alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Surat Dari Nanjing

Mobile_AP_Rectangle 1

Setelah diskusi dengan mahasiswa seperti Khairul Anwar saya kepikiran. Sepanjang malam. Akan jadi apakah anak seperti itu kelak?

Penampilannya sederhana. Tapi begitu bicara terlihat sangat antusias. Matanya berbinar. Jalan pikirannya runtut.
Keinginanya jelas: jadi pengusaha. Dan karena itu memilih kuliah di jurusan bisnis. Di Nanjing, Tiongkok.

Latar belakangnya pondok pesantren: alumni Darul Hijrah Martapura, Kalsel. Bisa bahasa Arab, Inggris dan sekarang bisa Mandarin. Pembawaanya supel. Mudah bergaul. Dia suka menyanyi. Bisa main gitar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mendirikan grup band di negeri orang. Berani tampil di acara-acara kawinan. Di negara yang dulunya dianggap begitu haram.

Sebagai modal hidup sosok seperti itu harusnya cukup. Seperti jadi jaminan masa depannya cerah. Dengan sekolah di pondok pesantren seperti Darul Hijrah pembentukan karakternya kuat: disiplin tinggi, tawadhuk, rendah hati, militan dan peduli akan hal-hal detil. Hal-hal kecil.

Dengan penguasaan tiga bahasa asing jendela dunianya lebar. Apalagi bisa bahasa Mandarin yang begitu sulit. Yang kelak ketika Khairul berumur 32 tahun, Tiongkok sudah jadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Dia tinggal memerlukan satu lagi. Kali ini bukan pendidikan. Tapi pengalaman hidup. Khususnya hidup menderita. Dia baru lulus penderitaan tingkat pertama: disiplinnya hidup di pondok pesantren. Harus bangun malam. Tidur sebentar harus bangun lagi. Sholat subuh. Ketahuan berbahasa Indonesia dihukum. Harus selalu bicara bahasa Arab atau Inggris di lingkungan pondok.

Kini Khairul hidup menderita lagi. Kali ini tidak ada pengurus pondok yang mengawasi. Tidak ada orang tua yang menegur. Semua disiplinnya datang dari dirinya sendiri. Di negara yang sistemnya komunis. Yang bahasanya aneh. Yang makanannya banyak yang dia haramkan. Yang di musim panas paha dan dada wanita berseliweran. Yang pacarnya kirim WA: minta putus. Akan kawin dengan pria lain di kampungnya. Kelamaan menunggu Khairul pulang. Tidak ada pelabuhan Teluk Bayur di Sampit.

Saya berdoa keras mahasiswa seperti dia akan sukses di kehidupannya kelak. Bisa lebih sukses dari laki-laki yang menikahi pacarnya. Atau, seperti yang dia tulis di Facebooknya, lebih sukses dari saya.

Lihatlah tulisannya. Saya kutipkan di bawah ini. Yang dia beri judul “Dua Jam Bersama Dahlan Iskan”. Yang kalimat pertamanya angka-angka:
*

17-04-2018. Ketika kelas sedang berlangsung. Notifikasi grup WeChat saya berdering dengan kalimat, “Bisakah saya dapat nomor mahasiswa Indonesia di Nanjing yang bisa diajak makan, siang ini?”.

Kalimat yang disampaikan Ko (abang) Andre So (Koordinator Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Centre/ITCC) itu, dari Pak Dahlan Iskan.

Tangan saya pun gercep. Gerak cepat. Membuka dan membalas chat beliau tanpa basa basi, “Bisa pak!”

Dan berlangsunglah tukar-menukar nomor hape (handphone). Ditelpon, kemudian janjian dengan pak Dahlan.

Betapa kagetnya teman-teman sesama penerima beasiswa ITCC di Nanjing. Ketika telepon mereka berdering dan di seberang sana yang bersuara adalah pak Dahlan.

Saya, begitu mengagumi beliau. Dari pengalaman, cerita, karya, dan film beliau. Rasa penasaran membuat saya semakin menggebu-gebu ingin bertemu dengan beliau.

Sore itu, akan ada ujian tengah semester. Tapi, dengan keberanian yang kuat, kami meminta izin dengan dosen. Agar dapat ujian susulan. Dan beliau pun menyetujuinya.

Kami menaiki kereta (bawah tanah). Yang biasa dipakai sebagai alat transportasi paling mudah dan murah di Nanjing. Perkiraan 30 menit lebih menuju tempat tujuan. Di Sanshanjie Zhan, tepatnya di 海底捞火锅.

Wajah kami sumringah. Semua. Cengar cengir. Mulai pulang kelas sampai sebelum ketemu beliau. Semua membayangkan dan sangat ingin bertemu dengan beliau.

Dan akhirnya, kami tepat waktu jam 12:58 sampai di tempat beliau dengan janji ketemuan jam 01:00.

- Advertisement -

Setelah diskusi dengan mahasiswa seperti Khairul Anwar saya kepikiran. Sepanjang malam. Akan jadi apakah anak seperti itu kelak?

Penampilannya sederhana. Tapi begitu bicara terlihat sangat antusias. Matanya berbinar. Jalan pikirannya runtut.
Keinginanya jelas: jadi pengusaha. Dan karena itu memilih kuliah di jurusan bisnis. Di Nanjing, Tiongkok.

Latar belakangnya pondok pesantren: alumni Darul Hijrah Martapura, Kalsel. Bisa bahasa Arab, Inggris dan sekarang bisa Mandarin. Pembawaanya supel. Mudah bergaul. Dia suka menyanyi. Bisa main gitar.

Mendirikan grup band di negeri orang. Berani tampil di acara-acara kawinan. Di negara yang dulunya dianggap begitu haram.

Sebagai modal hidup sosok seperti itu harusnya cukup. Seperti jadi jaminan masa depannya cerah. Dengan sekolah di pondok pesantren seperti Darul Hijrah pembentukan karakternya kuat: disiplin tinggi, tawadhuk, rendah hati, militan dan peduli akan hal-hal detil. Hal-hal kecil.

Dengan penguasaan tiga bahasa asing jendela dunianya lebar. Apalagi bisa bahasa Mandarin yang begitu sulit. Yang kelak ketika Khairul berumur 32 tahun, Tiongkok sudah jadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Dia tinggal memerlukan satu lagi. Kali ini bukan pendidikan. Tapi pengalaman hidup. Khususnya hidup menderita. Dia baru lulus penderitaan tingkat pertama: disiplinnya hidup di pondok pesantren. Harus bangun malam. Tidur sebentar harus bangun lagi. Sholat subuh. Ketahuan berbahasa Indonesia dihukum. Harus selalu bicara bahasa Arab atau Inggris di lingkungan pondok.

Kini Khairul hidup menderita lagi. Kali ini tidak ada pengurus pondok yang mengawasi. Tidak ada orang tua yang menegur. Semua disiplinnya datang dari dirinya sendiri. Di negara yang sistemnya komunis. Yang bahasanya aneh. Yang makanannya banyak yang dia haramkan. Yang di musim panas paha dan dada wanita berseliweran. Yang pacarnya kirim WA: minta putus. Akan kawin dengan pria lain di kampungnya. Kelamaan menunggu Khairul pulang. Tidak ada pelabuhan Teluk Bayur di Sampit.

Saya berdoa keras mahasiswa seperti dia akan sukses di kehidupannya kelak. Bisa lebih sukses dari laki-laki yang menikahi pacarnya. Atau, seperti yang dia tulis di Facebooknya, lebih sukses dari saya.

Lihatlah tulisannya. Saya kutipkan di bawah ini. Yang dia beri judul “Dua Jam Bersama Dahlan Iskan”. Yang kalimat pertamanya angka-angka:
*

17-04-2018. Ketika kelas sedang berlangsung. Notifikasi grup WeChat saya berdering dengan kalimat, “Bisakah saya dapat nomor mahasiswa Indonesia di Nanjing yang bisa diajak makan, siang ini?”.

Kalimat yang disampaikan Ko (abang) Andre So (Koordinator Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Centre/ITCC) itu, dari Pak Dahlan Iskan.

Tangan saya pun gercep. Gerak cepat. Membuka dan membalas chat beliau tanpa basa basi, “Bisa pak!”

Dan berlangsunglah tukar-menukar nomor hape (handphone). Ditelpon, kemudian janjian dengan pak Dahlan.

Betapa kagetnya teman-teman sesama penerima beasiswa ITCC di Nanjing. Ketika telepon mereka berdering dan di seberang sana yang bersuara adalah pak Dahlan.

Saya, begitu mengagumi beliau. Dari pengalaman, cerita, karya, dan film beliau. Rasa penasaran membuat saya semakin menggebu-gebu ingin bertemu dengan beliau.

Sore itu, akan ada ujian tengah semester. Tapi, dengan keberanian yang kuat, kami meminta izin dengan dosen. Agar dapat ujian susulan. Dan beliau pun menyetujuinya.

Kami menaiki kereta (bawah tanah). Yang biasa dipakai sebagai alat transportasi paling mudah dan murah di Nanjing. Perkiraan 30 menit lebih menuju tempat tujuan. Di Sanshanjie Zhan, tepatnya di 海底捞火锅.

Wajah kami sumringah. Semua. Cengar cengir. Mulai pulang kelas sampai sebelum ketemu beliau. Semua membayangkan dan sangat ingin bertemu dengan beliau.

Dan akhirnya, kami tepat waktu jam 12:58 sampai di tempat beliau dengan janji ketemuan jam 01:00.

Setelah diskusi dengan mahasiswa seperti Khairul Anwar saya kepikiran. Sepanjang malam. Akan jadi apakah anak seperti itu kelak?

Penampilannya sederhana. Tapi begitu bicara terlihat sangat antusias. Matanya berbinar. Jalan pikirannya runtut.
Keinginanya jelas: jadi pengusaha. Dan karena itu memilih kuliah di jurusan bisnis. Di Nanjing, Tiongkok.

Latar belakangnya pondok pesantren: alumni Darul Hijrah Martapura, Kalsel. Bisa bahasa Arab, Inggris dan sekarang bisa Mandarin. Pembawaanya supel. Mudah bergaul. Dia suka menyanyi. Bisa main gitar.

Mendirikan grup band di negeri orang. Berani tampil di acara-acara kawinan. Di negara yang dulunya dianggap begitu haram.

Sebagai modal hidup sosok seperti itu harusnya cukup. Seperti jadi jaminan masa depannya cerah. Dengan sekolah di pondok pesantren seperti Darul Hijrah pembentukan karakternya kuat: disiplin tinggi, tawadhuk, rendah hati, militan dan peduli akan hal-hal detil. Hal-hal kecil.

Dengan penguasaan tiga bahasa asing jendela dunianya lebar. Apalagi bisa bahasa Mandarin yang begitu sulit. Yang kelak ketika Khairul berumur 32 tahun, Tiongkok sudah jadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Dia tinggal memerlukan satu lagi. Kali ini bukan pendidikan. Tapi pengalaman hidup. Khususnya hidup menderita. Dia baru lulus penderitaan tingkat pertama: disiplinnya hidup di pondok pesantren. Harus bangun malam. Tidur sebentar harus bangun lagi. Sholat subuh. Ketahuan berbahasa Indonesia dihukum. Harus selalu bicara bahasa Arab atau Inggris di lingkungan pondok.

Kini Khairul hidup menderita lagi. Kali ini tidak ada pengurus pondok yang mengawasi. Tidak ada orang tua yang menegur. Semua disiplinnya datang dari dirinya sendiri. Di negara yang sistemnya komunis. Yang bahasanya aneh. Yang makanannya banyak yang dia haramkan. Yang di musim panas paha dan dada wanita berseliweran. Yang pacarnya kirim WA: minta putus. Akan kawin dengan pria lain di kampungnya. Kelamaan menunggu Khairul pulang. Tidak ada pelabuhan Teluk Bayur di Sampit.

Saya berdoa keras mahasiswa seperti dia akan sukses di kehidupannya kelak. Bisa lebih sukses dari laki-laki yang menikahi pacarnya. Atau, seperti yang dia tulis di Facebooknya, lebih sukses dari saya.

Lihatlah tulisannya. Saya kutipkan di bawah ini. Yang dia beri judul “Dua Jam Bersama Dahlan Iskan”. Yang kalimat pertamanya angka-angka:
*

17-04-2018. Ketika kelas sedang berlangsung. Notifikasi grup WeChat saya berdering dengan kalimat, “Bisakah saya dapat nomor mahasiswa Indonesia di Nanjing yang bisa diajak makan, siang ini?”.

Kalimat yang disampaikan Ko (abang) Andre So (Koordinator Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Centre/ITCC) itu, dari Pak Dahlan Iskan.

Tangan saya pun gercep. Gerak cepat. Membuka dan membalas chat beliau tanpa basa basi, “Bisa pak!”

Dan berlangsunglah tukar-menukar nomor hape (handphone). Ditelpon, kemudian janjian dengan pak Dahlan.

Betapa kagetnya teman-teman sesama penerima beasiswa ITCC di Nanjing. Ketika telepon mereka berdering dan di seberang sana yang bersuara adalah pak Dahlan.

Saya, begitu mengagumi beliau. Dari pengalaman, cerita, karya, dan film beliau. Rasa penasaran membuat saya semakin menggebu-gebu ingin bertemu dengan beliau.

Sore itu, akan ada ujian tengah semester. Tapi, dengan keberanian yang kuat, kami meminta izin dengan dosen. Agar dapat ujian susulan. Dan beliau pun menyetujuinya.

Kami menaiki kereta (bawah tanah). Yang biasa dipakai sebagai alat transportasi paling mudah dan murah di Nanjing. Perkiraan 30 menit lebih menuju tempat tujuan. Di Sanshanjie Zhan, tepatnya di 海底捞火锅.

Wajah kami sumringah. Semua. Cengar cengir. Mulai pulang kelas sampai sebelum ketemu beliau. Semua membayangkan dan sangat ingin bertemu dengan beliau.

Dan akhirnya, kami tepat waktu jam 12:58 sampai di tempat beliau dengan janji ketemuan jam 01:00.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/