22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Ancaman Resesi Jelang Akhir Tahun

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Memasuki akhir tahun 2022, Jember kembali mengalami inflasi sebesar 0,81 persen. Inflasi terjadi karena harga-harga bahan pokok mulai naik kembali menjelang Nataru. Apalagi tren setiap tahunnya selalu mengalami inflasi di akhir tahun.

BACA JUGA : Dugaan Korupsi Dana Porprov 2022, Lima Pimpinan Bank Diperiksa

Dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej), Dr Agus Luthfi, menjelaskan bahwa ancaman resesi pasti ada dengan melihat data tingkat inflasi di Jember, provinsi, hingga nasional. Namun, wilayah Jember masih ditopang oleh sektor pertanian dan menjadi salah satu aset yang dimiliki Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Produk-produk pertanian biasanya tidak kena efek langsung oleh produk-produk luar negeri, sehingga produk pertanian asli dari wilayah Jember,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, inflasi tidak selalu buruk. Jika di suatu wilayah terjadi inflasi, pertumbuhan ekonomi juga naik. Pendapatan para buruh juga akan naik. “Jangan sampai inflasi menjadi salah satu hal buruk bagi wilayah tersebut. Serta diimbangi kerja keras dari pemerintah untuk mengendalikan stabilitas harga-harga,” jelasnya. (nan/c2/bud)

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Memasuki akhir tahun 2022, Jember kembali mengalami inflasi sebesar 0,81 persen. Inflasi terjadi karena harga-harga bahan pokok mulai naik kembali menjelang Nataru. Apalagi tren setiap tahunnya selalu mengalami inflasi di akhir tahun.

BACA JUGA : Dugaan Korupsi Dana Porprov 2022, Lima Pimpinan Bank Diperiksa

Dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej), Dr Agus Luthfi, menjelaskan bahwa ancaman resesi pasti ada dengan melihat data tingkat inflasi di Jember, provinsi, hingga nasional. Namun, wilayah Jember masih ditopang oleh sektor pertanian dan menjadi salah satu aset yang dimiliki Jember.

“Produk-produk pertanian biasanya tidak kena efek langsung oleh produk-produk luar negeri, sehingga produk pertanian asli dari wilayah Jember,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, inflasi tidak selalu buruk. Jika di suatu wilayah terjadi inflasi, pertumbuhan ekonomi juga naik. Pendapatan para buruh juga akan naik. “Jangan sampai inflasi menjadi salah satu hal buruk bagi wilayah tersebut. Serta diimbangi kerja keras dari pemerintah untuk mengendalikan stabilitas harga-harga,” jelasnya. (nan/c2/bud)

SUMBERSARI, Radar Jember – Memasuki akhir tahun 2022, Jember kembali mengalami inflasi sebesar 0,81 persen. Inflasi terjadi karena harga-harga bahan pokok mulai naik kembali menjelang Nataru. Apalagi tren setiap tahunnya selalu mengalami inflasi di akhir tahun.

BACA JUGA : Dugaan Korupsi Dana Porprov 2022, Lima Pimpinan Bank Diperiksa

Dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej), Dr Agus Luthfi, menjelaskan bahwa ancaman resesi pasti ada dengan melihat data tingkat inflasi di Jember, provinsi, hingga nasional. Namun, wilayah Jember masih ditopang oleh sektor pertanian dan menjadi salah satu aset yang dimiliki Jember.

“Produk-produk pertanian biasanya tidak kena efek langsung oleh produk-produk luar negeri, sehingga produk pertanian asli dari wilayah Jember,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, inflasi tidak selalu buruk. Jika di suatu wilayah terjadi inflasi, pertumbuhan ekonomi juga naik. Pendapatan para buruh juga akan naik. “Jangan sampai inflasi menjadi salah satu hal buruk bagi wilayah tersebut. Serta diimbangi kerja keras dari pemerintah untuk mengendalikan stabilitas harga-harga,” jelasnya. (nan/c2/bud)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca