alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Buka Jalan Rezeki dengan Terong

Mobile_AP_Rectangle 1

AMBULU, RADARJEMBER.ID – HARGA produk pertanian sayur-mayur cukup fluktuatif. Misalnya cabai, tomat, atau kubis. Beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya harga biasanya adalah cuaca dan permintaan pasar. Jika cuaca baik dan permintaan pasar tinggi, maka harga bisa melejit. Namun, ketika cuaca tidak bersahabat dan permintaan pasar lesu, maka harga otomatis juga anjlok.

Namun, tak semua jenis tanaman hortikultura bernasib seperti itu. Salah satunya adalah terong. Harga sayuran berwarna ungu ini relatif stabil dan menguntungkan. Oleh karena itu, Suroso, petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, memilih membudidayakan tanaman tersebut karena dinilai lebih tahan kondisi. Termasuk di masa pandemi seperti sekarang ini.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Suroso mengaku, awalnya dia sering mendulang untung ketika menanam brokoli. Menurutnya, brokoli lebih menjanjikan ketimbang cabai dan tomat. Selain harganya stabil, juga tidak banyak petani yang ikut-ikutan menanam sayuran itu. “Dulu cabai mahal, tomat murah. Sekarang sebaliknya. Cabai murah, tomat mahal. Karena memang banyak petani yang ikut-ikutan menanam. Jadi, suplai terhadap pasar terlalu banyak,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengaku, pada awal pandemi tahun lalu banyak komoditas pertanian, termasuk sayur-mayur, yang anjlok akibat pengiriman ke luar kota tersendat. Namun, untuk brokoli tidak terpengaruh karena untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal saja sudah kurang. Hanya, pada tahun lalu dia merugi karena tanaman brokoli banyak yang rusak akibat terlambatnya musim hujan. “Brokoli ini suka dengan air. Kalau tidak turun hujan, maka tidak jadi berbunga dan bisa gagal panen,” terangnya.

Pria yang juga Wakil Ketua Ranting NU Ambulu ini menuturkan, meski tahun kemarin dirinya menanam brokoli, tapi tetap tak meninggalkan terong. Sebab, selain perawatannya yang mudah dan murah, harganya juga relatif stabil. Makanya hingga kini, bersama anggota kelompok taninya, Suroso tidak pernah melepaskan tanaman terong. “Harga per kilogram paling mahal sekitar Rp 12 ribu, pernah juga Rp 2.500 per kilogram,” ucapnya.

- Advertisement -

AMBULU, RADARJEMBER.ID – HARGA produk pertanian sayur-mayur cukup fluktuatif. Misalnya cabai, tomat, atau kubis. Beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya harga biasanya adalah cuaca dan permintaan pasar. Jika cuaca baik dan permintaan pasar tinggi, maka harga bisa melejit. Namun, ketika cuaca tidak bersahabat dan permintaan pasar lesu, maka harga otomatis juga anjlok.

Namun, tak semua jenis tanaman hortikultura bernasib seperti itu. Salah satunya adalah terong. Harga sayuran berwarna ungu ini relatif stabil dan menguntungkan. Oleh karena itu, Suroso, petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, memilih membudidayakan tanaman tersebut karena dinilai lebih tahan kondisi. Termasuk di masa pandemi seperti sekarang ini.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Suroso mengaku, awalnya dia sering mendulang untung ketika menanam brokoli. Menurutnya, brokoli lebih menjanjikan ketimbang cabai dan tomat. Selain harganya stabil, juga tidak banyak petani yang ikut-ikutan menanam sayuran itu. “Dulu cabai mahal, tomat murah. Sekarang sebaliknya. Cabai murah, tomat mahal. Karena memang banyak petani yang ikut-ikutan menanam. Jadi, suplai terhadap pasar terlalu banyak,” tuturnya.

Dia mengaku, pada awal pandemi tahun lalu banyak komoditas pertanian, termasuk sayur-mayur, yang anjlok akibat pengiriman ke luar kota tersendat. Namun, untuk brokoli tidak terpengaruh karena untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal saja sudah kurang. Hanya, pada tahun lalu dia merugi karena tanaman brokoli banyak yang rusak akibat terlambatnya musim hujan. “Brokoli ini suka dengan air. Kalau tidak turun hujan, maka tidak jadi berbunga dan bisa gagal panen,” terangnya.

Pria yang juga Wakil Ketua Ranting NU Ambulu ini menuturkan, meski tahun kemarin dirinya menanam brokoli, tapi tetap tak meninggalkan terong. Sebab, selain perawatannya yang mudah dan murah, harganya juga relatif stabil. Makanya hingga kini, bersama anggota kelompok taninya, Suroso tidak pernah melepaskan tanaman terong. “Harga per kilogram paling mahal sekitar Rp 12 ribu, pernah juga Rp 2.500 per kilogram,” ucapnya.

AMBULU, RADARJEMBER.ID – HARGA produk pertanian sayur-mayur cukup fluktuatif. Misalnya cabai, tomat, atau kubis. Beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya harga biasanya adalah cuaca dan permintaan pasar. Jika cuaca baik dan permintaan pasar tinggi, maka harga bisa melejit. Namun, ketika cuaca tidak bersahabat dan permintaan pasar lesu, maka harga otomatis juga anjlok.

Namun, tak semua jenis tanaman hortikultura bernasib seperti itu. Salah satunya adalah terong. Harga sayuran berwarna ungu ini relatif stabil dan menguntungkan. Oleh karena itu, Suroso, petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, memilih membudidayakan tanaman tersebut karena dinilai lebih tahan kondisi. Termasuk di masa pandemi seperti sekarang ini.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Suroso mengaku, awalnya dia sering mendulang untung ketika menanam brokoli. Menurutnya, brokoli lebih menjanjikan ketimbang cabai dan tomat. Selain harganya stabil, juga tidak banyak petani yang ikut-ikutan menanam sayuran itu. “Dulu cabai mahal, tomat murah. Sekarang sebaliknya. Cabai murah, tomat mahal. Karena memang banyak petani yang ikut-ikutan menanam. Jadi, suplai terhadap pasar terlalu banyak,” tuturnya.

Dia mengaku, pada awal pandemi tahun lalu banyak komoditas pertanian, termasuk sayur-mayur, yang anjlok akibat pengiriman ke luar kota tersendat. Namun, untuk brokoli tidak terpengaruh karena untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal saja sudah kurang. Hanya, pada tahun lalu dia merugi karena tanaman brokoli banyak yang rusak akibat terlambatnya musim hujan. “Brokoli ini suka dengan air. Kalau tidak turun hujan, maka tidak jadi berbunga dan bisa gagal panen,” terangnya.

Pria yang juga Wakil Ketua Ranting NU Ambulu ini menuturkan, meski tahun kemarin dirinya menanam brokoli, tapi tetap tak meninggalkan terong. Sebab, selain perawatannya yang mudah dan murah, harganya juga relatif stabil. Makanya hingga kini, bersama anggota kelompok taninya, Suroso tidak pernah melepaskan tanaman terong. “Harga per kilogram paling mahal sekitar Rp 12 ribu, pernah juga Rp 2.500 per kilogram,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/