alexametrics
27.9 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Kenikmatan Imlek Kue Keranjang dari Tepung Ketan

Mobile_AP_Rectangle 1

“Sebelum terampil membikin kue keranjang ini, saya belajar dari mama. Pertama sulit, karena adonan harus pas antara air dan tepung ketan. Apalagi saat mengaduk adonan terasa berat. Kalau tidak terbiasa, maka tepung ketan dan gula tidak tercampur merata.” imbuh Fen Fen.

Hal itu dibenarkan Miao Mei, pengurus Vihara Jagatnata Maitreya. Ketika sudah dikukus selama tujuh jam, maka dituang dalam cetakan. Setelah dingin dan dilepas dari cetakan, kue keranjang itu ditutup menggunakan plastik berstiker warna merah dan terdapat tulisan huruf Cina.

“Kue keranjang ini memiliki makna tersendiri. Diharapkan kehidupan manusia selalu manis, seperti rasa kue keranjang tersebut. Selain untuk sajian altar, kue ini dimasukkan dalam parcel dan terdapat pula buah-buahan, biskuit, kacang, permen, the, dan air berkah untuk dibagikan kepada umat,” terang Mei.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jurnalis: Winardyasto
Fotografer: Winardyasto
Editor: Nur Hariri

- Advertisement -

“Sebelum terampil membikin kue keranjang ini, saya belajar dari mama. Pertama sulit, karena adonan harus pas antara air dan tepung ketan. Apalagi saat mengaduk adonan terasa berat. Kalau tidak terbiasa, maka tepung ketan dan gula tidak tercampur merata.” imbuh Fen Fen.

Hal itu dibenarkan Miao Mei, pengurus Vihara Jagatnata Maitreya. Ketika sudah dikukus selama tujuh jam, maka dituang dalam cetakan. Setelah dingin dan dilepas dari cetakan, kue keranjang itu ditutup menggunakan plastik berstiker warna merah dan terdapat tulisan huruf Cina.

“Kue keranjang ini memiliki makna tersendiri. Diharapkan kehidupan manusia selalu manis, seperti rasa kue keranjang tersebut. Selain untuk sajian altar, kue ini dimasukkan dalam parcel dan terdapat pula buah-buahan, biskuit, kacang, permen, the, dan air berkah untuk dibagikan kepada umat,” terang Mei.

Jurnalis: Winardyasto
Fotografer: Winardyasto
Editor: Nur Hariri

“Sebelum terampil membikin kue keranjang ini, saya belajar dari mama. Pertama sulit, karena adonan harus pas antara air dan tepung ketan. Apalagi saat mengaduk adonan terasa berat. Kalau tidak terbiasa, maka tepung ketan dan gula tidak tercampur merata.” imbuh Fen Fen.

Hal itu dibenarkan Miao Mei, pengurus Vihara Jagatnata Maitreya. Ketika sudah dikukus selama tujuh jam, maka dituang dalam cetakan. Setelah dingin dan dilepas dari cetakan, kue keranjang itu ditutup menggunakan plastik berstiker warna merah dan terdapat tulisan huruf Cina.

“Kue keranjang ini memiliki makna tersendiri. Diharapkan kehidupan manusia selalu manis, seperti rasa kue keranjang tersebut. Selain untuk sajian altar, kue ini dimasukkan dalam parcel dan terdapat pula buah-buahan, biskuit, kacang, permen, the, dan air berkah untuk dibagikan kepada umat,” terang Mei.

Jurnalis: Winardyasto
Fotografer: Winardyasto
Editor: Nur Hariri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/