga Kecamatan Ambulu, diduga menjadi korban penganiayaan oleh ayah kandungnya sendiri, Slamet, 51. Ini lantaran pemaksaan yang dilakukan saat meminta uang untuk biaya hidup kepada anaknya. Namun, karena permintaannya tidak dituruti, sang ayah gelap mata dan diduga melakukan penganiayaan kepada putri kandungnya sendiri.

Kejadian itu diketahui saat korban merekam penganiayaan tersebut melalui ponselnya. Videonya pun sempat beredar. Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 44 detik tersebut, jelas memperlihatkan sikap sang ayah. Dari munculnya perkataan kasar, sampai suara kontak fisik yang terdengar seperti sebuah pukulan.

Karena tidak tahan dengan kekerasan yang dialaminya, korban pun melapor ke Polres Jember, Senin (28/6) lalu. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, FA awalnya enggan untuk memberikan informasi. Namun, pada Rabu (30/6) malam, melalui pesan voice note, korban menceritakan kronologis kekerasan yang dialaminya.

BACA JUGA : PPKM Darurat, Tunggu Imbauan Gubernur

“Bapak sudah memukul saya sejak kecil. Bahkan, pemukulan yang dilakukan bapak semakin menjadi ketika Ibu telah meninggal dunia sekitar November 2011 lalu,” terang FA melalui pesan suara.

Korban juga mengisahkan, medio 2010 lalu, saat ibunya masih hidup, dia sering mendapat perlindungan dari ibunya. Kala itu, sang ibu menganggap tindakan kasar bapaknya sebagai bentuk pendidikan terhadap korban atau anaknya. “Tapi setelah ibu meninggal itu, sikap bapak semakin kasar,” sambungnya.

Selama itu, korban mengaku sempat bingung mau mengadu kepada siapa lagi selepas kepergian ibunya. Dari kata-kata kasar, pukulan, dan lainnya, diakuinya sudah kerap dialaminya. Dia hanya memendamnya sendiri, tanpa memiliki keberanian untuk mengadu atau bercerita ke siapa pun.

Selepas lulus SMK, FA diterima bekerja di salah satu kantor notaris sebagai tenaga pembantu. Dari penghasilannya bekerja itu, katanya, digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Termasuk kebutuhan sekolah adik kandungnya yang saat ini duduk di bangku SD. “Alhamdulillah, dari hasil kerja itulah cukup untuk bayar listrik, belanja, sama kebutuhan adik,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seorang perempuan berinisial FA, 20, warga Kecamatan Ambulu, diduga menjadi korban penganiayaan oleh ayah kandungnya sendiri, Slamet, 51. Ini lantaran pemaksaan yang dilakukan saat meminta uang untuk biaya hidup kepada anaknya. Namun, karena permintaannya tidak dituruti, sang ayah gelap mata dan diduga melakukan penganiayaan kepada putri kandungnya sendiri.

Kejadian itu diketahui saat korban merekam penganiayaan tersebut melalui ponselnya. Videonya pun sempat beredar. Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 44 detik tersebut, jelas memperlihatkan sikap sang ayah. Dari munculnya perkataan kasar, sampai suara kontak fisik yang terdengar seperti sebuah pukulan.

Karena tidak tahan dengan kekerasan yang dialaminya, korban pun melapor ke Polres Jember, Senin (28/6) lalu. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, FA awalnya enggan untuk memberikan informasi. Namun, pada Rabu (30/6) malam, melalui pesan voice note, korban menceritakan kronologis kekerasan yang dialaminya.

BACA JUGA : PPKM Darurat, Tunggu Imbauan Gubernur

“Bapak sudah memukul saya sejak kecil. Bahkan, pemukulan yang dilakukan bapak semakin menjadi ketika Ibu telah meninggal dunia sekitar November 2011 lalu,” terang FA melalui pesan suara.

Korban juga mengisahkan, medio 2010 lalu, saat ibunya masih hidup, dia sering mendapat perlindungan dari ibunya. Kala itu, sang ibu menganggap tindakan kasar bapaknya sebagai bentuk pendidikan terhadap korban atau anaknya. “Tapi setelah ibu meninggal itu, sikap bapak semakin kasar,” sambungnya.

Selama itu, korban mengaku sempat bingung mau mengadu kepada siapa lagi selepas kepergian ibunya. Dari kata-kata kasar, pukulan, dan lainnya, diakuinya sudah kerap dialaminya. Dia hanya memendamnya sendiri, tanpa memiliki keberanian untuk mengadu atau bercerita ke siapa pun.

Selepas lulus SMK, FA diterima bekerja di salah satu kantor notaris sebagai tenaga pembantu. Dari penghasilannya bekerja itu, katanya, digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Termasuk kebutuhan sekolah adik kandungnya yang saat ini duduk di bangku SD. “Alhamdulillah, dari hasil kerja itulah cukup untuk bayar listrik, belanja, sama kebutuhan adik,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/