alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Surat Dari Nanjing

Mobile_AP_Rectangle 1

Senyum kami membesar. Mata kami berbinar ketika ketemu dengan orang hebat yang kami kagumi. Bagaimana tidak, dari mahasiswa Indonesia di Nanjing yang kurang lebih 600 orang, hanya 5 orang yang beruntung bisa bertemu dengan beliau dalam jangka waktu kurang lebih 2 jam.

Usai berjabat tangan, berbincang ringan, ternyata beliau sungguh humble. Sebagai orang hebat, betapa rendah hatinya beliau ketika mengobrol.

Saat kami makan bersama, beliau selalu mengingatkan kami memakan sayur dan beliau yang mengambilkan dengan sumpit beliau sendiri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dengan spontanitas ketika dalam pembicaraan.

Beliau bertanya ke kami satu persatu. Seperti sudah kenal. Bahkan seperti antara ayah dan anak. Kami jadi merasa nyaman dengan beliau.

Pak Dahlan bertanya tentang saudara kami dan dari mana kami berasal. Contohnya anak-anak dari Sidoarjo. Yang berjumlah 3 orang. Nita, Dinda, dan Desi.

Ada lagi yang dari kota beliau, Fattya dari Kalimantan Timur. Saya satu-satunya laki-laki yang ikut dalam acara lunch ini.

Oh ya, saya Khairul Anwar. Dipanggil Irul. Lulusan pondok pesantren di Martapura, Darul Hijrah. Fattya dari Sampit.

Saya kaget ketika pak Dahlan bisa bicara bahasa Arab dan saya pun menyambut bahasa beliau. Tak lama, beliau cerita dulu sering ke Sampit.

Beliau bisa bahasa Banjar, maka akhirnya pun saya diajak ngomong panjang lebar bahasa Banjar.

Anak-anak lain ketawa melihat tingkah lucunya pak Dahlan. Saya dan kawan-kawan begitu bangga dengan beliau setelah banyak berbagi pengalaman dalam dua jam ini.

Beliau sempat meminta saya berpuisi di depannya. Dengan tema pertemuan ini. Alhamdulillah, setelah puisi spontanitas itu, beliau dan rekan-rekan lain bertepuk tangan.

Pada akhirnya, waktu memisahkan kami. Sebelum itu, kami berfoto ria, bikin video, dan menyambangi masjid tertua di Tiongkok. Masjid Jingjue Sanshanjie. Tak jauh dari tempat makan tersebut.

Bahagia luar biasa ketika pak Dahlan meminta saya jadi imam salat dzuhur beliau. Orangtua maupun keluarga saya di Indonesia senang sekali mendengar kabar ini.

Hari itu, banyak pengalaman dan pelajaran dari beliau, sampai akhirnya, di depan pintu masjid, kami saling mengucap salam perpisahan. Sedih sebenarnya, ketika bisa bertemu dengan orang yang kita kagumi.

Tapi, ya, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Terima kasih pak Dahlan atas 2 jam yang sangat berharga. Semoga kami bisa menjadi penerus orang hebat seperti Anda.

* Mahasiswa jurusan Bisnis Internasional di Jiangsu Institute of Commerce (JIC)
*
Khairul mampu mengekspresikan pikirannya. Jiwanya. Keinginannya. Dengan runtut.

Ada antusias. Ada logika di dalamnya.
Dia sudah lulus dua penderitaan: kerasnya jadi siswa pondok dan kerasnya hidup di negeri asing.

Dia tinggal perlu lulus satu penderitaan lagi. Dan itulah penderitaan yang sebenarnya: jatuh bangun di awal bisnisnya kelak.(*)

- Advertisement -

Senyum kami membesar. Mata kami berbinar ketika ketemu dengan orang hebat yang kami kagumi. Bagaimana tidak, dari mahasiswa Indonesia di Nanjing yang kurang lebih 600 orang, hanya 5 orang yang beruntung bisa bertemu dengan beliau dalam jangka waktu kurang lebih 2 jam.

Usai berjabat tangan, berbincang ringan, ternyata beliau sungguh humble. Sebagai orang hebat, betapa rendah hatinya beliau ketika mengobrol.

Saat kami makan bersama, beliau selalu mengingatkan kami memakan sayur dan beliau yang mengambilkan dengan sumpit beliau sendiri.

Dengan spontanitas ketika dalam pembicaraan.

Beliau bertanya ke kami satu persatu. Seperti sudah kenal. Bahkan seperti antara ayah dan anak. Kami jadi merasa nyaman dengan beliau.

Pak Dahlan bertanya tentang saudara kami dan dari mana kami berasal. Contohnya anak-anak dari Sidoarjo. Yang berjumlah 3 orang. Nita, Dinda, dan Desi.

Ada lagi yang dari kota beliau, Fattya dari Kalimantan Timur. Saya satu-satunya laki-laki yang ikut dalam acara lunch ini.

Oh ya, saya Khairul Anwar. Dipanggil Irul. Lulusan pondok pesantren di Martapura, Darul Hijrah. Fattya dari Sampit.

Saya kaget ketika pak Dahlan bisa bicara bahasa Arab dan saya pun menyambut bahasa beliau. Tak lama, beliau cerita dulu sering ke Sampit.

Beliau bisa bahasa Banjar, maka akhirnya pun saya diajak ngomong panjang lebar bahasa Banjar.

Anak-anak lain ketawa melihat tingkah lucunya pak Dahlan. Saya dan kawan-kawan begitu bangga dengan beliau setelah banyak berbagi pengalaman dalam dua jam ini.

Beliau sempat meminta saya berpuisi di depannya. Dengan tema pertemuan ini. Alhamdulillah, setelah puisi spontanitas itu, beliau dan rekan-rekan lain bertepuk tangan.

Pada akhirnya, waktu memisahkan kami. Sebelum itu, kami berfoto ria, bikin video, dan menyambangi masjid tertua di Tiongkok. Masjid Jingjue Sanshanjie. Tak jauh dari tempat makan tersebut.

Bahagia luar biasa ketika pak Dahlan meminta saya jadi imam salat dzuhur beliau. Orangtua maupun keluarga saya di Indonesia senang sekali mendengar kabar ini.

Hari itu, banyak pengalaman dan pelajaran dari beliau, sampai akhirnya, di depan pintu masjid, kami saling mengucap salam perpisahan. Sedih sebenarnya, ketika bisa bertemu dengan orang yang kita kagumi.

Tapi, ya, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Terima kasih pak Dahlan atas 2 jam yang sangat berharga. Semoga kami bisa menjadi penerus orang hebat seperti Anda.

* Mahasiswa jurusan Bisnis Internasional di Jiangsu Institute of Commerce (JIC)
*
Khairul mampu mengekspresikan pikirannya. Jiwanya. Keinginannya. Dengan runtut.

Ada antusias. Ada logika di dalamnya.
Dia sudah lulus dua penderitaan: kerasnya jadi siswa pondok dan kerasnya hidup di negeri asing.

Dia tinggal perlu lulus satu penderitaan lagi. Dan itulah penderitaan yang sebenarnya: jatuh bangun di awal bisnisnya kelak.(*)

Senyum kami membesar. Mata kami berbinar ketika ketemu dengan orang hebat yang kami kagumi. Bagaimana tidak, dari mahasiswa Indonesia di Nanjing yang kurang lebih 600 orang, hanya 5 orang yang beruntung bisa bertemu dengan beliau dalam jangka waktu kurang lebih 2 jam.

Usai berjabat tangan, berbincang ringan, ternyata beliau sungguh humble. Sebagai orang hebat, betapa rendah hatinya beliau ketika mengobrol.

Saat kami makan bersama, beliau selalu mengingatkan kami memakan sayur dan beliau yang mengambilkan dengan sumpit beliau sendiri.

Dengan spontanitas ketika dalam pembicaraan.

Beliau bertanya ke kami satu persatu. Seperti sudah kenal. Bahkan seperti antara ayah dan anak. Kami jadi merasa nyaman dengan beliau.

Pak Dahlan bertanya tentang saudara kami dan dari mana kami berasal. Contohnya anak-anak dari Sidoarjo. Yang berjumlah 3 orang. Nita, Dinda, dan Desi.

Ada lagi yang dari kota beliau, Fattya dari Kalimantan Timur. Saya satu-satunya laki-laki yang ikut dalam acara lunch ini.

Oh ya, saya Khairul Anwar. Dipanggil Irul. Lulusan pondok pesantren di Martapura, Darul Hijrah. Fattya dari Sampit.

Saya kaget ketika pak Dahlan bisa bicara bahasa Arab dan saya pun menyambut bahasa beliau. Tak lama, beliau cerita dulu sering ke Sampit.

Beliau bisa bahasa Banjar, maka akhirnya pun saya diajak ngomong panjang lebar bahasa Banjar.

Anak-anak lain ketawa melihat tingkah lucunya pak Dahlan. Saya dan kawan-kawan begitu bangga dengan beliau setelah banyak berbagi pengalaman dalam dua jam ini.

Beliau sempat meminta saya berpuisi di depannya. Dengan tema pertemuan ini. Alhamdulillah, setelah puisi spontanitas itu, beliau dan rekan-rekan lain bertepuk tangan.

Pada akhirnya, waktu memisahkan kami. Sebelum itu, kami berfoto ria, bikin video, dan menyambangi masjid tertua di Tiongkok. Masjid Jingjue Sanshanjie. Tak jauh dari tempat makan tersebut.

Bahagia luar biasa ketika pak Dahlan meminta saya jadi imam salat dzuhur beliau. Orangtua maupun keluarga saya di Indonesia senang sekali mendengar kabar ini.

Hari itu, banyak pengalaman dan pelajaran dari beliau, sampai akhirnya, di depan pintu masjid, kami saling mengucap salam perpisahan. Sedih sebenarnya, ketika bisa bertemu dengan orang yang kita kagumi.

Tapi, ya, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Terima kasih pak Dahlan atas 2 jam yang sangat berharga. Semoga kami bisa menjadi penerus orang hebat seperti Anda.

* Mahasiswa jurusan Bisnis Internasional di Jiangsu Institute of Commerce (JIC)
*
Khairul mampu mengekspresikan pikirannya. Jiwanya. Keinginannya. Dengan runtut.

Ada antusias. Ada logika di dalamnya.
Dia sudah lulus dua penderitaan: kerasnya jadi siswa pondok dan kerasnya hidup di negeri asing.

Dia tinggal perlu lulus satu penderitaan lagi. Dan itulah penderitaan yang sebenarnya: jatuh bangun di awal bisnisnya kelak.(*)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/