alexametrics
22.6 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Sony Faridayanti, Pegawai yang Banting Setir Bikin Jamu

Mencari pekerjaan di era sekarang gampang-gampang susah. Di tengah roda kehidupan yang terus berputar, perempuan ini justru berhenti dari pekerjaan kantoran dan memilih untuk membuat jamu warisan nenek moyang.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak banyak orang yang mengenal Sony Faridayanti. Perempuan ini adalah pembuat jamu kelahiran Banyuwangi yang kini tinggal di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya Perumahan Pondok, Kecamatan Kaliwates. Dia rela meninggalkan pekerjaan kantoran demi melanjutkan titah perjuangan usaha neneknya, yaitu membuat jamu.

BACA JUGA : Pusat Kantor Pemerintahan Kota Jember Akan Pindah ke Bintoro Patrang?

Yanti mengaku, dia menjadi pegawai kantoran tidak sebentar. Dua puluh lima tahun lamanya. Namun, dia memilih mundur sebagai pegawai bukan untuk menganggur. Melainkan ingin mempertahankan dan mengembangkan usaha yang pernah diperjuangkan oleh neneknya dulu. “Tinggal saya yang bisa melanjutkan,” kata perempuan tiga bersaudara ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dikatakan, dia merupakan sarjana psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag45) Surabaya. Namun, Yanti banyak menghabiskan waktu di dapur membuat jamu yang diolah dari temu lawak. Hasil buatannya kemudian dikemas dalam botol. “Resep olahan jamu itu merupakan warisan, berasal dari leluhur,” terangnya.

Yanti menambahkan, neneknya dulu membuka usaha depot jamu dan bertahun-tahun. Bertahan sekitar 35 tahun. Waktu itu neneknya membuat jamu seduh dan jamu godok bikinan sendiri. “Temu lawak, beras kencur, dan kunir asam,” imbuh perempuan satu anak tersebut.

Perempuan kelahiran 1977 ini menceritakan, resep jamu sang nenek itu kemudian dimodifikasi kembali sehingga terkesan kekinian dan digemari oleh semua usia. Meski tidak memiliki keahlian memproduksi jamu, bukan halangan untuk sukses sebagai wirausahawan minuman jamu, “Empat jam bisa menghasilkan 50 botol,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak banyak orang yang mengenal Sony Faridayanti. Perempuan ini adalah pembuat jamu kelahiran Banyuwangi yang kini tinggal di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya Perumahan Pondok, Kecamatan Kaliwates. Dia rela meninggalkan pekerjaan kantoran demi melanjutkan titah perjuangan usaha neneknya, yaitu membuat jamu.

BACA JUGA : Pusat Kantor Pemerintahan Kota Jember Akan Pindah ke Bintoro Patrang?

Yanti mengaku, dia menjadi pegawai kantoran tidak sebentar. Dua puluh lima tahun lamanya. Namun, dia memilih mundur sebagai pegawai bukan untuk menganggur. Melainkan ingin mempertahankan dan mengembangkan usaha yang pernah diperjuangkan oleh neneknya dulu. “Tinggal saya yang bisa melanjutkan,” kata perempuan tiga bersaudara ini.

Dikatakan, dia merupakan sarjana psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag45) Surabaya. Namun, Yanti banyak menghabiskan waktu di dapur membuat jamu yang diolah dari temu lawak. Hasil buatannya kemudian dikemas dalam botol. “Resep olahan jamu itu merupakan warisan, berasal dari leluhur,” terangnya.

Yanti menambahkan, neneknya dulu membuka usaha depot jamu dan bertahun-tahun. Bertahan sekitar 35 tahun. Waktu itu neneknya membuat jamu seduh dan jamu godok bikinan sendiri. “Temu lawak, beras kencur, dan kunir asam,” imbuh perempuan satu anak tersebut.

Perempuan kelahiran 1977 ini menceritakan, resep jamu sang nenek itu kemudian dimodifikasi kembali sehingga terkesan kekinian dan digemari oleh semua usia. Meski tidak memiliki keahlian memproduksi jamu, bukan halangan untuk sukses sebagai wirausahawan minuman jamu, “Empat jam bisa menghasilkan 50 botol,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak banyak orang yang mengenal Sony Faridayanti. Perempuan ini adalah pembuat jamu kelahiran Banyuwangi yang kini tinggal di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya Perumahan Pondok, Kecamatan Kaliwates. Dia rela meninggalkan pekerjaan kantoran demi melanjutkan titah perjuangan usaha neneknya, yaitu membuat jamu.

BACA JUGA : Pusat Kantor Pemerintahan Kota Jember Akan Pindah ke Bintoro Patrang?

Yanti mengaku, dia menjadi pegawai kantoran tidak sebentar. Dua puluh lima tahun lamanya. Namun, dia memilih mundur sebagai pegawai bukan untuk menganggur. Melainkan ingin mempertahankan dan mengembangkan usaha yang pernah diperjuangkan oleh neneknya dulu. “Tinggal saya yang bisa melanjutkan,” kata perempuan tiga bersaudara ini.

Dikatakan, dia merupakan sarjana psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag45) Surabaya. Namun, Yanti banyak menghabiskan waktu di dapur membuat jamu yang diolah dari temu lawak. Hasil buatannya kemudian dikemas dalam botol. “Resep olahan jamu itu merupakan warisan, berasal dari leluhur,” terangnya.

Yanti menambahkan, neneknya dulu membuka usaha depot jamu dan bertahun-tahun. Bertahan sekitar 35 tahun. Waktu itu neneknya membuat jamu seduh dan jamu godok bikinan sendiri. “Temu lawak, beras kencur, dan kunir asam,” imbuh perempuan satu anak tersebut.

Perempuan kelahiran 1977 ini menceritakan, resep jamu sang nenek itu kemudian dimodifikasi kembali sehingga terkesan kekinian dan digemari oleh semua usia. Meski tidak memiliki keahlian memproduksi jamu, bukan halangan untuk sukses sebagai wirausahawan minuman jamu, “Empat jam bisa menghasilkan 50 botol,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/