Bentrok di Hongkong jalan terus. Kini sudah memasuki bulan ke-7.

Yang menang: Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen.

Gara-gara demo besar di Hongkong itu nama Ing-wen pulih lagi.

Padahal namanyi sudah jatuh habis. Setahun lalu. Partai yang dipimpinnyi kalah total. Di Pilkada serentak tahun lalu. Dia kalah hampir di seluruh Taiwan.

Ing-wen sudah sempat bicara akan mengundurkan diri. Dan tidak akan maju lagi di Pilpres 11 Januari 2020.

Reputasinyi tenggelam oleh Han. Pendatang baru dari Selatan. Dari kota terbesar kedua di Taiwan –Kaoshiung.

“Han adalah kita”.

Itulah kalimat yang banyak diucapkan di Taiwan. Untuk menandai bahwa Han adalah orang biasa. Polos. Bicara apa adanya. Merakyat. Kuat minum arak –seperti umumnya rakyat Taiwan. Pun dengan pakaian seperti karyawan pada umumnya.

Han menjadi media darling.

Yang dipikirkannya adalah perut rakyat –bukan politik. Juga perbaikan lapangan kerja. Ia tidak mau ikut rame-rame anti Tiongkok. Yang hanya menghasilkan kesusahan ekonomi di Taiwan.

Lawan politiknya menganggap Han pro Tiongkok; Pro penyatuan Taiwan-Tiongkok; Pro One Country Two System.

Han sebenarnya tidak begitu-begitu amat. Tapi karena Ing-wen sangat anti Tiongkok maka lawannyi berarti pro Tiongkok.

Politik kadang memang sesederhana itu.

Apalagi kalau itu bisa dipakai untuk senjata memojokkan Han. Di saat Hongkong bergejolak demikian hebatnya. Sentimen anti Tiongkok meluas begitu hebatnya. Di Hongkong. Setidaknya di dalam hati mereka.

Perasaan seperti itu yang merembet ke Taiwan.

Itu yang sangat menguntungkan Ing-wen.

Itu yang membuat Ing-wen unggul lagi dalam survei Pilpres.

Waktunya sudah begitu mepet. Tinggal dua minggu lagi. Sulit bagi Han untuk mengejarnyi. Ing-wen kini sudah unggul 10 persen.

Padahal sebelum ada demo di Hongkong, Han dipastikan terpilih. Ing-wen sudah tertinggal jauh.

Hanya karena sulit cari tokoh di partainyi membuat Ing-wen tidak jadi mundur.

Mungkin juga karena ada janji dukungan penuh dari Amerika. Termasuk bantuan keuangan dan ekonomi yang begitu besar.

Kini tidak ada lagi isu ‘selama pemerintahan Ing-wen ekonomi Taiwan parah’.

Kini pembicaraan ekonomi kalah oleh isu politik –menolak gagasan penyatuan dari Xi Jinping.

Ekonomi selalu dan selalu kalah oleh politik. Di mana pun.

Sejarah terulang di Taiwan.

Bentuk Taiwan yang sekarang dulunya juga ditolak oleh rakyat Taiwan.

Sejarahnya unik.

Tiongkok memang agak kehilangan Taiwan sejak lama.

Tahun 1895 Taiwan sudah di bawah Jepang. Selama 50 tahun. Segala sesuatunya ikut Jepang. Generasi lamanya bisa berbahasa Jepang. Termasuk penasehat bisnis saya.

Ekonomi Taiwan, saat itu, juga sudah baik. Industri gula, tembakau, teh, dan perkebunan lainnya sudah maju.

Memang semua itu dimonopoli Jepang. BUMN Jepang. Hasilnya dikirim ke Jepang. Orang Taiwan hanya jadi buruh. Atau petani. Yang hasil buminya harus dijual ke perusahaan-perusahaan Jepang itu.

Ketika Jepang kalah di Perang Dunia ke-2, Taiwan diserahkan ke Sekutu. Berakhirlah kekuasaan Jepang di Taiwan. Selama 50 tahun.

Sekutu lantas menyerahkan Taiwan ke Republic of China. Dengan status sebuah propinsim dari Tiongkok.